Lingkar diskusi dalam forum-forum PMII seakan dapat merubah atmosfer, seolah bumi menjadi berkabut selaras dengan durasi diskusi. Tolah-toleh di tengah diskusi bukanlah rahasia umum lagi ketika dua jari tak menggepit tembakau berbalut paper.
Seolah tembakau adalah bestie bagi para sahabat dan bahkan beberapa sahabati. “Mana nih… otak kita gak jalan kalo gk ada rokoknya…” begitulah guyonan familiar dari sahabat-sahabat sebelum memulai diskusinya jika batangan tembakau unavailable di depannya.
Saya teringat ketika kami semua terdiam saat mencapai kebuntuan dalam sebuah diskusi, lantas salah satu kawan nyeletuk, “Bentar, bentar. Ngudud dulu lah…” suasana pun menjadi cair, dan beberapa batang rokok ditarik satu-persatu dari wadahnya, seakan rokok adalah jalan keluar untuk kesuntukan.
Perasaan tenang, relaks, dan feel good memang benar dirasakan oleh seseorang ketika ia sedang menghisap rokok. Hal tersebut alami disebabkan oleh zat nikotin yang ada dalam 5% per 100 gram tembakau.
Nikotin sangat cepat menyebar ke saraf-saraf, nikotin butuh 15 detik dari hisapan pertama untuk sampai dan bereaksi pada otak, sehingga efek feel good bisa langsung dirasakan oleh sahabat-sahabat.
Namun perlu diketahui bahwa nikotin termasuk zat aditif yang berpotensi candu. Hal ini disebabkan karena nikotin sifatnya memberikan perasaan relaks pada otak dalam durasi tertentu atau saat kadar nikotin tersebut masih ada (sementara).
Sehingga ketika zat tersebut tidak lagi ditemui, spontan otak akan mencarinya. Wajar saja, sama halnya ketika seseorang menemukan sesuatu yang nyaman, ia akan merindukan dan merasa butuh kehadirannya.
Dahulu tembakau dikonsumsi oleh masyarakat pedalaman Amerika dengan cara dikunyah, digunakan untuk insektisida dan aromatherapy. Bahkan cara tersebut masih digunakan di daerah penulis tinggal, yakni Kab. Jember. Terdapat beberapa kakek dan nenek yang masih mengunyah tembakau dicampur dengan sirih atau dikenal dengan istilah susur atau nginang.
Tembakau dapat membunuh bakteri dalam mulut, sehingga walaupun merubah warna gigi kakek tersebut, gigi tetap terjaga, karena tembakau sebagai insektisida sekaligus aromateraphy bagi para penginang.
Menurut dokter Ryu Hasan, setiap zat aditif seperti heroin, kokain, alcohol, dan nikotin memiliki dosis manfaat/aman. Namun perlu dicamkan bahwa zat aditif sangat berpotensi candu, sebagaimana nikotin yang berada dalam urutan ke-3. Sehingga perlu adanya upaya untuk membatasi.
Karena sifat nikotin itu menenangkan secara sementara, sehingga ketika zat tersebut tidak lagi beredar di otak maka otomatis otak akan mencarinya dan menimbulkan efek cemas, temperamen dan terkadang susah tidur. Jika ia menuruti dan terus membakar maka dosis nikotin akan melebihi dosis manfaat tersebut. Dan dalam beberapa waktu jumlah batang yang dibakar akan meningkat yang lalu akan naik ke level candu.
Cara kerja nikotin itu seperti DP yang digunakan oleh tentara NAZI saat perang dunia ke-2, zat tersebut meningkatkan stamina, tentara NAZI seakan tidak memiliki capek sehingga ditakuti oleh tantara sekutu. Adapun nikotin memberikan efek rileks dan tenang. Namun perlu digaris bawahi bahwa zat-zat tersebut bukanlah nutrisi. Nutrisi baik dikonsumsi terus menerus, adapun zat-zat tersebut adalah obat yang digunakan di waktu tertentu saja dan dengan dosis tertentu.
Faktanya tembakau saat ini seakan menjadi nutrisi yang dihisap setiap saat. Sehingga potensi kecanduan sangat tinggi. Menurut dokter Ryu Hasan, kecanduan adalah saat seseorang terpacu untuk terus menerus mengkonsumsi hingga ia mengabaikan hal-hal pribadinya. Saat nikotin bereaksi, efek lainnya dapat mengecilkan pembuluh nadi sementara waktu, jika penyempitan itu terus-menerus dan berkala, tentu akan memiliki efek yang buruk pada kesehatan.
Kadar nikotin yang berlebih akan membuat jantung terasa berdebar-debar, dan tremor. Sehingga usaha untuk membatasi sangatlah penting. Selain untuk kesehatan pribadi, begitu juga untuk kesehatan orang lain yang ada di sekitar rokok tersebut.
Namun tak terpungkiri, memang nikotin berefek pada kinerja otak agar rileks yang lalu menyebabkan seseorang untuk merasa berpikir ‘lebih kritis’. Sehingga celetukan-celetukan sahabat-sahabat pada paragraf di atas sangatlah wajar dan benar adanya. Forum berfikir akan terasa kurang tanpa adanya rokok.
Ilustrasi: google









