Beranda / Esai / Opini / Kepala Mulia sang Syahid, Imam Husein Radhiallahu’anhu

Kepala Mulia sang Syahid, Imam Husein Radhiallahu’anhu

husein

Oleh: Ahmad Fachry Hidayatullah*

Beliaulah sang Imam, yang memiliki nama lengkap Husein bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf Al Quraisyi Al Hasyimiy, yang memiliki panggilan kuniyah Abu Abdullah, dan lekat padanya semerbak wewangian surga.Sayyidina Husein mempunyai kemiripan dengan Nabi Muhammad SAW pada fisik fisiknya. Ketika kelahirannya, Rasulullah-lah yang langsung mengumandangkan adzan di telinganya. Dari sinilah muasal adanya syariat jika bayi lahir kemudian diperdengarkan seruan Allah, yang hingga kini masih di amalkan oleh masyarakat Muslim.

Imam Husein mempunyai julukan “pemimpin para pemuda ahli surga”. Beliau termasuk lima dari ahlu kissa’. Yakni orang-orang yang masuk dalam ‘jubah nabi’, yang Allah sendiri telah mensucikannya dan menjamin masuk surga. Ibu dari Imam Husein ialah putri terkasih dari Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Fatimah yang berjuluk pemimpin umat perempuan bagi seluruh alam. Sedangkan ayahnya adalah sang pedang Allah yang terhunus –saifullah—Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

Imam Husein dilahirkan pada tanggal 3 Sya’ban tahun ke-4 Hijriah, setelah kurang lebih satu tahun dari kelahiran kakaknya, yaitu Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Beliau hidup dan tumbuh dalam pengasuhan Rasulullah selama enam tahun. Penamaan beliau dengan nama Husein, seperti yang diceritakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki korelasi dengan penamaan kakaknya, Hasan, yang memang nama pemberian langsung dari Rasulullah SAW.

Rasul bertanya, “Akan engkau beri nama siapa putramu ini wahai ‘Ali?” kemudian Sayyidina ‘Ali menjawab, “Harb wahai Rasul.” Lalu Rasul pun kembali menimpali, “Berilah nama Hasan.” Begitupun ketika lahirnya Sayyidina Husein, Sayyidina ‘Ali langsung menamainya Harb, yang kemudian datanglah Rasul menemui Ali dan menanyakan seperti itu, sama halnya ketika menanyakan nama untuk Imam Hasan. Nabi kemudian memberinya nama Husein.

Sayyidina Husein wafat dalam keadaan syahid di usia lima puluh tujuh tahun, bertepatan dengan hari Jum’at menuju sabtu dini hari tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah di padang Karbala. Beliau dibunuh oleh Hauli bin Yazid Al Ashbahi, setelah wafat, kemudian kepalanya ditebas oleh Sanaan bin Anas dan Samr bin Dzijausan sehingga jasadnya pun terpisah. Setelah itu, hartanya dirampas serta jasadnya diseret dan diarak keliling kota oleh Ishaq bin Khuwailid Al Hadrami. Sungguh keji perbuatan orang-orang itu. Mereka tega menyakiti cucu yang Rasulullah sayangi.

Di masa ketika ayahnya menjadi khalifah, beliau turut dalam peperangan, mendampingi ayahnya dalam perang Jamal dan perang Shiffin serta peperangan lainnya. Begitu pun sepeninggal Sayyidina ‘Ali, beliau bergabung pada penyebaran Islam di berbagai tempat.

Jasad imam Husein yang suci –allahuyarham— dikebumikan dimana beliau menghembuskan nafas terakhirnya, yaitu di Karbala yang saat ini telah dibangun bangunan megah oleh penduduk Iran sebagai penghormatan terhadap jasad yang mulia itu. Adapun kepalanya sempat berpindah-pindah tempat, dikarenakan umat Islam kala itu saling berebut satu sama lain agar mendapat keberkahan dari kemuliaannya, yang lalu di simpan pada tempat yang tersembunyi dengan penjagaan yang ketat.

Lalu berakhirlah dirahasiakannya kepala mulia sang syahid setelah 35 tahun lamanya disembunyikan. Di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, turut dikumpulkan informasi tentang keberadaan kepala mulia Sayyidina Husein dan diperintahkan untuk memindahkannya serta ditaruh di dekat masjid Umawiy, Damaskus.

Belum juga usai, di tahun 365 Hijriah, datanglah pasukan dari Baghdad yang dipimpin oleh Ahmad bin Bawaih yang menyerang Damaskus dan merampas apa yang ada, termasuk mengambil paksa kepala sang Syahid. Setelah peristiwa tersebut sampai ke telinga khalifah Mu’izlidinillah, maka beliau memerintahkan panglimanya, Ibrahim bin Ja’far, untuk merebut kembali, namun gagal.

Hingga akhirnya meminta bantuan panglima yang didatangkan dari Kairo, Jauhar Ashiqiliy. Ia berhasil menyapu habis pasukan yang berbuat dzalim pada kepala sang Mulia dan memindahkannya ke Asqalan, Palestina. Hingga kemudian di masa-masa meletusnya perang Salib, karena khawatir terhadap kepala sang Imam, maka khalifah dari Daulah Fatimiyah saat itu memindahkannya ke Mesir atas izin dari wazir Shalah Thalai’ bin Razikh.

Kepala mulia Imam Husein tiba di Mesir pada 8 Jumadil Akhir 548 H. Para pejabat, ulama, dan masyarakat tumpah ruah untuk menyambut kedatangannya. Arak-arakannya dimulai dari Bab Futuh yang dipimpin oleh khalifah Faiz Al Fatimiy dengan iringan musik-musik tradisional. Kepala Imam Husein ditempatkan pada bejana emas lalu ditambah dengan naungan pernak-pernik dari Persia. Setelah itu diletakkan di kursi kebanggaan sembari melakukan penggalian makam didekat istana Zamrud, Setahun kemudian, dibangunlah kubah yang megah. Mesir dan penduduknya mendapatkan keberkahan dari kemuliaan sang Syahid.

Ilustrasi: google

)*Kader PMII Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, demisioner ketua IPNU PAC Mlati, dan mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *