Beranda / Seni dan Sastra / Serba-Serbi Cerpen Siswa Kelas Bahasa MAN I Temanggung

Serba-Serbi Cerpen Siswa Kelas Bahasa MAN I Temanggung

ikan

Hati-Hati dalam Bertindak

Oleh: Sheila M

 

Kehidupan yang mewah kadang-kadang membuat orang-orang menjadi seenaknya. Sebab, dengan banyaknya materiel yang dimiliki, membuat ingin segala keinginannya terpenuhi. Namun sebelum itu, pasti ada kerja keras dibaliknya, seperti kehidupan salah satu artis papan atas yang bernama Celsy. Ia adalah penyanyi dan juga model, pekerjaannya selalu menghasilkan rating tinggi. Oleh karena itu, uang yang dihasilkan juga tidak sedikit. Ia dipandang sebagai artis yang sempurna bak bidadari, namun tetap saja apa yang kita lihat pasti sudah terfilter dengan baik, kita tidak tahu sifat dan kehidupan Celsy yang sebenarnya.

Saat menampaki posisi di atas, seringkali membuat seseorang menjadi sombong dan tidak ingin tersaingi. Ini pula yang dialami Celsy. Ketenarannya membuat lupa darat.  Sampai pada saatnya, muncullah penyanyi baru bernama Yura. Ia diketahui mempunyai suara yang sangat berkarakter, wajah cantik yang cantiknya melebihi Celsy, serta bakat menarinya yang lemah gemulai —sehingga, dengan cepat menggeser posisi Celsy.

Mengetahui para penggemarnya berpaling darinya, Celsy kesal. Lagi-lagi, sifat seorang anak Adam ialah mudah iri dan menyalahkan orang lain. Jauh dari kata muhasabah diri. Ia pun berapi-api dan membara kebenciannya terhadap Yura. Niat jahat pun mulai terpikirkan olehnya. Celsy lalu memikirkan rencana yang matang, agar si Yura ini dapat ia celakai.

Kebetulan, besok lusa ia diajak oleh Yura untuk makan malam bersama, tentu saja Yura tidak merasa aneh kepada Celsy karena berpura-pura baik di depan, pintar menghadapi keadaan dan mengubah ekspresi wajah. Mudahnya, Celsy bermuka dua.

Hari ini adalah hari dimana Yura mengajak Celsy makan malam, setelah sampai di restoran, Yura menyambut Celsy dengan ramah seakan malam ini adalah malam yang bahagia. Setelah makan malam selesai, mereka mengobrol santai tentang bagaimana kehidupan menjadi selebriti, tentu saja hal itu membuat Celsy kesal. Setelah perbincangan selesai, Celsy diam-diam mengajak Yura foto bersama di balkon restoran yang berada di lantai tujuh. Betapa kagetnya Yura, karena tiba-tiba Celsy mendorongnya melewati pagar trails pengamannya.

Yura pun jatuh dari ketinggian tujuh lantai. Yang kalau ditaksir, kurang lebih 24 meter dari tanah. Yura tewas. Meninggal. CCTV di lantai itu error dan tidak ditemukan petunjuk siapa pembunuhnya. Hati Celsy telah ditutupi oleh kedengkian sehingga membuat ia tidak memikirkan resiko dari apa yang telah ia perbuat. Bahkan esok hari setelah Yura dimakamkan, ia masih belum mengakui perbuatan jahatnya. Namun, bagaimanapun juga, serapat apapun suatu kejahatan ditutupi, pada faktanya akan terbongkar jua.

Dua hari setelah kematian Yura, berita menyebarkan kabar bahwa Celsy menjadi tersangka utama pembunuh Yura. Di depan rumahnya, banyak wartawan yang ingin meliput wajah kusut Celsy. Oleh polisi, Celsy dibawa ke pengadilan untuk sidang. Celsy sangat kaget. Dalam hati, ia bertanya-tanya, “Siapa yang telah membongkar perbuatanku ini? Padahal, sudah ku rencanakan dengan matang dan teliti.”

Adapun saksi pembunuhan tersebut ternyata adalah manajer Yura yang diam-diam mengikuti dan merekam seluruh kejadian saat itu, karena ia juga curiga atas gerak gerik Celsy. Akhirnya Celsy penjara sesuai hukum pidana yang berlaku. Kehidupan yang ia bangun, yang semula dari nol sampai ke menara gading karirnya, raib gara-gara kecerobohan dan kedengkiannya. Semua orang memandang buruk dan membencinya. Celsy menerima hukuman atas dosa besar yang telah ia perbuat.

Tentu saja Celsy menyesali perbuatannya karena tidak bisa berpikir jernih, sekarang harta benda yang telah ia miliki sudah tidak berguna, menjalani kehidupan yang buruk di sel penjara, semua orang mencaci dan mencerca perbuatan buruk Celsy. Ia menderita. Hanya bisa berharap, agar waktu dapat diputar kembali.

**********

 

Pilih Kasih Seorang Ibu

Oleh: Faiza Alya Salsabila

 

Pada suatu hari, di sebuah keluarga yang sederhana, hiduplah seorang lelaki bernama Raka. Dia memiliki seorang adik yang bernama Gio, yang selisih antar keduanya berjarak dua tahun. Saat itu Raka duduk di bangku 2 SMA, sedangkan adiknya kelas 3 SMP. Mereka berdua memiliki hubungan yang kurang baik dan sering berkelahi secara fisik.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab mereka sering berkelahi karena Raka sangat sebel dengan Gio. Usust punya usut, ternyata masalah ini bermula dari Ibu mereka yang tidak adil. Suka membanding-bandingkan anak. Gio lebih disukai dan dimanjakan oleh ibunya ketimbang si Raka, yang dipandang sebelah mata.

Pernah pada suatu malam, Raka dihukum oleh ibunya hanya gara-gara dirinya mendapat nilai yang buruk. Dan hal itu membuat Raka menjadi tertekan, ia merasa hidupnya tidak berguna. menyesal telah dilahirkan di dunia. Alhasil, karena ia juga marah dengan ibunya, maka ia pun saat itu juga memutuskan untuk pergi—keluar dan bertemu teman-teman tongkrongannya. Inilah yang menjadi sebab-sebab kenapa Raka mulai tak terkendali, mencari suasana, yang menurutnya bisa menggembirakan.

Raka mulai memiliki pergaulan yang sangat bebas, berbeda dengan adiknya Gio yang lebih memilih untuk selalu dirumah dan tidak neko-neko. Ia bergaul dengan anak-anak yang suka mabuk, judi—yang sering ngamen di perempatan jalan.

Suatu ketika, Raka kembali dimarahi oleh ibunya. Raka yang sudah benar-benar berusaha belajar dengan keras, namun pada faktanya tetap mendapat nilai buruk pada saat ujian akhir semester. Frustrasilah dia. Memang, ketika seorang ibu sudah marah, sungguh membekas di hati anak-anaknya.

Raka pun langsung keluar dari rumah sembari membanting keras pintu rumahnya. Lihat, apakah ibunya peduli? Tidak. Baginya, hanya Gio-lah anaknya. Raka hanya dianggap beban dan angin lalu saja.

Sudah bisa ditebak, ke mana Raka akan pergi. Ia pun langsung menuju tempat tongkrongan teman-teman nakalnya. Saat itu juga, teman-temannya menyodorkan sebuah minum dengan wadah botol kaca yang bertuliskan “Anggur Merah Cap Orang Tua”. Raka pun tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran itu dan meminumnya sampai mabuk. Hal ini semakin berlanjut dan akhirnya menjadi kebiasaan Raka. Setiap kali merasa frustrasi dan tertekan, maka ia akan melampiaskannya dengan minum minuman yang memabukkan.

Pada akhirnya, Raka jatuh sakit. Raka mengalami peningkatan pada tekanan darahnya sehingga membuatnya jantungnya lemah. Selain itu, ia juga terkena gangguan ginjal. Setelah dibawa ke dokter, ternyata hal itu karena Raka meminum minuman keras yang sudah dioplos dengan beragam obat-obatan keras.

Ia menyesal akan kebiasaan buruknya yang suka mabuk-mabukkan. Dengan tangan lembut dan penuh kasih sayang, ibunya juga meminta maaf kepada Raka karena selama ini ia tidak memberikan kasih sayang dan perhatian penuh kepada Raka. Ibunya sadar, Raka menjadi seperti itu karena ulahnya sendiri yang memandang sebelah mata kepada Raka. Atas kejadian tersebut, Raka benar-benar memulai kehidupan yang baru. Ia sudah berhenti mabuk-mabukkan dan kembali mendapat kasih sayang dari ibunya.

**********

 

Anak Lumpuh Karena Durhaka Kepada Ayah

Oleh: Diyah Ayu Kusuma Nabila

 

Alkisah, hiduplah seorang pemuda bernama Abdul. Abdul merupakan sosok yang cukup taat beribadah. Namun, layaknya pemuda kebanyakan, ia beberapa kali merokok. Hal ini tentu tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.

Suatu hari, sang ayah mendengar dari seseorang bahwa anaknya tengah merokok. Tentunya, merokok bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap ayah terhadap anaknya. Maka setelah menemui Abdul, sang ayah bertanya, “Apakah kamu merokok nak?” Karena tak ingin ketahuan, akhirnya Abdul memutuskan untuk berbohong. “Demi Allah Yah, aku tidak merokok!” Ujar Abdul dengan nada bicara yang tak mau kalah. Suaranya lebih tinggi melebihi suara sang ayah.

Abdul berusaha sebisa mungkin terlihat meyakinkan. Ia berusaha untuk bersikap tenang. Pasalnya, sang ayah tak pernah secara langsung melihatnya merokok, melainkan hanya mendengarnya dari orang lain. Di saat yang sama, sang ayah juga sangat yakin kalau anaknya itu merokok. Kemudian berkatalah sang ayah pada Abdul, “Jikalau engkau berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.” Itu adalah ucapan serapah dari sang ayah. Ia, sebenarnya sangat marah dengan Abdul. Sebabnya, tak pernah pun si ayah mengajari merokok kepada Abdul. Toh juga merokok adalah suatu yang dosa dan bersifat sia-sia.

Adalah bohong apabila Abdul tak takut dan ndredeg setelah mendengar sumpah serapah yang keluar dari lisan sang ayah. Namun, karena masih berdiri pada pendiriannya, Abdul enggan menyangkal dan meneruskan kebohongannya tersebut. Bohong yang dibarengi dengan sumpah atas nama Allah tersebut. Sungguh akan sangat menyesal apabila Abdul tidak segera menarik ucapannya.

Keesokan harinya, Abdul pergi ke laut bersama adik dan teman-temannya. Selesai berenang, mereka menyempatkan  diri ke kolam renang di dekat pantai. Kolam tersebut masih dalam keadaan tertutup, sementara teman- temannya berniat pulang. Karena tak mau sendiri, Abdul meyakinkan adik dan temannya untuk bermain sebentar. Abdul berniat untuk memanjat pagar. Teman- temannya setuju. Mereka memanjat pagar bersama dan masuk ke kolam renang. Kolam itu dibuat dengan kedalaman bervariasi, ada yang satu setengah meter, ada pula yang tiga meter.

Tinggi Abdul saat itu seratus delapan puluh senti meter. Cukup tinggi untuk ukuran orang  Indonesia. Kondisinya pun sehat wal afiat. Namun, saat ia melompat ke dalam kolam renang, seketika ia menjadi lumpuh. Kepalanya membentur dasar kolam renang sehingga menyebabkan lehernya patah. Tubuhnya lumpuh total dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Darah mengalir dari lubang hidungnya. Darah tersebut sedikit  membuat air di dalam kolam renang menjadi merah. Mulutnya kelu dan sulit berbicara. Abdul sekarat. Sementara adik dan teman- temannya tak tahu keadaa Abdul sama sekali. Mereka sibuk dengan kesenangan mereka sendiri  di  kolam renang.

Salah seorang temannya menyadari hilangnya Abdul dan menanyakan hal tersebut kepada sang adik. “Kakakku gemar menyelam, nanti juga akan muncul,” jawab sang adik dengan santai. Kemudian adik Abdul keluar dari kolam renang, mengeluarkan sebatang rokok dan hendak menghisapnya. Di dalam kolam renang, Abdul masih berusaha agar  tetap sadar. Ia berusaha mengeluarkan napas sebagai tanda untuk teman- temannya agar segera menolong Abdul.

Di tengah perjuangan besar Abdul untuk tetap hidup, Abdul melihat sebuah rekaman dalam benaknya. Rekaman tersebut memperlihatkan kejadian-kejadian semasa 19 tahun hidupnya. Dari kecil hingga dewasa, ia banyak melakukan maksiat. Rekaman tersebut diakhiri dengan kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu, Abdul tengah bersedekah kepada ibu pemulang dengan memberikan makanan untuknya. Ibu pemulung tersebut terharu kemudian membalas Abdul dengan mendoakannya. Setelah melihat rekaman tersebut, hati Abdul menjadi lapang. Ia segera mengucap dua kalimat syahadat sebelum akhirnya tak sadarkan diri di dalam air.

Tatkala mendengar kabar Abdul tengah sekarat, maka sang ayah segera menuju rumah sakit. Tak lama kemudian ibunya menyusul sambil menangis. Rupanya Allah hendak memberi Abdul kesempatan untuk bertaubat. Abdul masih bisa tertolong walaupun hidup dengan tulang leher yang patah. Padahal sangat mudah bagi Allah untuk mencabut nyawa Abdul saat itu juga. Jikalau demikian, maka Abdul meninggal dalam kedaan durhaka karena telah meninggikan suara di hadapan orang tua, ditambah ia telah melakukan sumpah palsu atas Tuhannya.

Kisah ini jadi pelajaran bagi kita semua. Tak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput, akankan kematian kita mendahului orang tua kita atau justru sebaliknya, namun cukuplah alasan tersebut agar kita senantiasa berbakti dan menjauhi durhaka. Semoga kita termasuk orang- orang yang shaleh.

Ilustrasi: pinterest

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *