Oleh: Z. M. Syafiq*
“Intelektual Organik: orang yang mampu mengaplikasikan intelektualnya secara komunal kepada masyarakat.” -Antonio Gramsci-
Dari segi linguistik, makna dari intelektual adalah kemampuan berfikir yang tinggi dengan kejernihan berdasarkan ilmu pengetahuan. Sinonim dari makna tersebut yakni cendekia.
Namun di sini penulis ingin lebih memberi penjelasan dan paradigma dari akar hingga menjadi sebuah batang pemahaman. Jadi, perlu membedakan lebih dulu apa itu makna dari pintar, cerdas, intelek dan juga bijaksana.
Pertama, pintar ialah daya ingatan kuat terhadap ajaran ilmu pengetahuan yang pernah diperoleh. Kedua, cerdas ialah daya penalaran panjang akan ilmu pengetahuan tersebut. Ketiga, intelek adalah daya kesadaran dan penalaran sebab perhatiannya terhadap realitas dan wawasan luas ilmu pengetahuan. Keempat, bijaksana merupakan sebuah kesadaran, perhatian, dan penyikapan terhadap keadaan realitas dengan memperalat ilmu pengetahuan sebagai landasan terbaiknya.
Dari keempat definisi tersebut menyiratkan bahwa kata ‘bijaksana’ memiliki kedudukan tertinggi dari makna intelek, cendekia, dan juga pintar. Oleh sebab itu, seorang filsuf Italia sekaligus teoritikus politik, Antonio Gramsci, menjadikan kata ‘bijaksana’ sebagai keabsahan makna dari ‘intelektual organik’ yang telah digagasnya.
Adapun intelektual organik dapat dimaknai sebagai seseorang yang melakukan sebuah kesadaran, perhatian, dan penyikapan terhadap keadaan realitas dengan memperalat kejernihan ilmu pengetahuan sebagai landasan pergerakan secara komunal di masyarakat.
Dari hal tersebut agaknya lebih baik lagi ditekankan bagaimana untuk mengaplikasikan secara murni gerakan intelektual organik itu. Saya menemukan sebuah ungkapan dari vokalis band Nirvana Kurt Cobain.
Dalam kisahnya, vokalis tersebut mendapatkan sebuah problem yang sangat mengganggu di pikirannya sebab si istri Courntey Love dengan kecemburuan yang meronta-ronta telah menstereotip Kurt Cobain dengan tuduhan perselingkuhan dengan para fans beratnya.
Namun secara realitas, Kurt Cobain sama sekali tidak berselingkuh dengan mereka. Sebab, perlu diketahui juga bahwa Kurt adalah sosok musisi legendaris dengan beberapa lagu yang sangat setia dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya dengan desakan kecemburuan Courtney Love, Kurt melarikan diri dan diam di sebuah rumah kosong peninggalan sang ibunda Wendy Cobain. Ia pun lalu melakukan bunuh diri dengan cara menelan obat-obatan terlarang dengan dosis yang tinggi. Sebelum kematian menjemput, ia sempat menuliskan pesan di kertas rokoknya:
“Bahwasanya kita tidak mempunyai hak untuk berpendapat, terkecuali kita telah mengetahui seluruh isi jawabannya.”
Dari sekelumit kisah itu kita sadar, bahwa tuduhan yang dilakukan oleh si istri tidak berdasar. Perkataan yang sebenarnya sepele malah semakin menjerumuskan Kurt Cobain merenggut kematian. Padahal, jika ia dapat menyikapi secara bijak praduganya terhadap Kurt Cobain, maka si vokalis itu barangkali akan selamat dan dapat menjalani hidup dengan penuh tenteram.
Pun dengan Kurt Cobain yang berwatak gegabah, tidak berpikir panjang, serta mudah putus asa dalam menghadapi tuduhan istrinya. Watak-watak ini telah mengantarkan seabrek prestasinya ditelan bumi. Ia menderita psikologis yang berakhir dengan maut.
Sebenarnya, dengan berpikir matang, bijak, masalah asmara kedua orang tersebut dapat dihindari. Tidak akan berbuah malapetaka.
Contoh ini hanya terjadi dalam lingkup percintaan dua manusia yang notabenenya dalam lingkup yang kecil, lalu bagaimana dengan kehidupan masyarakat yang lebih kompleks? Kehidupan berbangsa bernegara yang sedemikian rupa rumitnya?
Intelektual organik menempatkan kebijaksanaan sebagai tumpuan dalam pemecahan masalah. Berpikir kritis, mencari jalan terbaik, serta selalu mengutamakan sisi-sisi kemanusiaan dan kemaslahatan umat.
Bisa dibayangkan, jika dalam sebuah masyarakat atau rakyat terdapat golongan mayoritas yang memiliki jiwa-jiwa intelektual organik, maka problem-problem yang muncul dapat teratasi dengan baik.
Tidak akan ada sampah masyarakat, korupsi tidak bisa diberantas, atau bahkan segala keburukan akan lekas diubah menjadi kebaikan. Sehingga yang ada dalam masyarakat tersebut adalah pembenahan, pembenahan, dan pembenahan. Bukan malah perusakan dan perpecahan.
Seperti halnya perkataan KH. Abdul Hamid Wahid:
“Dua pilihan dalam kehidupan ini, berani atau ikhlas. Jika tidak berani, maka harus ikhlas menjalaninya. Jika tidak ikhlas, maka harus berani melakukan perubahan.”
Ilustrasi: google
*) Kader PMII Rayon Pembebasan, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga









