Oleh: Rara Zahraa*
~Tulisan ini dibuat untuk diskusi pada Jamaah rasan-rasan FNKSDA DIY~
Dalam pembangunan yang patriarkis dan telah menghancurkan prinsip feminin itu, ia bukan hanya merasuk dalam ranah politik dan ekonomi, namun ia juga disokong dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan yang bersifat reduksionis. Sifat reduksionis mengaburkan dan turut menjadi alasan pembenaran penghancuran alam, penggusuran perempuan dari pekerjaan produktifnya dengan disahkan melalui pertanian ilmiah, pengelolaan air ilmiah dan segala pengilmiahan yang sebenarnya membentuk keseragaman, sentralitas dan pengendalian.
Padahal dalam kerja dan prinsip feminin yang telah dilakukan, ia menentang menggunakan cara pandang atau cara- cara kekerasan dalam keterkaitannya memelihara alam. Bukan hanya proyek pembangunan yang menimbulkan kekerasan namun pengetahuan turut andil menjadi sumber kekerasan lebih dalam terhadap perempuan dan alam.
Mulanya adalah Bacon, pada zaman pencerahan sekitar 1561-1626 seorang bapak ilmuan modern yang mencetus konsep lembaga penelitian modern dan ilmu industri yang telah menginspirasi Royal Society (masyarakat keilmuan bangsawan).
Ia dianggap penting dan dikenal oleh banyak kalangan. Ia telah merancang program khusus yang menguntungkan laki-laki Eropa kelas menengah dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang melihat alam sebagai sesuatu yang patut ditaklukan. Metodenya, dengan mendikotomiskan antara laki-laki dan perempuan, otak dan benda, objektif dan subjektif, rasional dan emosional.
Demikian itu, ia melihat alam dan perempuan sebagai sesuatu yang terpisah, pasif, dan dianggap lemah sehingga bisa dikuasai oleh otak laki-laki yang agresif. Melalui proyek dan revolusi ilmiah Bacon pula, menghapus semuanya baik kerja atau pengetahuan dan hubungan perempuan dengan alam namun dan membenarkan budaya yang merusak alam.
Kaitannya dengan ilmu, digunakan untuk menghancurkan hubungan perempuan dan pengetahuannya tentang alam misalnya, adalah tentang momen perburuan penyihir secara besar-besaran di Eropa, ilmu pengetahuan modern reduksionis dengan usahanya mendelegitimasi relasi dan sedang mendisiplinkan perempuan dan alam. Perempuan dianggap bahaya paling besar karena kekuatan pengetahuannya dengan alam melalui pengobatan dan aksesnya terhadap tanah.
Memicu pemberontakan sengit perempuan karena hilangnya akses terhadap alat produksinya untuk kebutuhan dasar hidup, sebab ilmu pengetahuan modern membawa mekanisasi dan perampasan tanah yang sebelumnya dimanfaatkan komunal dan perempuan. Selain itu, bentuk pengetahuan reduksionis ini terbukti turut melakukan penyingkiran perempuan, pengetahuan tradisional masyarakat kesukuan dan kaum tani demi melangsungkan penyebaran paradigma ilmu pengetahuan maskulin melalui pembangunan.
Perburuan penyihir adalah babak sejarah yang menandakan penghancuran hubungan komunal dan pereduksian otoritas tubuh perempuan sebagai penghubung atas bangkitnya sistem baru bernama kapitalisme dan mendorong perempuan masuk ke tiap ranah domestiknya (Federici, 2020: x). Shiva berargumen dalam bukunya, menyebut epistimologi khusus ‘revolusi ilmiah’ berasal dari patriarki barat modern yang disokong ilmu pengetahuan zaman pencerahan yang ‘reduksionis’ karena telah berupaya mengubah dan menyingkirkan para pelaku pengetahuan dan menjadikan tradisi baru yang manipulatif sebagai benda yang terpisah dan tidak aktif (Shiva, 1997 :29).
Kekerasan yang dilakukan dengan mendukung proyek kapitalisme oleh ilmu pengetahuan reduksionis juga nampak pada tujuannya yang hampir 80% penelitian ilmiah ditujukan bagi industri yang didasarkan pada penjarahan alam untuk menghasilkan laba maksimum dan pengumpulan modal. Dalam upaya kapitalisme dagang, semua didasarkan pada satu produksi barang khusus karenanya perlu melakukan keseragaman dan produksi pemanfaatan tunggal yang terfragmentasi dengan membebankan tingginya biaya sosial dan ekologis.
Dalam paradigma reduksionis, hutan diubah, dibabat dari keanekaragamannya dan hanya ditanami produk tunggal menjadi hanya menghasilkan bahan yang bersifat komersial. Bahkan, perubahan cara dalam tata kelola alam dalam bentuk ini disahkan secara ilmiah dengan dalih peningkatan produksi secara keseluruhan. Ekosistem yang beranekaragam telah dirusak oleh proyek baru yang mereka sebut sebagai ‘kehutanan ilmiah’ dan ‘pengembangan kehutanan’. Shiva dengan jelas menyebut ini merupakan asal titik mula krisis ekologis karena menyangkut perubahan pola alam atas proses organiknya terhadap pengaturan kemampuan barunya yang merusak.
Rasionalitas yang dibawa ilmu pengetahuan reduksionis maupun non reduksionis tidak pernah dievaluasi secara kognitif namun secara pasti ilmu pengetahuan reduksionis tetap men-cap dirinya lebih apriori terhadap pengetahuan lain. Penggusuran pengetahuan reduksoinis terhadap pengetahuan non reduksionis (tradisional) bukan karena persaingan kognitif, namun pengetahuan reduksionis didukung secara politis oleh negara sebagai kebijakan dan program pembangunan dengan subsidi finansial dan material serta dukungan ideologis untuk menjarah alam sebagai laba.
Padahal, mitos ganda dari kemajuan (pertumbuhan & kekayaan material) dan rasionalitas yang dianggapnya unggul telah kehilangan bentuk dalam pola paradigma pembangunan, dengan jelas dibantahkan oleh krisis ekologis yang terus meluas. Sampai di sini, Shiva menyebut peran agung negara paling besar adalah mengubah mitos itu menjadi sebuah ideologi baru yang ditanamkan dalam masyarakat.
Bila perusahaan sektor tunggal berhadapan langsung dengan masyarakat yang terikat dengan alam, tentu mereka akan menilai sendiri biaya rasional dan keuntungan mereka serta dapat memedakan kemajuan atau kemunduran bahkan rasional atau irrasional. Namun, dalam tahap ini negara sebagai perantara telah merubah warga menjadi objek yang kehilangan kemampuan ataupun hak untuk menilai kemajuan. Jikapun atas nama memikul biaya dan dasar menikmati manfaat, pembangunan dibenarkan melalui pengorbanan warga bagi ‘kepentingan nasional’. Ilmu pengetahuan yang mendapat dukungan berbagai bentuk ini menjadikan sistem baru sosio-politik ekonomi dari patriarki kapitalis Barat yang menguasai dan menjarah alam, perempuan serta kaum miskin.
Shiva juga menyebut ada berbagai kekerasan yang telah diciptakan oleh pengetahuan reduksionis. Pertama, kekerasan pada perempuan: ia sebagai masyarakat kesukuan atau kaum tani menghilangkan subjek pengetahuan dengan dianiaya secara sosial dengan menyebut ahli dan bukan ahli sebagai subjek yang tidak memiliki pengetahuan tentang alam. Kedua, kekerasan terhadap alam: alam sebagai objek pengetahuan ketika ilmu modern masuk dengan mengubah persepsi dan manipulasi.
Ketiga, kekerasan yang diuntungkan oleh pengetahuan: dengan menyatakan perempuan dan masyarakat adalah penerima manfaat dan keuntungan, sejatinya hanyalah korban terburuk atas perampasan potensi produktif, nafkah dan sistem penghidupan mereka. Keempat, kekerasan pada pengetahuan: ia sebagai ilmu pengetahuan secara jelas telah melakukan kekerasan yang menindas pada sistem pengetahuan lain yang organik dan sedang melakukan pemalsuan fakta dengan penyebutan keilmiahan.
Judul Buku : Bebas dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India
Penulis : Vandana Shiva
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit : 1997
Tebal Buku : 284 halaman
Ilustrasi : google
)* Anggota FNKSDA DIY dan Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Uhsuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga
Baca part lengkapnya:









Satu Komentar