Beranda / Resensi / Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (3)

Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (3)

perempuan

Oleh: Rara Zahraa* 

~Tulisan ini dibuat untuk diskusi pada Jamaah rasan-rasan FNKSDA DIY~

 

Dalam tradisi India, Shiva banyak menjelaskan dalam karyanya bahwa kaum perempuan adalah bagian sangat erat dengan alam yang mewujud pada budaya India yang sangat kental. Di satu sisi, ia adalah pengejawantahan prinsip feminin dan di sisi lain perempuan dipelihara oleh sifat feminin agar mampu menciptakan dan menyediakan pangan. Satu budaya India yang ia sebut praktiri, sebagai bentuk keterhubungan perempuan dengan alam. Bukan hanya sifat feminin tapi ia juga kesatuan dari sifat maskulin.

Secara sifat, ia aktif, sangat kuat dan produktif, yang tercipta dari dialektik antara pengelolaan pembaruan dan pemberi makan. Misalnya ketika  melihat sungai, gunung, kulit kerang, ia bukan suatu hal yang mati namun ia juga mempunyai sifat ganda yang di dalamnya memungkinkan sebuah kehidupan yang tersembunyi.

Ini menepis bagaimana persepsi tentang hubungan manusia dengan alam yang sangat terpisah. Dunia kontemporer Barat dipenuhi dengan dikotomi dan dualisme, laki-laki dan perempuan, antara manusia dengan alam. Ini merujuk pada konsep Cartesian tentang alam sebagai “sumber daya” atau “lingkungan”. Ia menganggap manusia terpisah dari lingkungan: lingkungan adalah  sekeliling manusia dan bukan hakikat. Dualisme ini menjadikan cara berpikir yang memungkinkan terjadinya penaklukan antara keduanya menganggap alam sebagai budaya pasif,  seragam dan mekanis, terpisah, lebih rendah sehingga patut untuk ditundukkan.

Ontologi dikotomis itu, yang memisahkan antara perempuan dan alam berakibat terhadap timpangnya pembangunan, sebagaimana menjadikan laki-laki adalah penjajah atau bentuk lain dari model atau agen “pembangunan” yang punya implikasi pelumpuhan alam dan perempuan secara bersamaan. Padahal, alam dan perempuan sebagai kehidupan memiliki kesamaan dan keterhubungan memproduksi serta mereproduksi diri mereka.

Bagi perempuan, tidak hanya secara biologis, tetapi juga melalui peran sosial dalam lingkungan keluarga atau masyarakat luas. Maria Mies menyebut kegiatan perempuan dalam penyedia pangan sebagai produksi kehidupan dan memandangnya sebagai hubungan produktif dengan alam karena perempuan bukan hanya mengonsumsi apa yang tumbuh dari alam, namun juga membuat segala sesuatu menjadi sesuatu yang tumbuh (Maria Mies, 1986: 16). Alam dan perempuan telah bekerja sama sebagai mitra, bukan dengan mendudukkan manusia yang lebih tinggi sehingga menaklukkan alam, namun ia bekerja dengan proses timbal-balik antara alam dan perempuan.

Walaupun mengambil hasil alam, hubungannya tidak pernah bersifat dominatif atau menjadi pemilik utuh–privat. Selain pemenuhan atas nafkah sebagai produsen kehidupan, perempuan juga dianggap oleh Shiva sebagai penemu ekonomi produktif pertama, yang secara tidak langsung ditunjukkan dari awal produksi dan penciptaan hubungan sosial, yakni masyarakat dan sejarah.

Semua itu seakan tiada artinya. Berkat Adam Smith yang membawa prinsip ekonominya dengan tangan tidak terlihat yang diamini oleh ilmu ekonomi, produktifitas perempuan bukanlah apa-apa karena bukan berasal dari pandangan dominan terhadap produktivitas akan laba. Segala aktivitas perempuan yang kaitannya dengan alam direduksi menjadi kegiatan reproduktif dan disingkirkan dari apa yang di sebut kerja produktif. Kerja produktif adalah mengubah baik barang maupun jasa menjadi modal dan menghasilkan uang. Sehingga kerja perawatan perempuan dengan alam dianggap tidak termasuk dalam kerja produksi karena tidak menghasilkan laba.

Padahal kerja dengan prinsip feminin itu yang sangat penting karena ia berakar pada stabilitas dan keberlanjutan akan alam. Selain itu, ada juga yang tidak dilihat dari sistem ekonomi di bawah kapitalis, bahwa kegiatan perempuan dilihat sebagai penghasil nafkah dengan pemenuhan kebutuhan dasar melalui terpastikannya akan pangan, gizi juga air tidaklah penting dan dianggap kuno. Padahal pekerjaan inilah yang disingkirkan oleh pembangunan, yakni: pemeliharaan dan perawatan dalam siklus teknologi tidak mendapat tempat dalam ekonomi politik komoditas dan arus uang tunai.

Hal ini menurunkan perspektif keselarasan kehidupan subsisten yang, sebelumnya dijalani baik perempuan maupun laki-laki yang jika itu hilang menyebabkan krisis ekologis namun juga menyebabkan krisis budaya yang merebak di dunia saat ini. Ada dua implikasi yang dihasilkan apabila mengkonfirmasi pengakuan terhadap alam dan perempuan. Pertama, menyadari bentuk pembangunan yang diharapkan terjadi diseluruh bagian dunia adalah pembangunan menyimpang yang berdampak pada kekerasan terhadap perempuan dan alam, ini terjadi selama asumsi didasari oleh homogenitas, dominasi, sentralisasi.

Kedua, krisis yang terjadi dari pembangunan itu dapat diatasi dengan mengembalikan paradigma krisis dengan semangat pemeliharaan dimana perempuan di dunia ketiga memiliki kategori perlawanan tak terlihat dan pengetahuan yang belum dijajah. Perempuan ditempatkan dan diakui karena pertama mereka memiliki pengetahuan tentang makna menjadi korban paling utama atas kemajuan serta menjadi pihak paling besar menanggung beban. Selain itu, pada tahap kedua perempuan memiliki pengetahuan yang holistik tentang produksi dan perlindungan kehidupan dengan memandang alam sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup.

Shiva mengkritik terhadap pemerhati lingkungan dan feminis dalam analisisnya yang hanya melihat perempuan sebagai korban atas menurunnya kualitas lingkungan. Namun, Shiva mengatakan bahwa di India perempuan tidak berbicara sebagai korban semata, namun membawa suara kebebasan dan perubahan baru. Shiva menawarkan dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melihat permasalahan ini yakni: melalui kategori perlawanan perempuan sebagai perjuangan hidup atau melalui perluasan terhadap katagori patriarki dan reduksionis sehingga pemulihan akan pembangunan yang timpang ini bisa direstrukturisasi secara intelektual dan politis.

Kesatuan gerakan perempuan (feminisme) dan environmentalisme ini harus tetap padu agar terhindar pada paradigma barat yang melihatnya secara terpisah dan hanya meminta kelonggarannpada pembangunan yang menyimpang. Karena feminisme yang terpecah belah sebenarnya sedang terjebak dengan ideologi pembebasan berdasarkan gender yang menjadi sindrom penyejajaran dengan laki-laki (dengan alasan mereka lebih tinggi dan maju), atau malah mundur ke segi biologisme sempit yang tanpa melihat pemulihan prinsip feminin dalam alam, perempuan dan juga laki-laki.

 

Judul Buku    : Bebas dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India

Penulis      : Vandana Shiva

Penerbit         : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit  : 1997

Tebal Buku   : 284 halaman

Ilustrasi          : google

)* Anggota FNKSDA DIY dan Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Uhsuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

 

Baca part lengkapnya:

 

 

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *