Beranda / Resensi / Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (1)

Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (1)

perempuan

Oleh: Rara Zahraa*

~Tulisan ini dibuat untuk diskusi pada Jamaah rasan-rasan FNKSDA DIY~

 

Tulisan ini ingin dengan melihat ulang bagaimana dan apa saja penindasan yang meninbun perempuan di bawah sistem besar dan rumit bernama kapitalisme. Dalam catatan ini tentu semuanya menggunakan kaca mata Vandana Shiva —scholar cum feminis— dalam melihat struktur rangkaian kapitalisme yang berkawin silang dengan patriarki sehingga perempuan mengalami pen-reduksi-an hubungan selaras antara perempuan dengan alam.

Pembangunan telah menjadi madzhab atas upaya menjajah dengan panduan kapitalisme turut menjadi akar dari ketersingkiran perempuan. Sedangkan istilah timbunan derita ini, sebenarnya menyitir catatan yang pernah didiskusikan sebelumnya tentang gambaran tumpukan derita akibat krisis sosial ekologis di Semarang ‘Coret’.

Timbunan derita ini merupakan kait berpilinnya manusia  dan non manusia akibat dari ekspansi kapitalisme. Dalam hal ini, pembangunan di bawah ekonomi kapitalisme menjadi penindasan model terkini yang punya kait kelindan dengan krisis dan penindasan pada perempuan dan alam. Catatan ini juga memberi peringatan, mengingat bagaimana perempuan begitu majemuk dan tidak tunggal, bahwa kata perempuan yang dimaksud disini merujuk pada perempuan yang secara langsung terlibat dalam aktifitasnya dengan alam, yang secara langsung menjadi korban dalam penindasan di bawah kapitalisme global.

Shiva, ia membuka dengan mengajukan sebuah gambaran bahwa proyek ‘pembangunan’ merupakan bentuk lanjutan dari zaman penjajahan, tanpa harus melakukan penaklukan dan pengurasan pada daerah jajahan. Sejatinya, ia adalah apa yang dipaksakan sebagai kemajuan gaya barat yang akan diwujudkan pada seluruh bagian dunia dalam arti –produktivitas, pertumbuhan, produksi— dengan hasrat meningkatkan taraf hidup semua orang masuk dalam katagori ekonomi model barat.

Bermula dari negara pusat kolonial yang terbangun dengan memusnahkan ‘ekonomi alam’ di negara jajahan dan melanjutkannya sebagai kolonialisme masa kini dan membentuk ekonomi yang tergantung oleh pasar. Dalam bukunya, Shiva mengutip Luxemberg, ia memperingatkan bahwa dalam sistem kapitalis, kolonialisme adalah syarat utama untuk menghimpun modal, dan tanpa adanya jajahan itu tidak akan bisa berjalan sama sekali.

‘Pembangunan’ berarti memupuk modal dan melancarkan perekonomian berdasarkan perdagangan untuk menghasilkan surplus dan laba sehingga menuntut negara jajahan untuk menggunakan cara tertentu dalam pencapaian kekayaan, tetapi juga memiskinkan dan kesengsaraan sebagai unsur yang inheren dalam pembangunan seperti itu (Shiva, 1997 : 2). Maka dari itu, pembangunan tidak lain dari bentuk baru penjajahan dengan membawa model baru ekonomi patriarki barat yang meminggirkan perempuan, memeras alam, dan memeras kebudayaan yang lain.

Asumsi yang dibangun adalah ketika pembangunan meluas dan tersebar ke negara yang lain, dan meningkatkan perempuan berpartisipasi dalam pembangunan maka efeknya akan ikut mensejahterakan perempuan. Faktanya tidak, para perempuan di dunia ketiga, justru merekalah yang cenderung dipaksakan masuk dan memikul beban apa yang dihasilkan oleh pembangunan yang manfaatnya tidak sama sekali diterimanya. Pembangunan memiliki sikap dominatif tak ubahnya adalah wajah lain dari kolonialisme karena harus merampas sumber daya dengan alasan ‘kepentingan nasional’ demi hitungan angka pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan menggusur perempuan dari kerja produktif yang telah dilakukannya selama ini, dengan mengelola tanah, air dan tumbuh-tumbuhan untuk terus memulihkan diri. Meski patriarki jauh  lebih tua dan lama, ia hadir dalam bentuk mutakhir paling baru dan kejam melalui proyek pembangunan. Patriarki menganggap merusak adalah bagian dari produksi serta memulihkan kehidupan dianggap sebagai sikap pasif (alam dan perempuan) dan tidak produktif sehingga kerja    perempuan menjadi tidak nampak dan tak terhitung.

Pandangan itu membentuk paradigma pembangunan yang timpang dengan menyebut semua kegiatan yang tidak menghasilkan laba dan memupuk modal tergolong sebagai pekerjaan tidak produktif. Mies menyebut bahwa laba/surplus yang telah diperoleh sebenarnya hasil curian dari berbagai bentuk kekerasan dari alam (dari sebagaian apa yang harus dipulihkan) dan perempuan (dari hasil alam untuk menghasilkan kelangsungan hidup).

Pembangunan sebagai pola dominatif baru laki-laki atas perempuan dan alam bersumber pada penghancuran kerja yang saling bergantung antara laki-laki dan perempuan dengan keanekaragaman bukan berdasar pada kesenjangan. Pembangunan hanya menentukan satu nilai mana yang harus mewakili dan tidak bisa menampung keanekaragaman kelas, budaya, gender. Pandangan ini, alhasil mereduksi dan memangsa pada apa yang dianggap lemah (perempuan, alam, non barat). Ia menghasilkan keterbelakangan pada perempuan dan timbulnya krisis ekologis serta krisis lainnya.

Pembangunan yang timpang telah merusak keselarasan manusia antara laki-laki dan perempuan, manusia dengan alam, dalam praktik  dan perspektif dualisme yang reduksionis. Apa yang menjadi prinsip feminin melalui produktivitas dan kreativitas diubah dan diambil alih di bawah kendali laki-laki.

Pada pembangunan yang timpang itu, membawa masuk pada mitos dan kontradiksi dari pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Alat ukurnya adalah PNB (Produk Nasional Bruto), yang menghitung barang dan jasa yang dihasilkan dari ekonomi uang. Apabila PNB ini tinggi atau naik di satu negara, maka akan menjadi indikator produktivitas atau tumbuhnya ekonomi yang akan menunjukkan angka kesejahteraan.

Namun, yang sebenarnya PNB adalah alat ukur untuk melihat semakin menyusutnya kekayaan sejati: kekayaan yang ditopang kekayaan alam dan produksi  perempuan. Semakin besar dan tinggi PNB, maka semakin luas pula kerusakan alam yang berdampak pada proses kerja produksi perempuan dalam kebutuhan pokoknya yang sangat tergantung oleh alam. Katagori produktivitas yang dipicu oleh pertumbuhan dan pembangunan yang selama ini dianggap positif, progresif dan netral adalah ketimpangan gender dengan model patrialkal baru yang menimbulkan serba kekurangan dan model kemiskinan baru, utamanya bagi perempuan.

Dari kaca mata ekonomi, Shiva membawa kita melihat perbedaan dua macam kemiskinan, pertama konsep budaya mengenai kemiskinan sebagai hidup sesuai dengan kebutuhan dan kedua, kemelaratan sebagai sebuah kekurangan dari sudut material atau kebendaan yang telah  dirampas. Kemiskinan sebagai budaya ini bukanlah kekurangan dari sudut material namun ketercukupan hidup atas swasembada kecil bagi keluarga atau komunitasnya.

Namun dalam kaca mata pembangunan, hal ini adalah kemiskinan karena ia tidak turut masuk mengkonsumsi barang-barang yang dihasilkan pada ekonomi pasar. Mereka yang miskin secara budaya dianggap miskin karena makan bulgur (yang ditanam perempuan) dan tidak makan dari hasil perdagangan agribisnis skala dunia. Mereka dilihat miskin juga karena membangun rumah dari  bambu dan tidak dari semen atau pakaian mereka yang tidak dari bahan sintetis yang mana semua itu tercukupi oleh alam dan disediakan para perempuan.

Persepsi budaya ini akhirnya menjadi landasan proses pembangunan sebagai proyek untuk membasmi kemiskinan. Padahal dengan pembangunan justru mereka akan terasing dari keterikatannya dengan ekologi dan menghapus ekonomi sebelumnya untuk masuk dalam pusaran ekonomi pasar.

Paradoks dan krisis pembangunan yang ditimbulkan karena melihat kemiskinan budaya sebagai kemiskinan material dimana tidak keterjangkauan barang, padahal cara yang mereka lakukan untuk pemenuhan kebutuhan dasar sebagai keselarasan manusia dan alam, bukan pada proses produksi yang panjang sehingga membutuhkan harga yang harus dibayar langsung lebih mahal dan harga yang tidak dapat dibayar yakni krisis ekologi dari akibat pembangunan dan produksi.

 

Judul Buku    : Bebas dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India

Penulis      : Vandana Shiva

Penerbit         : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit  : 1997

Tebal Buku   : 284 halaman

Ilustrasi          : google

)* Anggota FNKSDA DIY dan Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Uhsuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

 

Baca part lengkapnya:

 

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *