Beranda / Esai / Opini / Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer; Hakikat Interpretasi

Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer; Hakikat Interpretasi

Gadamer

Oleh: Asrori Satria Aji Pamungkas*

Hans-Georg Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900, dan pada tahun 1922 ia memperoleh gelar doktor filsafat. Menjelang masa pensiunnya pada tahun 1960, karier filsafat Gadamer justru mencapai puncaknya, yaitu melalui publikasi bukunya yang berjudul “Wahrheit und method” (Kebenaran dan Metode). Gagasan Gadamer ini cukup berpengaruh pada ilmu-ilmu kemanusiaan seperti misalnya dalam sosiologi, teori kesusastraan, sejarah teologi, hukum dan bahkan dalam filsafat ilmu pengetahuan alam.

Gadamer melihat bahwa fenomena hermeneutika, pada dasarnya sama sekali bukan masalah metode, dengan demikian tujuan penelitiannya bukan pula suatu methodenlehre yang sekedar masalah merumuskan logika yang dipakai dalam bidang kegiatan untuk ‘mengetahui’. Baginya, hermeneutika bukan tentang metode, karena kebenaran tidak bisa dicapai dengan metode. Pun demikian sama halnya dengan teori. Sebuah teori tidak dapat menerangkan kandungan berbagai teks, apalagi dalam konteks yang berbeda-beda.

Kata Gadamer, semua metode itu terbatas dan pemahaman bisa melampaui kepastian, serta adanya kesalahan disebabkan oleh penerapan suatu metode. Dengan demikian, pemahaman yang benar tidak dapat dimetodekan, serta kebenaran dapat melampaui sebuah metode itu sendiri. Dalam hal ini, Gadamer merencanakan untuk memahami pemahaman se-komprehensif mungkin.

Secara prinsip, tugas hermeneutika adalah memahami teks, bukan tentang pengarangnya. Baik konsep distansi temporal maupun penekanan makna dalam pemahaman historis, seharusnya menciptakan bukti. Teks dipahami bukan karena suatu hubungan antar pribadi-pribadi yang dilibatkan, tetapi dikarenakan partisipasi yang terjadi dalam pokok pembahasan di mana teks dapat berkomunikasi. Selain itu, partisipasi ini menekankan kenyataan bahwa seseorang tidak harus lebih jauh keluar dari dunianya sendiri, membiarkan teks mengarahkan dirinya dalam dunia kekiniannya; ia harus membiarkan teks tersebut hadir bagi dirinya. Bersifat kontemporer.

Pemahaman bukanlah proses subjektif seperti suatu persoalan penempatan diri seseorang di dalam suatu tradisi atau di dalam suatu ‘peristiwa’ yang mentransmisi tradisi tersebut kepada dirinya. Pemahaman merupakan partisipasi di dalam arus tradisi, di dalam suatu momen yang menggabungkan masa lalu dan masa sekarang. Konsepsi pemahaman inilah yang harus diterima. Subjektivitas yang bukan terhadap pengarang maupun pembaca yang merupakan poin rujukan sebenarnya, namun lebih ke makna historis dirinya dalam suasana kekinian.

Gagasan yang menonjol dari Gadamer adalah tugas interpretasi tidak hanya sekedar upaya lama untuk masuk ke dalam dunia lain, tetapi sebagai suatu upaya untuk menjangkau teks dengan situasi kekinian. Apakah ia menjatuhkan suatu penilaian atau mendakwahkan suatu upacara ritual, interpretasi harus mencakup tidak hanya penjelasan apa yang dimaksud dalam teksnya sendiri, tapi juga apa yang dimaksudkan dalam momen kekiniannya –kontekstualisasi. Dengan kata lain, “memahami teks selalu sudah merupakan pengaplikasiannya”.

Untuk dapat memahami sebuah teks, harus dibuang jauh-jauh segala bentuk prakonsepsi dengan maksud supaya kita menjadi terbuka terhadap apa yang dikatakan oleh sebuah teks. Sebaliknya, mengantisipasi dan menginterpretasi menurut apa yang kita miliki, apa yang kita lihat, serta apa yang kita peroleh kemudian. Jadi, bukan dengan pertimbangan yang kita peroleh sebelumnya, yang oleh Gadamer dinilai sebagai negatif dan rendah. Ia sendiri mengakui pertimbangan seperti itu tidak salah, sebab ada beberapa pertimbangan yang dianggap berlaku, yaitu yang menentukan realitas historis keberadaan seseorang, seperti misalnya bildung.

Adanya antsipasi terhadap makna, yakni berasal dari pertimbangan sebelumnya atas keseluruhan pemahaman melalui bagian-bagiannya. Gadamer menyebut hal itu sebagai makna atau arti dan pemahaman yang akan datang, yang juga merupakan persyaratan hermeneutik, sehingga membuat pemahaman itu menjadi suatu ‘hubungan yang historis dan efektif’.

Pemahaman hanya akan terjadi dalam konteks atau cakrawala sejarah yang terus-menerus berubah. Inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa interpretasi tidak pernah bersifat monolistik atau mempunyai satu aspek tunggal, kaku dan statis. Jika cakrawala sejarah terus-menerus berubah, pemahaman akan mengikuti konturnya (garis bentuk) dan juga bentuknya.

Di dalam hubungan timbal balik antara beberapa konteks sejarah, Gadamer menegaskan bahwa sebuah teks, baik itu peraturan perundang-undangan maupun nash/kitab suci, harus dipahami setiap saat, dalam setiap situasi khusus, dengan cara yang baru dan berbeda dengan yang lama –jika kedua hal tersebut ingin kita pahami sebagaimana mestinya.

Menurut Gadamer, ada empat konsep yang harus diperhatikan dalam proses interpretasi. Pertama, bildung atau pembentukan jalan pikiran, ini menggambarkan cara utama manusia dalam perkembangan bakat-bakatnya. Di sini, dapat menentukan pandangan dan pemikiran seseorang tentang sesuatu. Kedua, sensus communis atau pertimbangan yang arif, istilah ini mempunyai aspek-aspek sosial atau pergaulan sosial, yaitu rasa komunitas. Dalam hal ini maka kita dapat mengetahui—hampir-hampir—secara instingsif bagaimana menangani interpretasi. Bersifat reflektif.

Ketiga, practical judgment atau kearifan praktis, menggolongkan hal-hal yang khusus atas pandangan yang universal, atau mengenali sesuatu sebagai contoh perwujudan hukum. Dalam hal ini, kita terutama memahami pertimbangan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan apa yang harus dilakukan, sesuatu yang tidak dapat dipelajari ataupun diajarkan, tetapi hanya dapat dilaksanakan dari satu kasus ke kasus lainnya. Keempat, taste atau selera, suatu keseimbangan antara insting pancaindera dengan kebebasan intelektual. Selera dapat diperhatikan dan membuat kita mundur dari hal-hal yang kita sukai, serta meyakinkan kita dalam membuat pertimbangan.

Dari semuanya itu, konsep tentang pengalaman termasuk di dalamnya. Sifat pengalaman adalah personal dan individual, jadi hanya akan valid jika diyakinkan dan diulangi oleh individu lain. Pengalaman yang benar hanyalah yang secara historis dimiliki seseorang. Orang yang berpengalaman mengetahui keterbatasan semua prediksi dan ketidaktentuan semua rencana. Seseorang yang berpengalaman perlu bersikap terbuka terhadap pengalaman baru, menjauhkan dari hal-hal yang bersifat statis dan dogmatis, mencari fleksibilitas dan transparansi yang memungkinkan untuk menerima kebenaran yang berasal dari dunia eksternal dalam arah yang memusat.

Ilustrasi: google

 

)* Kader PMII Rayon Pembebasan sekaligus mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *