Oleh Z.M Syafiq
Tidak perlu ribut, tidak perlu gundah-gulana, mari bernyanyi bersama…
Bayangkan tidak ada surga
Imagine there’s no heaven
Ini mudah jika kamu mencoba
It’s easy if you try
Tidak ada neraka di bawah kami
No hell below us
Di atas kita hanya langit
Above us, only sky
Bayangkan semua orang
Imagine all the people
Hidup untuk hari ini, Ah
Livin’ for today, Ah
Bayangkan tidak ada negara
Imagine there’s no countries
Hal ini tidak sulit untuk dilakukan
It isn’t hard to do
Tidak ada yang perlu dibunuh atau diperjuangkan
Nothing to kill or die for
Dan tidak beragama juga
And no religion, too
Bayangkan semua orang
Imagine all the people
Menjalani hidup dengan damai, Anda
Livin’ life in peace, You
Kamu bisa bilang aku pemimpi
You may say I’m a dreamer
Tapi aku bukan satu-satunya
But I’m not the only one
Saya berharap suatu hari nanti anda akan bergabung dengan kami
I hope someday you’ll join us
Dan dunia akan menjadi satu
And the world will be as one
Bayangkan tidak ada harta benda
Imagine no possessions
Saya ingin tahu apakah anda bisa
I wonder if you can
Tidak perlu serakah atau kelaparan
No need for greed or hunger
Persaudaraan manusia
A brotherhood of man
Bayangkan semua orang
Imagine all the people
Berbagi ke seluruh dunia, Anda
Sharing all the world, You
Kamu bisa bilang aku pemimpi
You may say I’m a dreamer
Tapi aku bukan satu-satunya
But I’m not the only one
Saya berharap suatu hari nanti anda akan bergabung dengan kami
I hope someday you’ll join us
Dan dunia akan hidup sebagai satu kesatuan
And the world will live as one
[Imagine, John Lennon 1971.]
Begitu kira-kira saya ingin mendendangkan lagu John Lennon untuk selamanya. Di muka bumi, di kehidupan, dan alam semesta. Seperti layaknya saya sebagai manusia ingin selalu berjoget dengan alunan musiknya, tanpa berkesudahan, tanpa tepi, dan tanpa tiada. Dan begitupun seterusnya, saya sebagai makhluk yang ingin membayangkan terlebih dahulu kasih-sayang, peluk-erat, dan sapa-senyum, Tuhan.
Terkadang menjadi manusia, tidak sepertinya. Seperti apa yang terjadi, manusia seringkali menciptakan segala resah dan rusuh, demi segala keinginannya, demi segala kepentingannya, dan demi golonggannya saja. Begitulah manusia, seonggok daging, berlapis mentega, sok-sok-an ingin menjadi daging wagyu. Namun juga begitupun manusia, dengan prakata kecongkakannya; ‘jadilah sok, supaya menjadi sosok.’
Seringkali untuk hidup pun manusia suka dengan bayang-bayang, bukan bayangan untuk dibayangkan. Namun bayang, yang membayangi, bayangan, bayangkan, membayangkan, pembayangan, terbayang, pembayang, bayang-bayang. Dan pada akhirnya, bayangan hanyalah hal kecil dan akan berlalu, terdapat cahaya dan keindahan tinggi selamanya di luar jangkauannya. Temukan cahaya tersebut, sehinga bayangan itu tak akan menemukanmu. Sedikit untuk makhluk Tuhan… Sekian Terimakasih.









