Beranda / Esai / Opini / Bukan Triplek ataupun Tembok Semen, Perempuan dan Laki-Laki Dikodrat Tuhan Untuk Saling Menikah dan Mencintai

Bukan Triplek ataupun Tembok Semen, Perempuan dan Laki-Laki Dikodrat Tuhan Untuk Saling Menikah dan Mencintai

nikah

Oleh: Slamet Makhsun

~Tulisan ini adalah sanggahan untuk opini Muhammad Jauhar yang berjudul  “Kodrat Perempuan, Triplek, dan Tembok Semen” dan opininya Alhuzaifi yang berjudul Triplek dan Tembok Semen: Analogi yang Sesat!!!”~

 

Penulis menyimak dan cukup menikmati atas perdebatan antara sahabat Jauhar dan bung Alhuzaifi. Apa yang Jauhar sampaikan dalam opininya, menekankan bahwa perempuan oleh Tuhan dikodrat sebagai manusia yang lemah, cengeng, dan mudah menangis yang lalu diibaratkan dengan triplek yang dalam sekali hantaman langsung rusak. Berbeda dengan tembok semen yang ketika ingin dihancurkan butuh effort lebih, bahkan alat bantu. Ini pula yang Jauhar lekatkan pada laki-laki, sebab, secara tenaga laki-laki lebih kuat dan jarang menangis ketimbang perempuan. Namun ketika laki-laki menangis, menunjukkan bahwa ia sedang dalam fase tidak baik-baik saja. Dalam artian, sedang mengalami beban kehidupan yang berat.

Setelah penulis bertemu langsung dengan teman dekatnya Jauhar, dikisahkan bahwa ternyata, saat itu Jauhar sendiri habis diputus oleh pacarnya. Perkataanya tentang laki-laki menangis yang berarti sedang dalam keadaan yang sangat berat, menjadi relate dengan realita yang Jauhar alami. Ya, benar. Dia sedang mengalami masa-masa kesedihan yang mendalam (baca: menangis) saat itu.

Lantas apologi yang Jauhar tulis dalam esainya, mendapat sanggahan yang cukup tajam dari Alhuzaifi. Katanya, perempuan dalam realitasnya seperti itu (cengeng, lemah, dan mudah menangis) merupakan akibat konstruk yang terbangun dalam masyarakat. Bukan kodrat Tuhan sendiri. Ia kemudian mencontohkannya dalam sejarah Islam, misalnya Siti Aisyah yang dulu ikut memimpin perang Jamal yang terdiri dari pasukan laki-laki. Dalam esensinya, menurut Alhuzaifi, perempuan dikodrat oleh Tuhan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sedangkan perempuan mudah menangis, lemah, serta cengeng bukan kodrat, melainkan dibentuk oleh budaya dan paradigma yang telah manusia elaborasikan.

Yang penulis pahami, Alhuzaifi menekankan bahwa semua itu akibat konstruk budaya yang sudah terjadi dalam dinamika manusia. Stigma buruk yang sering dilekatkan terhadap perempuan bukan kodrat. Bukan ulah Tuhan, tapi tangan manusia.

Sangat keliru apabila label triplek yang notabenenya lunak dan mudah dihancurkan, semata-mata dilabelkan kepada perempuan hanya karena sensitivitasnya dalam pengendalian emosi. Yang kemudian ditambah dengan embel-embel “baperan” sebab perempuan dianggap lemah. Tentunya, tidak semata-mata dan segampang itu. Perlu dipertanyakan, apakah sensitivitas emosional perempuan itu dianggap suatu kelemahan atau justru ada upaya pelemahan terhadap perempuan?”, ujar Alhuzaifi.

Apa yang Alhuzaifi katakan, seakan-akan bahwa seperti itu bukan salah perempuan, akan tetapi akibat ulah laki-laki. Semua stigma buruk yang perempuan alami karena budaya patriarki. Padahal, dalam fakta yang penulis dapat, timbulnya budaya patriarki barangkali memang karena ulah perempuan sendiri. Seturut dengan hal itu, cowok yang hidup di masyarakat yang matriarki juga akan mengalami ketimpangan strata sosial sehingga tidak melulu cowok saja yang salah.

Di era sekarang, misal cewek dan cowok pacaran, maka biasanya si cewek ini akan minta cowoknya untuk antar jemput, belikan ini-itu, minta ditraktir, minta diantar dan ditemani pulang ke rumah karena takut, dll. Hal tersebut membuat cewek ingin selalu dimanjakan oleh cowoknya sehingga ada ketergantungan yang kuat. Maka wajar belaka jika Jauhar berapologi seperti itu. Dia sendiri sebagai manusia yang berjenis cowok telah memahami dan mengalami sendiri bagaimana realitas bersama cewek yang dulu dekat dengannya.

Terlepas dari itu semua, penulis malah memiliki apologi sendiri. Yakni ketimpangan budaya antara laki-laki dan perempuan bukan karena jenis kelamin, melainkan karena keegoisan manusia. Adanya budaya patriarki sebab karena keegoisan laki-laki. Adanya budaya matriarki karena keegoisan perempuan. Jika laki-laki dan perempuan dapat sama-sama bersikap adil, bijak, dan luwes, maka tidak akan pernah ada budaya-budaya miring itu.

Demikian pula hal itu berkorelasi dengan perkataan Tuhan bahwa musuh nyata bagi manusia adalah iblis yang seringkali menggoda manusia melalui jalur hawa nafsu. Manusia harus memerangi nafsunya sendiri.

Haqqul yaqin saya percaya bahwa Tuhan bersifat Maha Adil. Tidak membeda-bedakan manusia berdasar jenis kelamin. Walaupun laki-laki dan perempuan secara fisik berbeda, namun perbedaan ini Tuhan ciptakan agar mereka saling melengkapi. Agar mereka dapat saling kasih sayang dan menikah.

Perempuan memiliki vagina dan sel telur sedangkan laki-laki mempunyai penis dan sel sperma, agar kedua organ tersebut saling padu dan dapat meneruskan serta menjaga keturunan. Oleh sebabnya, dalam Islam syariat menikah sangat ditekankan kepada umatnya sebagai ejawantah atas rahmat dan kasih sayang yang harus dibangun sesama manusia.

Ilustrasi: google

 

)* Kader PMII Rayon Pembebasan UIN Sunan Kalijaga, pegiat literasi di Garawiksa Institute

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *