Beranda / Esai / Opini / Kodrat Perempuan, Triplek, dan Tembok Semen

Kodrat Perempuan, Triplek, dan Tembok Semen

perempuan

Oleh: Muhammad Jauhar*

Pada umumnya, perempuan adalah manusia yang peka terhadap perasaan. Mudah tersentuh hatinya, sehingga frekuensi menangis lebih sering ketimbang laki-laki. Dalam bahasa sekarang, perilaku tersebut diberi istilah baperan. Yakni dikit-dikit menyangkutkan perasaan tanpa terlebih dahulu berpikir panjang dan logis.

Berbeda dengan laki-laki yang cenderung lebih tegas dan kuat, dalam artian lebih susah tersentuh hatinya dan susah menangis. Barangkali dalam hal ini, laki-laki oleh Tuhan dikaruniai otak dan otot yang kuat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Lihat saja perkelahian yang sering terjadi, pasti kebanyakan dilakukan oleh laki-laki. Sebaliknya, ketika perempuan memiliki masalah, hanya satu dua saja yang demikian, bisa dikatakan, mereka lebih memilih menangis, menyendiri dikamar, dan curhat kepada orang lain. Itu hanya sekelumit bukti saja.

Dalam faktanya, ada juga laki-laki yang memiliki kejiwaan seperti perempuan, mudah baper. Lain hal, juga terdapat perempuan yang mempunyai kejiwaan laki-laki. Suka berkelahi, dan tidak mudah baper. Namun, semua di atas tetap kembali lagi kepada masing-masing sifat individu. Setiap orang mempunyai penyikapan yang berbeda-beda terhadap problem kehidupannya. Tingkat kebaperan satu orang dengan lainnya sangat berwarna. Ada yang mungkin ‘disentuh’ sedikit saja sudah terbawa perasaannya, sebaliknya, ada yang sudah berkali-kali dicaci maki, dipuji, dll, tidak secuil pun perasaannya tergerak.

Terkait problematika masing-masing orang, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Dalam psikologi pendidikan, bahwa seorang anak tidak akan jauh dari sifat orang tuanya. Hal itu karena, setiap sesuatu yang dilakukan oleh orang terdekat, secara tak sadar akan masuk ke memori otak sehingga terdapat dorongan untuk mencontohnya. Maka benar apa yang dikatakan dalam sebuah peribahasa, “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”.

Terkait perempuan, Ali bin Abi Thalib pernah menyebutkan bahwa seorang laki-laki yang membuat perempuan menangis, maka para malaikat akan melaknat setiap langkahnya. Dari perkataan itu, dapat ditarik benang merahnya, bahwa perempuan sangat kalut dan memiliki perasaan yang dalam ketimbang laki-laki. Tuhan mengkodratkan laki-laki menjadi manusia yang tidak mudah baper, dan melarangnya untuk membuat perempuan sedih. Hal itu seakan sebuah solusi dari Islam, bahwa laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Satu sama lainnya saling membutuhkan. Untuk saling berpasangan dan menikah.

Terkiat kejiwaan laki-laki dan perempuan, dapat dianalogikan seperti ini. Laki-laki adalah tembok semen, sedangkan perempuan adalah triplek. Akan sangat mudah menghancurkan triplek dibanding menghancurkan tembok semen. Dengan tangan kosong pun dan sekali hantaman, triplek akan langsung hancur. Sebaliknya, jika hanya dengan tangan kosong ketika menghancurkan tembok semen, maka yang ada, tangan kita yang sakit. Bahkan bisa patah tulang. Harus menggunakan alat bantu seperti palu, martil, linggis, bahkan buldoser sekalipun untuk menghancurkanya. Tetapi, wilayah kerusakan dari tembok semen, lebih hebat dan parah ketimbang triplek.

Dari analogi tersebut, dapat di jelaskan bahwa benar sangat mudah ketika ingin membuat perempuan menangis, dan terbilang sulit ketika ingin membuat laki-laki menangis. Tetapi, sekali laki-laki menangis, itu berarti benar-benar masalah berat yang sedang dihadapinya. Titik tersakit yang ia hadapi. Banyak perempuan yang merasa paling tersakiti, merasa menjadi korban. Namun perlu di ketahui, di luar sana banyak laki-laki yang tersakiti, yang sesungguhnya, wilayah kerusakan hatinya lebih luas dari pada perempuan. Kembali lagi, laki-laki adalah tembok semen, dan perempuan adalah triplek.

Peliharalah bodoamat untuk hal-hal yang akan menyakitimu, mau itu tembok ataupun triplek, keduanya adalah benda yang tidak pantas di hancurkan jika masih di gunakan,” ~ Joe, 2021.

Ilustrasi: google

 

)* Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

 

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *