Tulisan ini merupakan respon terkait argumen Hermanto, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sekarang sedang menggarap skripsi. Respon yang saya tulis ini mengarah pada kesalahan konseptual dalam bangunan epistemik yang berada dalam argumen Hermanto.
Polemik ini dimulai ketika penulis, membuat suatu postingan di Instagram. Postingan tersebut menanyakan moderasi dan sterilisasi kepentingan suatu akun Instagram bernama UIN menggugat. Pasalnya, ada salah satu postingan dalam akun tersebut yang kemudian secara general mempostulasikan di pemilwa 2025 PMII akan curang.
Pertanyaannya, apakah statement demikian boleh? Boleh, itu sah-sah saja, sekali lagi yang menjadi problem adalah atas dasar apa mereka berujar demikian? Atas dasar beban sejarah? Jika iya, dasar itu tidak juga cukup secara ilmiah. Anehnya lagi, tuduhan akun itu hanya mengarah pada satu organisasi kemahasiswaan tertentu, yakni PMII. Dengan ini, tanda tanya besar muncul, mengapa mereka menutup mata untuk menganalisis kecurangan organisasi kemahasiswaan yang lain? Apabila mereka berpendapat bahwa organisasi kemahasiswaan selain PMII tidak mungkin curang, apa alasannya? Atas dasar apa? Sehingga pada posisi ini saya datang mempertanyakan moderasi dan sterilisasi akun UIN menggugat tersebut.
Berselang beberapa waktu, Hermanto datang memberi pendapat. Ia menjelaskan PMII sebagai tesis, kemudian kritik muncul sebagai antitesis yang kemudian akan menciptakan pemahaman baru, Hermanto menyebutnya sintesis. Berikut saya kutipkan penuh argumentasi yang dibawakan oleh Hermanto:
Bro satu ini belum sadar nampaknya. Gini wak, sa tak kasi tipis-tipis. Jadi kata Hegel untuk bisa menjadi sintesis maka perlu tesis dan antitesis. Mengapa banyak akun-akun bodong atau elemen-elemen bersliweran dan tidak habisnya untuk mengkritik PMII, karena PMII telah menjadi status quo yang tidak tertandingi, nah itu disebut sebagai tesis kira kira begitu dulu, kemudian lahirlah para pengkritik (antitesis) untuk menantang ketunggalan itu, disebabkan oleh apa? Oleh inkonsistensi, pembatasan gerak, yang akhirnya mereka ingin menunjukan keberadaan baru atas tesis awal (PMII) yang sudah tidak lagi memadai dan tidak bisa menjadi jawaban dalam kebutuhan mahasiswa.
Terus hasilnya gimana, setelah perhelatan berlangsung, masalah antara tesis dan sintesis itu akan melahirkan sintesis (pemahaman baru). untuk apa? Untuk menancapkan pemahaman atau pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih kaya atas hasil pengintegrasian kebenaran dari dua belah pihak (tesis dan antitesis) atau (PMII atau Pengkritik) yang akhirnya menemukan solusi, baik itu tentang masalah mahasiswa, sedikitnya partisipasi mahasiswa dalam lembaga kampus, dll. Intinya bisa melampaui keterbatasan yang sebelumnya.
Dan mereka adalah lembaga yang telah dicerabut nilainya oleh watak-watak pragmatis dan penuh kecongkakan. dan ini merata, tidak hanya PMII, Semuanya. Sudah tau prakteknya culas, wacananya baru dateng dua bulan sebelum pemilwa, jika benar ingin merubahnya kebusukannya, maka kita harus mengawal dari awal sampai akhir. Bukan sehabis triwulanan. Yah saya tidak akan segan untuk menyebutnya sebagai gerakan rempang. Tesis dan antitesis, sama sama pengemis.
Harusnya, dengan melalui siklus Dialektika yang melibatkan kritik terus-menerus inilah, pengetahuan (PMII) dan kebenaran ilmiah terus berkembang dan semakin matang. Dan PMII matang pulu matang eh, salah, patang patang tok, rak perna dadi puluh. Jadi cuman hanya menjadi angka gak menjadi nilai. Kira-kira begitu.
*di akhir Hermanto mengklarifikasi bahwa ada yang typo. Yang ia maksud bukan tesis dan sintesis, tapi yang benar adalah tesis dan antitesis yang akan melahirkan sintesis. Tapi klarifikasinya itu bagai hembus angin tak berguna, masalahnya bukan ada di sana, tapi di opposing sides dalam Dialektika Hegelian dan category mistake.
Saya menduga, bahwa pada dasarnya, titik berangkat kritik yang ia ajukan itu bukan atas kepedulian moral, dan intelektual. Karena ia menempatkan teori hanya sebagai bumbu estetika, agar kritik yang disampaikannya terlihat gagah perkasa. Akibatnya, tejadilah conceptual confusion.
Jika itu benar terjadi, maka kemungkinan itulah yang menjadi sebab mengapa kritik yang diajukannya kurang kuat secara teoretis. Berusaha tampak terlihat segar ilmu pengetahuan dengan mengutip Hegel, Hermanto menjadikan Dialektika Hegelianisme sebagai instrument atau pisau analisis.
Meluruskan Kekeliruan Metodologis dalam Memahami Dialektika Hegelian
Ia datang di kolom komentar, mengawali kritiknya seperti ingin memvalidasi background akademiknya dengan mengutip salah satu filsuf besar, yakni Hegel. Apakah itu salah? Tidak itu sah-sah saja.
Tetapi, yang menjadi problem adalah bagaimana kemudian Hermanto memahami proses tindak kerja Dialektika Hegelian, tentunya dalam poros topik yang sedang diangkat olehnya. Karena juga perlu ditekankan dan diingat, bahwa Dialektika Hegelianisme ini ia jadikan instrumen dalam kritiknya. Dalam usahanya berujar tentang PMII yang tak berbenah, terlalu lama berkuasa, dan lain sebagainya.
Dalam kritik itu, Hermanto memosisikan PMII sebagai tesis, dan para pengkritik sebagai antitesis yang memiliki konflik. Selanjutnya dengan nada penuh harap, menurut Hermanto, dari terjadinya proses konflik itu akan melahirkan sebuah sintesis yang dipahami sebagai solusi, pemahaman baru, peningkatan partisipasi mahasiswa, serta lembaga yang lebih matang.
Di sanalah posisi penulis bermuara, dengan bersusaha memberi teropong dan pertimbangan argument yang lebih terkoneksi dengan kerangka konseptual yang kokoh dan lebih terjamin secara akademik, yakni pembahasan bagaimana kemudian Dialektika Hegelian harus bekerja sesuai arahnya.
Mari kita luruskan. Apabila kita membaca salah satu artikel dari Stanford Encyclopedia of Philosophy yang berjudul Hegel’s Dialectics, dalam artikel itu tertulis:
“Hegel’s dialectics refers to the particular dialectical method of argument employed by the 19th century German Philosopher, G. W. F. Hegel”
Kesalahan pertama yang dilayakan Hermanto adalah tidak menyadari bahwa Dialektika Hegelian adalah method of argument. Sebuah metode yang digunakan untuk menguji suatu klaim, mengejar implikasinya, serta kemudian mengurai dan menunjukkan bahwa klaim tersebut mengandung kontradiksi internal. Inilah yang kemudian kita kenal dengan negasi imanen. Penting untuk Hermanto dan pembaca lainnya tahu, bahwa Dialektika Hegelian itu bekerja di ranah konseptual.
Namun mirisya Hermanto tidak menegangkan bahwa Dialektika Hegelian itu adalah method of argument, sebagaimana dijelaskan di atas. Maka kemudian jangan heran ketika Hermanto terjebak dalam category mistake, yakni kesalahan meletakkan suatu konseptualisasi. Hermanto mengganti dan mengatributkan basis kerja Dialektika Hegelian yang sebenarnya berada dalam ranah konspeptualisasi, menguji suatu klaim tertentu kepada pemahaman dinamika sosial.
Kesalahan kedua Hermanto yang selanjutnya adalah tidak memahami opposing sides, berikut saya kutip kembali dari artikel sebelumnya:
What the opposing sides are in Hegel’s work depends on the subject matter he discusses.
Sangat tampak, kritik yang diajukan Hermanto itu memiliki celah teoretis. Kendati ia mendaku Hegel sebagai pisau analisis, jatunya bukan seperti pisau tapi lidi analisis, ringkih, dan mudah patah.
Agar pemahaman kita tetap berpegang pada kerangka argument dan konseptual, saya izin menjelaskan, bahwa di dalam Dialektika Hegelianisme penting memahami opposing sides. Dua sisi yang terkandung dalam satu konsep dan gagasan yang saling bertentangan, namun justru karena kebertentangan internal itu proses Dialektika terjadi. Perlu digaris bawahi, bahwa kebertentangan internal itu tercipta karena keretakan internal pada konsepsi imanen yang dianggap sebagai tesis, akibat terjadinya inkonsistensi dalam internal konsep tersebut.
Contoh sederhananya adalah tindak kerja dialektis being-nothing. Yang terjadi dalam proses ini bukan pertikaian struktur sosial sebagaimana stereotipikal yang terjadi akibat kesalahan Hermanto dalam memahami, yang menampakkan Dialektika Hegelianisme dipakai dan terlihat sebagai konflik sosial. Padahal seharusnya pergulatan konseptual, yang kemudian dimaksud dengan sides, bukan pihak sosial. Jadi, Hermanto harus memerhatikan bahwa di dalam Dialektika Hegel, yang saling berlawanan bukan dua atau satu pihak luar.









