Beranda / Esai / Opini / PMII, Mahasiswa, dan Kader Inti Ideologis

PMII, Mahasiswa, dan Kader Inti Ideologis

PMII

Peran mahasiswa sedari dulu begitu sangat berpengaruh dalam perkembangan bangsa dan negara. Kita bisa katakan bahwa tanpa mahasiswa, nasib kesejahteraan bangsa dan negara takkan bisa tercapai walau masih jauh dari kesempurnaan.

Vitalnya peran mahasiswa bergantung pada ghiroh mereka dalam komitmen intelektualitasnya. Sedari dulu, mahasiswa sudah memiliki daya intelektualitas yang kuat, spirit berorganisasi, mempunyai kesadaran kritis dan komunal, semangat berkorban dan lain lain.

Namun mirisnya, saat ini mahasiswa terserang akutnya penyakit dalam kesadaran intelektual: jumudisme, kemalasan, tidak memiliki jiwa integritas, konsumerisme, hedonisme dan lain lain.

Mahasiswa terlalu dimanjakan dengan hal-hal yang jauh dari laku spirit intelektualitasnya dan terlalu dinina-bobokan oleh seperangkat suasana yang kontra- produktif. Sehingga mahasiswa saat ini kehilangan komitmen intelektualitasnya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, mahasiswa dalam ekosistem kampus saat ini dipenuhi dengan keangkuhan semu seolah dirinya adalah yang paling hebat diantara semua manusia lain. Dengan hanya diterima di kampus bergengsi dengan pelbagai ambisinya, mereka secara tak sadar dengan sononohnya bercakap bahwa tiada yang lebih hebat selain daripada aku.

Status mahasiswa hanya difungsikan sebagai alat kepongahan fasiknya. Dan masih banyak penyakit mahasiswa lainnya. Padahal, begitu banyak tanggung jawab yang harus mereka emban dengan  statusnya sebagai mahasiswa.

Dalam hal ini, PMII menjadi salah satu wahana di garda terdepan untuk mengobati akutnya penyakit di setiap mahasiswa tersebut. Semangat juang PMII tidak hanya bergerak dalam bidang intelektualitas dan spiritualitas belaka, akan tetapi semangat geraknya melindungi kaum-kaum yang tertindas.

Nilai-nilai yang diperjuangkan oleh PMII sebegitu pentingnya dalam peranan mahasiswa di tengah masyarakat. Tentunya mau tidak mau kader PMII dituntut untuk mempunyai keelokan pikiran, kesadaran kritis, komitmen integritas, menolak segala macam laku kontra-produktif, jumudisme dan lain lain.

Ini bukan hanya sebatas menjadi kader PMII saja, mengikuti beragam macam kaderisasi, memakai jas biru mengibarkan bendera kuning, kumpul ngopi dengan kader lain, lalu selesai sebagaimana alurnya.

Kader PMII sudah sepatutnya mempunyai kesadaran kritis yang kuat, terbentuknya konstruksi kesadaran baru bahwa kader PMII bukan hanya sekedar memakai simbol-simbol yang melekat di dalam diri.

Akan tetapi, kesadaran PMII adalah kesadaran ideologis, bahwa kader PMII sudah sepatutnya membawa values dan nilai-nilai yang mesti dijaga dan disyiarkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Sehingga tercipta kader inti yang ideologis sebagai manifestasi komitmen intelektualitas mahasiswa.

Manakala jiwa kader inti ideologis telah tertanam dalam hati setiap kader, mereka pasti memiliki integritas yang berbeda, mereka memiliki visi yang kokoh, organisasi mereka anggap sebagai laku hidup prioritas. Pola kaderisasi formal baginya hanya sebagai pengantar saja, selebihnya mereka eksplor habis-habisan semua yang mereka dapati dan pahami kala proses kaderisasi tersebut berlangsung.

Jiwa sosialnya sangat begitu empatif dan emansipatoris kepada semua kawannya, sahabatnya, keluarganya, setiap lapisan masyarakat, apalagi kepada masyarakat-masyarakat yang tertindas. Proses dialektika berpikirnya sangat begitu kritis, dinamis dan transformatif. Begitulah setidaknya karakter seorang kader inti ideologis.

Intelektualitas mahasiswa bisa termanifestasi jika mahasiswa mempunyai konstruksi kesadaran sebagai kader inti ideologis. Jika lapisan mahasiswa di negeri ini mampu mengejawantahkan sikap semacam itu, purnalah sudah statusnya sebagai mahasiswa yang cerdas berintelektual.

Walau bagaimanapun intelektualitas harus dipertanggungjawabkan. Seorang guru pernah menyampaikan pesan; “Mental, intelektual dan spiritual harus dipersiapkan, karena amanah datang begitu cepat”.

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *