Beranda / Esai / Opini / Menjadi Mayoritas Itu (Ternyata) Jahat

Menjadi Mayoritas Itu (Ternyata) Jahat

Mayoritas

Oleh: R. Musthofa Farhan*

Islam memiliki ajaran yang ramah dan penuh cinta, yang sewajibnya di terapkan dalam kehidupan sehari-hari  oleh para pemeluknya. Dan penulis yakin, bahwa semua agama di dunia mengajarkan hal yang sama. Yakni kebaikan dan kasih sayang. Namun, faktanya masih banyak perilaku para penganut agama yang ibarat kata, jauh api dari panggang terhadap manifestasi ajaran agama yang mereka imani.

Baru-baru ini, kasus intoleransi beragama di Indonesia semakin marak.  Banyak masyarakat yang resah hanya karena ada agama lain yang beribadah di sekitaran daerah mereka. Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang masih awam dalam agama, ditambah semangat keagamaannya, malahan membuat keadaan semakin gaduh. Orang-orang yang awam itu, hanya karena dirinya termasuk kelompok mayoritas, lalu semena-mena dengan pemeluk agama lain. Inilah sebenar-benarnya sumber intoleransi yang ada di Indonesia selama ini.

Ketakutan yang dialami kelompok minioritas di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menjadi, kelompok bersorban dan berbusana putih, yang mengklaim dirinya bak penduduk surga, semakin ganas menerjang-menghakimi-merusak. Mereka lalu menetapkan standar kemungkaran menurut kadar penafsiran yang mereka amini.

Ini bathil, bunuh! Ini salah, hancurkan! Ini tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis, ratakan!. Kira-kira seperti perkataan yang selama ini penulis dengar dari hiruk pikuk kegiatan mereka. Takbir sana-sini dengan tangan kanan terkepal diatas yang tentu dihiasi oleh balok-balok kayu. Membuat siapa saja akan gemetar dan takut melihat nya. Bukan, mereka bukan takut karena Asma Allah yang kelompok itu sebut! Mereka takut karena bisa saja setan masuk kedalam pikiran para gerombolan pemakai baju surga itu, yang lalu menjatuhkan balok-balok kayu itu ke siapa saja yang oleh kelompok itu dianggap sesat.

Aksi berjilid-jilid, demonstrasi, dan sweeping sana-sini  yang mengatasnamakan jihad untuk melawan si kafir penista agama. Bagi penulis, hanya sekedar menjadi ajang pamer kekuatan massa, dan mengintimindasi lawan politik mereka. Ratusan ribu, bahkan jutaan massa yang mereka klaim anggota ‘laskar jihad’ karena telah ikut aksi berjilid-jilid itu. Bahkan, sehabis setahun dua tahun, mereka yang telah ikut aksi itu diberi gelar “alumni” dengan menyelenggarkan reunian untuk mengenang kejayaan atas penjatuhan si kafir nista itu.

Akhirnya setelah aksi berjilid-jilid itu, basis pergerakan mereka mulai menyebar. Jangankan dengan yang beda Tuhan, yang masih percaya dengan Tuhan yang sama pun mereka cap kafir, syirik, bid’ah, dan halal darahnya. “Ingat! selain golongan kami dilarang beribadah! Meskipun dia memiliki Tuhan yang sama dengan kami.”

Dilihat dari stastistik intoleransi yang semakin tinggi di Indonesia dan maraknya kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini, menjadi pertanda banyaknya orang yang gagal paham tentang makna beragama yang sesungguhnya. Fenomena seperti ini juga di perkeruh oleh para da’i yang seharusnya menyejukan dan memberi pemahaman tentang bagaimana berperilaku sebagai Muslim yang baik, malah mengompor-ngompori masyarakat untuk berbuat sesuka hawa nafsunya, dengan legitimasi dalil-dalil al-Qur’an dan hadits.

Ya, dalil-dalil yang seharusnya menjadikan manusia baik ke sesamanya, malah dijadikan alat propaganda, dipelintir sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Ditambah mayoritas di Indonesia adalah pemeluk agama Islam, makin sewenang-wenang lah mereka.

Kebenaran dalam ayat Al-Quran atau hadits memiliki nilai kebenaran yang absolut. Terkadang, yang membuat kesalahpahaman dalam penafsiran dalil-dalil tersebut karena adanya kepentingan hawa nafsu. Apalagi yang menafsirkan adalah seseorang yang belum memiliki kapasitas sehingga disisipkanlah penafsiran yang begitu licik, picik dan jahat. Yang tentu saja penuh akan ambisi pribadi.

Mungkin kedepannya kita harus sadar, setidaknya kalau tidak se-iman, kita masih satu tanah pijakan, jika masih tak mau disamakan, ingatlah kita masih satu jenis MANUSIA. Bukan binatang atau barang yang bisa dijinakkan atau diinjak seenaknya. Ingatlah, kita sama di mata Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaan kita semata, dan taqwa itu tak bisa dinilai dengan kasat mata.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Ilustrasi: google

 

)*Ketua Rayon PMII Pembebasan UIN Sunan Kalijaga periode 2018/2019

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *