Beranda / Resensi / Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (4)

Pembangunanisme dan Timbunan Derita Perempuan (4)

perempuan

Oleh: Rara Zahraa* 

~Tulisan ini dibuat untuk diskusi pada Jamaah rasan-rasan FNKSDA DIY~

 

Shiva banyak menyebutkan contoh kaitan siklus perempuan dengan alam, di mana terdapat ekosistem hutan, air sebagai penopang, dan perempuan sebagai mitra juga menjadi produsen pangan dalam keluarga. Dalam pembangunan di bawah paparan reduksionisme, ia akan melihat  sebagai hutan mati apabila hutan itu tidak menghasilkan laba. Keanekaragaman ekosistem hanyalah gulma di hadapan kapitalisme, sehingga penggundulan dan melakukan penghijauan ilmiah dengan menanam tanaman lainnya yang menjadi komoditas dan laba.

Hutan yang semula adalah penopang kehidupan diubah menjadi emas hijau – dengan seluruh penanaman dimotivasi slogan, “Uang tumbuh pada pepohonan”, juga proyek pengembangan lahan kosong/kritis dilegitimasi oleh pakar dengan falsafah dalam paradigma reduksionisme. Semua  program proyek kehutanan atas dominasi ilmu yang tunggal (petugas kehutanan) mengakomodir kebutuhan menjadi satu (industri) ada di bawah kendali keputusan terpusat dengan bertumpu aliran dana besar (Bank Dunia) menghapus sistem sosial masyarakat dalam hak guna individu atau komunal yang bertentangan dengan prinsip feminin.

Dalam bukunya, Shiva menceritakan perjuangan perempuan Chipko yang melawan proyek penghijauan tanaman pohon eukaliptus tanpa mempertimbangkan kelayakan ekologisnya di wilayah tersebut. Gerakan ini menghadirkan massa dengan mencabuti jutaan bibit eukaliptus yang merusak sistem tanah dan air serta menggantinya dengan penghijauan ala perempuan India dengan bibit mangga dan asam yang semula menjadi bahan pokok mereka untuk pangan,  ternak, pupuk dan kebutuhan kayu untuk perabotan rumah.

Penciptaan komoditas tunggal itu  telah membunuh ekosistem yang beragam sehingga mereka kehilangan sumber kehidupan dan  alat produksinya. Belum selesai, mereka dihadapkan dengan sebuah tragedi pen-swastaan lahan milik umum sebagai agenda pengembangan lahan melalui lahan kritis. Padahal lahan ini mulanya adalah ruang strategi terpadu pertanian tradisional tandus dengan mengembangkan peternakan. Ekonomi tanah kering ini adalah pasokan utama bagi bahan pangan kaum miskin yang diperoleh dari usaha lahan milik umum yang mana ternyata hampir 80% di ampu perempuan.

Di bawah agenda kapitalisme global, prinsip feminim pada produksi pangan yang menyelaraskan pohon, ternak dan tanaman. Paradigma maskulin masuk dengan label revolusi hijau menggusur perempuan dari siklusnya tersebut dengan asumsinya sebagai peningkatan efisiensi. Mekanisasi pertanian melalui mesin-mesin skala luas telah menghasilkan krisis pangan yang sebenarnya. Perusakan ekologi tak terelakkan dengan akibat pandangan komersial ini.

Proyek pertanian patriarkal yang anti-alam ini mengalihkan pengendali pangan dari kaum perempuan dan petani ke perusahaan dan agribisnis multinasional dengan bertentangan pada proses alamiah alam. Pandangan ekologis melihat bahwa produksi pangan tidak bisa dipisahkan dengan sistem hutan, air dan ternak. Bagi gerakan perempuan Chipko, hutan dan ternak menyediakan makanan bagi mereka, sebagai perpanjangan kemitraan keluarga manusia dalam proses siklus yang tak dapat dipisahkan.

Dari perubahan perempuan sebagai aktor utama dalam penyedia jaringan pangan mulai produksi, konsumsi dan distribusi, terdapat perubahan dengan penciptaan benih-benih ajaib, pupuk dan pestisida kimia, mekanisasi dan irigasi besar. Tetapi semua peningkatan itu bukan berarti untuk memenuhi kebutuhan pangan banyak orang, namun jelas seperti paradigma pembangunan bahwa pengejaran laba maksimum adalah tujuan utama mereka. Hadirnya para intelektual dalam bidang pertanian turut memupuk penglihatan pecah belahnya sistem pertanian, dan ternak menyusul tersingkirnya para petani tradisional—petani perempuan.

Pada  tataran pertanian patriarkal, perawatan adalah hal yang paling mustahil, tanaman akan diintensifkan dengan lebih cepat panen, apa yang tidak manis disuntik zat gula, apa yang pucat telah disolek menjadi berwarna. Cara pandang itu memicu tindakan kekerasan yang sangat ditolak prinsip feminin. Pertanian skala luas yang tunggal membuat tanaman rentan terkena gulma atau penyakit. Jurus jitu yang ampuh adalah membinasakannya agar tetap bisa menghasilkan produksi penuh.

Pertanian skala luas ini sangat rentan terhadap hama, namun tak habis akal, dengan penelitian yang didanai besar-besaran menciptakan perang besar yang sebenatnya sedang memupuk hama yang berevolusi kebal terhadap bahan-bahan kimia. Revolusi krisis ekologis benar-benar terjadi, tanah mengalami penggurunan dan akan menuju pada kematian tanah. Prinsip feminin dengan merawat tanah dengan jerami hanyalah sampah limbah dihadapan reduksionis dan rasionalitas abad kemajuan.

Pola revolusi hijau ini sedang tertimbun dalam paceklik yang dibuatnya sendiri. Revolusi hijau sebagai pencadangan swasembada pangan akan hanya omong kosong selama yang dikejar adalah surplus dan laba. Itu justru memicu kelaparan parah karena masyarakat yang kehilangan sumber pemenuhan utama masyarakat petani miskin. Hal ini, juga memicu perang air dimana konsumsi air yang  besar dan berlebih di pompa melalui mesin ke pertanian skala industri. Jelas, ini telah mengeringkan sumur. Prinsipnya adalah menggali sampai dalam dan menguras sampai kering.

Hal itu telah memicu kelangkaan air pada masyarakat. Penambangan air ini membuat keluarga yang miskin, terutama perempuan sebagai pencari air harus berjalan lebih jauh untuk menemukan sumber air yang masih tersisa. Pada akhirnya kisah-kisah lelucon swasembada pangan dan bibit unggul menjadi penderitaan paling dalam yang dialami oleh perempuan.

Di bawah pembangunan yang di motori oleh laba, kapitalisme berada dibalik tirai pembangunan membawa perempuan pada jurang paling jauh yang tak terlihat. Pembangunan tunggal yang diagung-agungkan sebagai kepentingan nasional untuk pertumbuhan dan menjanjikan taraf hidup yang lebih baik adalah hantu yang terus berkeliaran di berbagai belahan dunia ketiga. Sebagai moda ekonomi produksi, ia memaksa alam sebagai kran untuk terus mencurahkan daya tahan secara terus menerus, tanpa henti, silih berganti menanggung bebannya sendirian bersama para perempuan.

Pembangunan hanyalah penindasan model lanjut kapitalisme selain dominatif pada laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin, juga pada manusia dan alam dengan penceraian dan pembunuhan atas pengetahuan dan hak komunal. Timbunan derita ini memang dirasakan oleh  semuanya, namun tetap perempuanlah menjadi korban paling dalam.

Tindakan dan pandangan  perempuan dalam keselarasannya dengan alam dapat menjadi ide untuk pembebasan terhadap semuanya (laki-laki, barat, alam) dan membuktikan paradigma pengetahuan dominan menjadi ancaman bagi kehidupan itu sendiri. Hubungan perempuan dengan alam tak hanya menyelamatkan manusia, tapi juga keberlanjutan bagi seluruh makhluk hidup dan alam semesta.

 

Judul Buku    : Bebas dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India

Penulis      : Vandana Shiva

Penerbit         : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit  : 1997

Tebal Buku   : 284 halaman

Ilustrasi          : google

)* Anggota FNKSDA DIY dan Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Uhsuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

 

Baca part lengkapnya:

 

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *