Oleh: Alhuzaify*
~Tulisan ini adalah sanggahan untuk opini Muhammad Jauhar yang berjudul “Kodrat Perempuan, Triplek, dan Tembok Semen”~
“Triplek pada umumnya lunak, lebih mudah dihancurkan dibandingkan tembok semen.” Analogi itulah yang dilekatkan pada perbandingan antara laki-laki dan perempuan. Pelabelan ‘tirplek’ terhadap perempuan sebab lemah dan mudah dihancurkan, sedangkan laki-laki diibaratkan dengan tembok semen yang kuat —butuh alat bantu untuk bisa dihancurkan. Hal itu kemudian dianggap sebagai kodrat, laki-laki ibarat tembok (kuat) dan perempuan ibarat triplek (lemah). Buah pikiran seperti ini yang perlu dikritisi kembali, apakah benar hal itu pantas dikatakan kodrat atau konstruk?
Term kodrat dalam KBBI berarti kekuasaan (Tuhan), hukum, pemberian, ketetapan dan sifat asli. Lain itu, jika merujuk ke bahasa aslinya, yakni bahasa Arab, kodrat berasal dari kata qudrah. Ada pula kamus yang menyebut arti dari terma qudrah dalam pengertian kodrati yaitu a pre-determined God-given nature or distinctive, original, and natural quality of being —fitrah kodrati, berbeda, asli, dan wujud alamiah.
Hal yang menarik adalah language usage (penggunaan bahasa). Kata kodrati baik itu yang terekam dalam praktik sosial sehari-hari dan yang dirumuskan dalam kamus-kamus menunjukkan dinamika tersendiri. Makna esensial direkam sebagai salah satu pengertian saja. Makna lainnya saling bercampur dengan konstruksi sosial yang dikaitkan dengan karakteristik, sifat dasar, kecenderungan, dan nasib. Sehingga perlu kehati-hatian dalam memaknai kodrat laki-laki maupun perempuan. Tidak boleh asal-asalan.
Sangat keliru apabila label triplek yang notabenenya lunak dan mudah dihancurkan, semata-mata dilabelkan kepada perempuan hanya karena sensitivitasnya dalam pengendalian emosi. Yang kemudian ditambah dengan embel-embel “baperan” sebab perempuan dianggap lemah. Tentunya, tidak semata-mata dan segampang itu. Perlu dipertanyakan, apakah sensitivitas emosional perempuan itu dianggap suatu kelemahan atau justru ada upaya pelemahan terhadap perempuan?
Atau bahkan, label perempuan ‘lemah’ ini merupakan konstruks yang dibangun pada budaya patriaki. Sangat banyak dalam sejarah, contoh-contoh perempuan yang memiliki pengaruh dan, atau bahkan bisa memimpin laki-laki. Misalnya Ratu Bilqis yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai pemimpin negeri Saba yang makmur itu. Atau Sayyidatina Aisyah yang memimpin para pasukan (yang tentunya pasukan laki-laki) dalam perang Jamal di era pasca kematian Usman bin Affan.
Begitu juga dengan pelabelan terhadap laki-laki sebagai tembok semen yang memiliki konotasi “kuat”. Statement seperti ini, mengandung anggapan tersirat bahwa laki-laki itu lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Jelas sekali bahwa pelabelan tersebut terkesan tanpa dalil yang shohih. Menganggap bahwa laki-laki lebih kuat dari pada perempuan lalu hal itu dianggap sebagai kodrat. Hal itu sangat keliru.
Kodrat alamiah perempuan jika dilihat secara esensial adalah menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Empat hal itu yang menjadi konsekuensi logis dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Namun hal itu bukan berarti menjadikan perempuan sebagai manusia nomor dua setelah laki-laki. Tidak. Hal itu Tuhan ciptakan agar laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi. Toh Tuhan sendiri memiliki sifat Maha Adil, sehingga kodrat yang diberikan kepada makhluknya pun bersifat adil dan berimbang.
Sejarah peradaban Islam secara langsung membantah pelabelan perempuan ibarat triplek (lunak), jauh sebelum R.A Kartini menyuarakan emansipasi, sosok Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah merupakan sahabat senior dari kalangan Anshar. Ia pernah mengikuti perang bersama Nabi Muhammad SAW, tidak hanya untuk mengobati pasukan yang terluka, melainkan juga turun langsung menghunus pedang menghadapi musuh.
Perempuan yang dijuluki Ummu Umarah ini, bahkan pernah melindungi Nabi Muhammad SAW dalam perang Uhud, hingga menyisakan 13 luka di tubuhnya. Nusaibah wafat pada peristiwa perang Yamamah (632 M), ia bertempur hingga tangannya terpotong dan sekujur tubuhnya terluka. Sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Kedudukan Nusaibah pada hari ini (Uhud) lebih baik dari pada si fulan dan si fulan.” Selain aktif membela agama Tuhan, srikandi Uhud ini juga dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan.
Menurut penulis, perlu kiranya kehati-hatian dalam menempelkan label triplek yang berkonotasi lemah terhadap perempuan sebagai suatu hal yang kodrati, hanya gegara anggapan bahwa perempuan itu mewek, baperan, apalagi lemah. Buah pikiran seperi itu justru sangat patriarkis dan melenceng dari semangat hadirnya Islam sebagai agama yang membebaskan serta memuliakan perempuan sebagai salah satu mahkluk ciptaan yang sempurna.
Ilustrasi: google
)* Ketua Korp Bhakti Shankara PMII Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga










2 Komentar