Oleh: Slamet Makhsun*
Bagi sebagian kalangan, tembakau dan rokok adalah perkara sepele. Bahkan, acapkali di benci dan diharam-haramkan. Namun, bagi mereka yang secara langsung bersentuhan dengan komoditas itu, sudah menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan. Tembakau yang sudah berabad-abad masuk dan menetap di bumi nusantara ini, telah mengalami dialektika yang hebat. Mewarnai banyak sisi-sisi kehidupan masyarakat.
Dalam sejarahnya, tembakau masuk ke Nusantara dibawa oleh Belanda pada kisaran abad 16, dengan tujuan untuk dijadikan komoditas perdangangan dan pertanian sehingga diharap mendapat keuntungan yang lebih. Tekstur tanah Nusantara yang subur, ternyata mengamini hal itu. Oleh sebabnya, di era VOC dan kolonialisasi Belanda, mereka cukup banyak mendapatkan keuntungan dengan mengimpor rokok dari Nusantara ke berbagai daerah, termasuk ke Amerika dan Eropa.
Pasca kemerdekaan, ternyata tembakau tetap tidak bisa lepas dari masyarakat Indonesia. Pergulatan selama 5 abad itu, menjadikan masyarakat berhobi untuk merokok. Baru di era awal-awal kemerdekaan, menjamur berbagai pabrik rokok yang telah mengantongi izin resmi dari negara—bahkan sampai sekarang masih. Jumlah peminat yang besar ini, nampaknya menjadi peluang yang menjanjikan. Sampai-sampai, negara pun membuat regulasi supaya ikut mendapat untung dari hasil cukai yang diambil.
Data menunjukkan, dalam dua dekade terakhir, cukai rokok mengalami kenaikan yang pesat. Hal ini sangat berefek terhadap harga rokok itu sendiri. Pabrik tidak mau ambil rugi. Negara inginnya untung besar tanpa pengorbanan sepeser pun keluar. Jadinya, dua entitas itu malah secara terus menerus menggerus petani. Petani menjadi sapi yang terus diperah.
Penulis sendiri, yang merupakan anak dari pasangan suami-istri yang bermata pencaharian sebagai petani tembakau, merasa sakit hati dengan negara ini. Mereka, para pejabat dan tokoh-tokoh itu, hanya bisa melihat dari atas. Di mata mereka hanya nampak APBN yang semakin gemuk dari suplai cukai tembakau, ekonomi semakin maju, pabrik rokok tetap bisa menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran.
Sedangkan, kami masyarakat yang ada di akar rumput hanya bisa morat-marit kesana-kemari mencari sesuap nasi. Para pejabat dan orang besar itu, tidak pernah melihat bagaimana para petani susang sial mencari air irigasi, melawan kantuk dan dinginnya embun di subuh pagi, hanya demi tembakau itu bisa tumbuh dengan nyaman. Belum lagi ketika cuaca yang tidak mendukung, hujan deras misalnya, hanya dalam sekali turun dapat mematikan bibit-bibit tembakau yang baru ditanam itu. Petani hanya bisa bersabar dan menanam ulang tembakau yang tentunya, perlu tambahan modal yang tidak sedikit.
Selain itu, harga pasar yang tak menentu, tidak bisa menjadi jaminan bagi para petani. Untung-untung bisa balik modal, malahan, terkadang banyak pula yang gulung tikar karena biaya produksi yang tinggi –berbanding terbalik dengan harganya.
Tuhan masih berpihak dan sayang kepada petani. Walaupun kapitalisme menggerus dari berbagai arah, para petani tembakau masih tetap bisa bertahan. Mereka masih bisa makan walaupun dengan lauk yang ala kadarnya. Tuhan telah memberikan ekosistem dan kultur yang mendukung diantara para petani. Kehidupan mereka yang komunal, saling tolong menolong, serta paradigma hidup yang sederhana —jauh dari gengsi— menjadi kekuatan yang kokoh bagaimana para petani tembakau mempertahankan hidup diantara jepitan kapitalisme yang sangat tajam itu.
Sungguh, banyak dosa yang diperbuat oleh para orang besar itu. Para pejabat, seakan buta dengan keadaan ‘miris’ para petani. Cukai yang tinggi itu, tidak terlalu petani rasakan. Per tahun ini sampai akhir bulan Agustus lalu, penerimaan cukai negara dari tembakau sebesar Rp 111,12 triliun. Jumlah yang sangat besar. Tetapi tidak jelas ke mana arahnya. Bahkan, subsidi pupuk pun seakan tidak jelas dan amburadul.
Seperti yang terjadi di kampung halaman saya, dulu pernah dibentuk kelompok tani, yang dalam sebulan sekali, sering diadakan penyuluhan pertanian. Nah, mereka yang masuk ke dalam kelompok itu, kebanyakan yang memiliki sawah yang cukup luas. Mereka lalu mendapatkan kartu tani, sehingga ketika ingin membeli pupuk, mendapat subsidi. Karena memiliki sawah yang terbilang kecil, lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang tua saya? Mereka tidak bisa mendapatkan kartu itu hanya gegara tanah sawah yang kecil. Akibatnya, harus lalu lalang ke berbagai toko tani daerah lain agar mendapatkan pupuk. Ya walau dengan harga yang sedikit mahal.
Ketara sekali pemerintah tidak bisa memanajemen dengan baik. Alokasi subsidi pupuk tidak merata. Pun demikian, penyuluhan itu hanya berjalan beberapa kali saja, sehabis itu mati. Padahal, petani sangat membutuhkan inovasi. Mereka yang tidak berpendidikan tinggi, tidak tahu dengan perkembangan teknologi mutakhir yang ramah dan bisa menghasilkan panen yang melimpah.
Belum lagi dengan berbagai pembangunan proyek dan gedung-gedung yang memakan lahan sawah. Ketika pemerintah (dan juga pihak-pihak swasta yang mendapat dekengan kuat dari pemerintah) telah mencanangkan proyek, petani tidak bisa apa-apa. Walaupun mereka melakukan demonstrasi, melakukan banding ke MK, yang ada, kemenangan tetap di pegang pihak pemerintah. Bahkan, para petani yang membelot dengan pemerintah itu, malahan dicap anti nasionalisme. Diklaim tidak cinta negara hanya gegara menentang keputusan pemerintah.
Padahal, sebelum orang-orang itu menjabat di pemerintahan, sebelum negara ini merdeka, petani dan leluhur-leluhurnya telah menempati daerah itu. Mereka telah secara lama merawat alam dan kehidupan dengan proses bertani yang tidak merusak alam.
Menjadi petani tembakau itu berat. Apalagi ketika musim panen tiba, acapkali banyak tengkulak dan calo-calo yang mendatangi petani. Mereka berniat membeli tembakau. Sebenarnya, orang-orang seperti ini yang perlu dibinasakan. Harga tembakau yang murah, karena keuntungan besarnya telah diambil oleh tengkulak. Mereka sering berbohong kepada petani bahwa harga yang mereka tawarkan sudah sesuai dengan harga dari pabrik rokok. Padahal, sangat beda jauh. Malahan, dari calo-calo itu, juga banyak yang tidak membayar kepada petani. Petani ditipu.
Jika pemerintah tidak becus mengurusnya, apakah masih tepat menjadi tempat digantungkannya harapan? Penulis malah lebih condong kepada LSM dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya. Misalnya saja Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua organisasi ini, sudah tidak diragukan lagi kiprahnya dalam mendidik, membantu, dan mencerdaskan masyarakat.
Basis para petani tembakau yang notabenenya kebanyakan beragama Islam, menjadi dorongan utama bagi dua ormas itu untuk bergerak. Iklim-iklim kapitalisme yang menerpa petani, sangat pas jika dilawan dengan budaya yang mereka geluti. Hal itu sejalan dengan apa yang Islam ajarkan, yakni adanya manusia di bumi ini, ialah untuk berbuat kebaikan. Termasuk berbuat baik kepada sesamanya maupun kepada alam semesta.
Begitu banyak ajaran Islam yang menyuruh untuk menjaga alam. Contohnya terkait ekologi, Islam mengharamkan adanya kepemilikan individu terhadap sesuatu yang menjadi hajat masyarakat banyak seperti sumber mata air, lapangan luas yang menjadi sumber makanan bagi ternak, dll. Yang demikian itu sangat bertolak belakang dengan jiwa-jiwa kapitalis.
Lain hal, Islam juga mendorong adanya masyarakat yang solid dan komunal. Ini dibuktikan dengan berkali-kali Tuhan sebutkan dalam firmannya, bahwa ibadah secara berjamaah lebih baik ketimbang ibadah sendirian. Hal itu menyiratkan adanya suatu asas kebersatuan. Selain itu, dorongan untuk membantu sesama sudah menjadi kewajiban setiap Muslim. Lihat saja dengan zakat, infaq, atau sedekah.
Penulis kira, dengan Muhammadiyah dan NU berperan secara penuh dalam masyarakat, maka kesenjangan kemiskinan akan berkurang. NU dan Muhammadiyah misalnya dapat membuat badan usaha seperti koperasi yang dapat memutar keuangan dikalangan petani dan atau mendirikan pabrik yang langsung menyerap hasil panen dari petani. Dengan basis massa yang besar dari dua ormas itu, penulis yakin, produk dari pabrik tersebut akan terserap dengan maksimal.
Jika teks-teks agama Islam dapat ditafsirkan dan dikontekstualkan dengan tepat di era ini, maka, petani tembakau itu akan benar-benar dapat mengalahkan kapitalis-kapitalis jahat. Mereka akan sejahtera. Wong tujuan Islam sendiri sebagai agen liberasi dari segala kezaliman, oleh sebabnya, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam yang memiliki banyak massa ini, sangat berpeluang untuk mengangkat derajat para petani tembakau. Wallahu a’lam.
Ilustrasi: google
)* Kader PMII Rayon Pembebasan UIN Jogja, pegiat literasi di Garawiksa Institute










Satu Komentar