Beranda / Esai / Opini / Ihwal Memudarnya Ghiroh Intelektualitas Mahasiswa

Ihwal Memudarnya Ghiroh Intelektualitas Mahasiswa

mahasiswa

Setelah sekian mini waktu menyandang status mahasiswa beserta segala macam persoalan kampus, kemudian mulai mencoba berdiaspora dalam domain organisasi kemahasiswaan baik internal maupun eksternal. Dapat disadari betul elan vital mahasiswa bagi peradaban bangsa dan negara.

Kiranya benar kata orang-orang bahwa kemajuan suatu bangsa berada di tangan pemuda dan mahasiswa. Para founding fathers bangsa Indonesia dan semua public heroes kita, berasal dari kelompok intelektual. Mereka adalah sekumpulan orang-orang terpelajar yang rela menumbalkan dirinya pada tanah air.

Namun hari ini, kaum intelektual terpelajar seakan mengkhianati perjuangan para pahlawan dan syuhada dalam memerdekakan negeri tercinta ini. Sekarang, mahasiswa mengalami semacam degradasi kesadaran yang membuat dirinya tak sadar akan tanggung jawab besarnya sebagai seorang terpelajar. Degradasi tersebut lalu berimplikasi pada menurunnya daya intelektualitas mahasiswa yang seharusnya menjadi jantung dalam membawa perubahan di segala lini kehidupan.

Barang tentu terdapat banyak kompleksitas faktor yang membuat mahasiswa terdegradasi kesadarannya. Satu yang terpenting dan nampak tak begitu disadari oleh banyak orang adalah perihal proses dekonstruksi rezim penguasa terhadap lembaga-lembaga pendidikan. Rezim penguasa dengan seabrek kepentingan politiknya berusaha memelintir dan menekan lembaga pendidikan untuk memangkas atau bahkan membungkam sikap kritis mahasiswa agar tidak melawan sang pengampu kebijakan (baca; pemerintah).

Di samping itu, pemerintah dengan alibi pembangunannya berupaya mengkonstruksi lembaga-lembaga pendidikan, terkhusus pendidikan menengah dan universitas agar mampu mencetak lulusan-lulusan yang siap pakai untuk kemudian bisa survive menjadi antek-antek industrial.

Dalam pandangan pemerintah, pendidikan tidak lebih hanya sebatas mesin pencetak para buruh industri saja. Pelajar dan mahasiswa yang saat ini sedang mempelajari lembaran diktat-diktat sakral yang diberikan oleh guru dan dosennya, pada akhirnya akan menjadi calon pekerja yang setiap harinya resah dan khawatir sebab tidak kunjung datang info loker pada dirinya.

Didukung dengan sikap apatis mahasiswanya sendiri, perilaku hedonisme akut, serta status mahasiswa yang hanya sebagai bahan keangkuhannya saja, menjadikan pola pikir mereka sungguh sebatas euforia belaka. Pikirannya terfragmentasi oleh berbagai kemewahan sandang, pangan dan papan.

Pragmatisme cara pandang membuat mahasiswa enggan berlelah payah dalam memenuhi kewajiban sebagai seorang intelektual. Watak egois dan sektarianisme begitu mandarah daging dalam diri mahasiswa saat ini. Apalagi dengan mengguritanya seperangkat gawai, sosial media, game online dan lain semacamnya yang kemudian membuat rata-rata waktu mahasiswa terbuang dzolim karenanya.

Atas dasar berbagai problema yang telah disebutkan diatas, menyebabkan ganjil sekali ditemukannya kelompok mahasiswa yang kritis-transformatif, cerdas, berintegritas, yang rela menumbalkan dirinya pada realitas kehidupan yang sanggup menjadi martir revolusi sosial seperti yang diamanatkan para pahlawan, para syuhada dan alim ulama. Sangat minim sekali berjumpa dengan mahasiswa yang memiliki pengetahuan tinggi, berdedikasi dan mengamalkan segala keilmuannya pada masyarakat luas.

Alih-alih demikian, saat ini justru jamak ditemui mahasiswa bebal dan dungu, mendaku dirinya paling hebat diantara semuanya, mendakwa bahwa dirinya merasa membawa pengaruh pada yang lain, merasa dirinya paling pantas menduduki posisi strategis di segala bidang, padahal kesemua-muanya adalah bentuk pembodohan diri paling disengaja.

Apakah mungkin mahasiswa dungu dengan segudang pembodohan dalam dirinya semacam tadi mampu menjadi penerus estafet para pahlawan, para syuhada dan para alim ulama? Lantas, idealitas seperti apa yang harus ditanamkan pada diri seorang intelektual?

Dalam hal ini, saya pribadi mengamini buah pikiran dari kedua orang tokoh besar pada masanya, yaitu; Edward W. Said dan Antonio Gramsci. Walaupun keduanya memiliki latar belakang pemikiran dan perjuangan yang berbeda, tetapi gagasannya begitu berarti bagi semua kalangan akademisi, intelektualis, aktivis, dan lain lain.

Edward W. Said adalah seorang pemikir intelektual dan filsuf terkemuka abad ke-20 berkebangsaan Palestina, menurutnya kaum intelektual adalah mereka yang tidak hanya berdiam diri di menara gading saja, akan tetapi juga terlibat langsung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kaum intelektual tidak membiarkan kebenaran diselewengkan dengan dalih apapun ataupun dengan intervensi siapapun. Bagi Edward, kaum intelektual tidak bebas nilai atau netral. Mereka senantiasa berpihak pada sekelompok masyarakat yang tertindas. Sebaliknya, ketidakberpihakan adalah angan-angan semu, onani intelektual.

Begitupula dengan Antonio Gramsci yang menjadi tokoh kaliber bagi para pemikir Marxis. Dia menghendaki kalangan terpelajar, utamanya mahasiswa memiliki ghiroh intelektual organik, hematnya kaum intelektual yang tidak hanya berkelu-kelindan dalam ranah teori saja, akan tetapi mampu menghubungkan antara teori dengan realitas sosial yang ada.

Sejalan dengan apa yang disinggung diatas, seorang intelektual organik ialah mereka yang sadar dan rela menumbalkan jiwa dan raganya pada realitas sosial, seseorang yang mampu menjadi para martir revolusi sosial.

Dengan begitu, segudang pemikiran mahasiswa harus melampaui batas-batas diktat usang yang diberikan dosen kepadanya. Tak layak jika seorang intelektual menuntut menara gading atas ilmu yang penting bagi masyarakat luas.

Jangan membebani kampus dengan ambisimu. Kampus hanya menginginkanmu tekun, memperoleh nilai diatas rata-rata, mengerjakan dengan tepat waktu seabrek tugas yang membosankan, berprestasi, lalu kemudian lulus dengan cepat. Atau yang lebih parahnya lagi, kampus tidak menghendaki itu semua, yang mereka hendaki adalah iuran semestermu yang besaran nominalnya tak terkira.

Seorang intelektual akan sadar dengan posisinya di dunia ini yang lalu mampu berlaku kritis-transformatif dengan berbagai macam pembodohan sistemik yang membudaya. Mereka senantiasa tangguh dan menguatkan diri dengan menempati ruang mediasi intelektual apapun bentuknya; membaca, diskusi, menulis, aksi, refleksi dan segala macam gairah produktif lainnya. Mereka menolak apatisme terhadap realitas sosial masyarakat, mereka selalu andil dimanapun tempatnya, apapun bentuk aksinya, bagaimanapun keadaannya.

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *