Oleh: M. Aqil Diyono*
-Tulisan ini merupakan bahan pantikan atau sanggahan terhadap tulisan yang bertajuk ‘Ihwal Memudarnya Ghiroh Intelektualitas Mahasiswa‘ dalam diksusi bedah esai yang diadakan oleh BSOR Geger Pembebasan-
Siapa yang merasa gelisah jika kita menyadari fakta bahwa mahasiswa kini tidak memiliki kesadaran yang cukup untuk peduli terhadap kondisi ketertindasan yang menimpa masyarakat, dan problem sosial lainnya?
Jawaban penulis, hampir tidak ada. Kalaupun ada, hanya terjadi jika sudah terlanjur datang gelombang demonstrasi besar-besaran, kemudian setelah itu baru kegelisahan muncul dan kita menyadari bahwa fakta tentang mahasiswa yang kini kurang memiliki kesadaran dalam melihat realita sosial. Ini merupakan sebuah masalah penting yang harus dijawab.
Banyak dari organisasi mahasiswa yang memiliki basis gerakan yang mencoba untuk memulai membicarakannya. Sebut saja PMII Rayon Pembebasan yang termasuk struktur terkecil PMII di Cabang Yogyakarta. Organisasi yang berbendera biru-kuning itu sedikit banyak sudah memulai membicarakan bahasan mengenai kurangnya kesadaran mahasiswa terhadap realitas sosial. Bahkan sampai menjadikannya sebuah tema utama dari agenda kaderisasi besarnya dalam setahun.
Penggunaan terminologi “intelektual organik” yang diciptakan oleh Antonio Gramsci, digunakan sebagai salah satu tujuan yang juga berangkat dari kritik atas minimnya kesadaran mahasiswa.
Kita harus melihat dengan lebih teliti apa yang Gramsci terangkan mengenai termonilogi intelektual organik. Gramsci sendiri tidak berusaha untuk sekadar mencoba mendefinisikan ulang hakikat dari termonologi tersebut, tapi definisi itu berasal dari proses penelahan Gramsci terhadap proses lahirnya budaya hegemoni yang tumbuh lewat pengaruh intelektual dari hubungannya dengan kelompok sosial lain. Gramsci membaginya menjadi intelektual organik dan intelektual tradisional. (Patria, 2015: 159)
Intelektual organik merupakan kelompok yang dapat memberikan pengaruh kepada kelompok masyarakat secara kompleks. Tipe intelektual organik mengakui hubungannya dengan kelompok lain dan mempunyai kesadaran atas fungsinya dalam struktur sosial.
Oleh karena itu, intelektual organik merupakan agen yang mempunyai peranan besar atas produksi budaya. Namun, perlu diketahui jenis intelektual ini dapat berasal dari kelompok atau kelas apapun, entah kelas borjuis atau bahkan dari kelas buruh sekalipun.
Intelektual tradisional merupakan intelektual yang melepas dirinya dari kelompok sosial lain, dan melihat dirinya sebagai suatu kelompok yang otonom dan independen. Karena keterpisahannya, intelektual tradisional merupakan agen yang hanya mempertahankan hegemoni, bukan menciptakannya.
Jenis intelektual ini memperkuat pengaruh dari kelompok dominan kepada kelompoknya sendiri. Karena tipe ini tidak punya pengaruh terhadap kelompok sosial lain dan jauh dengan realitas sosialnya. Intelektual tradisional harus memunculkan kesadarannya, kemudian dapat mengambil sikap bergabung dan memihak kepentingan rakyat.
Hegemoni hadir melalui fungsi dari kelompok intelektual ini, dan karenanya hegemoni bisa lahir dari kelas apapun sekalipun itu kelas buruh. Oleh karena itu, intelektual harus dapat mengintegrasikan kepada suatu kelompok, dan membangun sebuah gerakat yang dapat di gunakan untuk menciptakan dan menyebarluaskan budaya yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Mereka harus menggunakan segala alat yang dapat menciptakan budaya baru untuk melawan hegemoni kekuasaan.
Pada dasarnya dengan mengadopsi pemikiran Gramsci sudah merupakan salah satu keputusan yang tepat. Karena salah satu dari faktor penyebab kemunduran kesadaran mahasiswa ialah karena faktor budaya.
Ada suatu hal yang mengatur kehidupan mahasiswa dalam segi kebiasaan, perilaku, sampai kecenderungan minat yang diinginkan oleh mahasiswa. Selaras dengan apa yang telah Gramsci terangkan dalam teori hegemoni, yang melihat bagaimana budaya dapat mendominasi dan mengkonstruksi masyarakat, sehingga masih sangat relevan dengan kondisi kita sekarang.
Sebagai seorang Marxis, analisis Gramsci berawal dari fokus utamanya untuk mengetahui bagaimana sebuah kekuasaan borjuis di negara industri maju mampu mempertahankan kekuasaannya di tengah gelombang revolusi kaum buruh, yang ternyata disebabkan oleh faktor dominasi budaya, yang berasal dari suprastruktur ideologi seperti negara melalui kepemimpinannya. (Patria, 2015: 115).
Analisis ini yang menjadi salah satu landasan kritik Gramsci terhadap determinisme ekonomi Marx, bahwa basis ekonomi merupakan faktor utama yang membentuk masyarakat sedangkan suprastruktur merupakan ekspresi dari kelas dominan dalam lingkaran hubungan produksi yaitu kaum borjuis. Gramsci mengatakan aspek suprastruktur merupakan salah satu hal penting yang dapat mengontrol masyarakat, sehingga tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan satu sama lain. (Ritzer,2004: 100)
Negara sebagai penguasa dapat menggunakan seluruh fasilitas yang dimiliki untuk menciptakan masyarakat yang mereka inginkan. Cara ini bekerja dengan memasukan gagasan yang berasal dari kepentingan kelompok kelas tertentu kedalam unsur-unsur pembentuk kebudayaan seperti pengetahuan dan kesenian.
Jadi, pada dasarnya hegemoni adalah suatu upaya untuk menggiring masyarakat agar dapat menilai sesuatu hal yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penguasa, dan menggiring masyarakat untuk memiliki cara berfikir tertentu yang juga sesuai dengan yang diinginkan oleh penguasa.
Karena masyrakat telah diarahakan untuk berfikir dan menilai sesuai dengan yang diinginkan oleh penguasa, akhirnya segala sesuatu yang berasal dari kekuasaan baik atau buruk sifatnya akan diterima dan dianggap sebagai suatu hal yang normal oleh masyarakat.
Meskipun demikian, inisiatif yang dilakukan untuk melakukan kritik terhadap gerakan merupakan sesuatu hal yang harus di apresiasi. Karena paling tidak kegelisahan yang ada dalam diri kita semakin menguat, dan kita juga sudah mulai mengimajinasikan sebuah model alternatif melalui kritik-kritik yang telah dilontarkan.
Melihat juga gerakan PMII mulai dari struktur tertinggi seperti Pengurus Besar sampai ditingkatan Rayon yang tidak memiliki perubahan dari tahun ke tahun. Dengan berupaya untuk menduduki atau menguasai struktur yang di kuasai kekuasaan, baik melalui aksi langsung/jalanan maupun dengan menggunakan jalur birokratis. Sehingga dapat terlibat langsung dalam penyusunan atau hanya sekadar mengkoreksi kebijakan-kebijakan penguasa yang diangap tidak berpihak kepada rakyat.
Walaupun apa yang telah saya sebutkan diatas mengenai corak-corak gerakan PMII tentu saja masih perlu dipertanyakan kembali. Karena PMII sendiri telah mengalami regresi gerakan, ditandakan dengan sedikitnya keterlibatan PMII dalam gerakan yang mengawal permasalahan sosial, dan cenderung eksklusif dengan menolak untuk beraliansi dengan masyarakat sehingga semakin tidak jelas tujuannya.
Sebagai organisasi gerakan mahasiswa PMII justru semakin dekat dengan pusat kekuasaan dan pusat dimana kucuran modal mengalir, menjadi agen intelektual yang menggunakan fungsinya untuk terus mempertahankan hegemoni penguasa dengan memproduksi wacana-wacana yang berasal dari gagasan kepentingan pemerintah yang memiliki relasi dengan pemilik modal.
Melihat kondisi organisasi gerakan yang semakin tidak sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi sebuah tujuan awal perjuangan telah dibangun dari awal, menyebabkan kita terhimpit dalam bentuk optimisme yang utopis. Bagi orang-orang yang masih menginginkan kemurnian gerakan yang memiliki keberpihakan jelas, ironi dalam organisasi gerakan mahasiswa terkadang menimbulkan tawa. Padahal ia merupakan salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengaktualisasi gagasan-gagasan yang bersifat kontra-hegemoni.
Ilustrasi: google
)* Mahasiswa jurusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga, kader PMII Rayon Pembebasan









