Beranda / Esai / Opini / Seni Memahami Ala Schleiermacher

Seni Memahami Ala Schleiermacher

hermeneutik

Oleh: Asrori Satria Aji Pamungkas*

Seiring berjalannya waktu, selaras juga dengan adanya perubahan. Sikap pergerakan menjadi suatu upaya untuk melawan adanya sebuah kemunduran di masa mendatang. Baik dimulai dari pribadi, organisasi, maupun institusi yang dapat mengimplementasikan pola pikir kritis, transformatif dan produktif dalam melakukan inovasi-kreasi. Hal ini tidak hanya dijadikan sebatas pengetahuan saja —yang cukup dimengerti dan ditinggalkan— tapi juga dijadikan sebagai pemahaman.

Di sini ‘memahami’ berbeda dari ‘mengetahui’. Selain dari unsur kata, maknanya pun turut berbeda. Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan, akan tetapi sedikit yang dapat sampai pada pemahaman —dengan menyiratkan kemampuan untuk merasakan sesuatu hal yang dialami oleh orang lain. Tidak hanya itu, ‘memahami’ lebih menekankan terhadap penggunaan rasa atau hati secara keseluruhan. Sedangkan, mengetahui sebagai fokus rasio yang masih pada bagian permukaan atau sebagian.

Pembahasan semacam itu, dalam pemikiran modern, menjadi bahasan ilmu hermeneutik. Secara khusus, ilmu fan ini menggali sebuah makna dari suatu teks (tulisan atau ucapan), dengan mempertimbangkan konteks dan penuturnya. Sehingga, cakupan yang dikaji dari sudut pandang yang luas dan kompleks.

Ketika membahas hermeneutik, entah dalam berbagai literatur atau ruang diskusi, nama Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher ialah nama yang tidak asing. Bukan main, ia dijuluki sebagai perintis hermeneutik modern.

Schleiermacher, sapaan akrabnya, hidup pada abad ke-18 (1768-1834 M). Terlahir dari keluarga Protestan yang taat, Schleiermacher dibekali dengan pendidikan yang baik dan telah disiapkan sebagai pengkhotbah bagi para jemaat Protestan. Namun, dalam perjalanannya, ia malah bertemu dan bergaul dengan para ilmuwan, sastrawan, seniman, cendekiawan, serta budayawan pada masa (Romantik), yang notabenenya sebagai gawang pemikiran kritis di abad itu. Ini pula yang membuat bimbang Schleiermacher antara memilih menjadi pengkhotbah atau ilmuwan.

Pertemuan dengan berbagai kalangan pemikir itu, membuatnya terdorong untuk lebih dalam mengkaji filsafat dengan menerjemahkan dialog-dialog Plato. Alhasil, dari pergulatan itulah yang membawa Schleiermacher lebih condong dalam menggeluti hermeneutik. Oleh beberapa pemikir, lantas, ia pun dijuluki filsuf agama. Bahkan jemaat Protestan pun menggelarinya sebagai Bapak Teolog Protestan.

Adapun ciri khas Schleiermacher dalam hermeneutik ialah konsepnya yang disebut ‘seni memahami’. Maksudnya, adalah suatu kepiawaian terhadap proses menangkap maksud dari kata-kata atau tulisan dari pembuatnya. Seperti ungkapannya terkait penafsiran sebuah teks, bahwa seringkali terjadi kesenjangan dalam memahami antara apa yang dikatakan di dalam teks bahasa (tulisan), serta memahami apa yang dikatakan itu sebagai sebuah fakta di dalam pemikiran penuturnya (konteks). Singkatnya, terjadi mis-persepsi antara ucapan penutur dengan ‘pola bahasa’ yang dipahami oleh pendengar atau pembacanya. Misalnya, isi pikiran terkadang berbeda dengan tulisan. Atau sebaliknya, tulisan yang dibuat oleh penulisnya, memiliki makna yang berbeda ketika dipahami oleh pembaca.

Untuk mengatasi duduk persoalan seperti itu, Schleiermacher menawarkan dua cara dalam mengatasinya. Pertama, Interpretasi gramatis, yakni memahami sebuah pergeseran bahasa (orientasi makna dalam konteks tertentu) yang kemudian diamati dan disandingkan dengan konteks sekarang, sehingga mendapat titik tengah-(objektif)-nya. Kedua, Interpretasi psikologis, yaitu memahami mental penulis dan isi pikirannya. Demikian itu lebih cenderung mengkaji kepribadian penulis, lingkungan tempat tinggal, dan hal-hal lain yang tidak dapat terpisah darinya.

Cara-cara diatas, sebenarnya menggali sebuah makna dari dua dimensi yang berbeda. Yakni dari konteks penutur atau pembuatnya, dan dari teksnya secara literar yang dikaji dengan berbagai perspektif gramatikal bahasa.

Jika hal dua hal itu telah tercapai, maka langkah selanjutnya yakni menyandingkan dua makna dan mencari titik tengahnya yang lalu akan mendapat konklusi makna yang objektif serta berimbang, sehingga menjadi satu pemahaman yang jelas dan utuh.

Ilustrasi: google

 

)* Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga, sekaligus kader PMII Rayon Pembebasan  

 

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *