Oleh: Khoirul Umam*
Jogja: Rindu-Pulang-Angkringan
Sebab Jogja terbuat dari rindu-pulang-angkringan
Tuhan begitu cerdik menciptakan tempat kenangan: malioboro, Tamansari, serta keraton yang sempat menjadi persemaian raja-raja mataram
Rindu; adalah bekas keningmu yang berkaca dan membasuh luka
dari air mata yang penuh dengan cinta
Pulang; adalah dialog kita yang sering di padu-padankan
dengan sunyi yang kehilangan bunyi kekasih
Angkringan; adalah sisa tangismu yang menggenang pada tanah
dengan menyusun bangunan-bangunan yang berpondasi dari tubuh kita
Perihal Jogja; adalah kota lapang yang meneruskan keindahan-Mu untuk saling menjaga
Yogyakarta, 2020
Tahun Pandemi
Sejak tahun pandemi
aku kehilangan kening di bibir senja, lalu melahirkan kisah baru yang bernama kenang
Satu hari telah menjelma selamanya
sejak daun-daun gugur berwujud engkau, dan menjadi hantu dalam seluruh usia
Sejak tahun pandemi
dosa-dosa menumpuk setinggi bulan diatas kepala
burung-burung mengurungkan terbangnya, saat aku mulai menapakkan kaki keluar dari pintu rumah
Dibalik riuh kota yang berkata-kata
tuhan mengirim sunyi dari rahim waktu yang mematung di jendela
Sejak tahun pandemi
Aku bersaksi bahwa tak ada yang paling kenang selain keningmu
dan kisahmu, abadi dalam tubuh kita
Yogyakarta, 2020
Mata Kisah
Aku bersyukur bisa mendapatkan satu hari yang dapat menjelma satu tahun: bahagia, cumbu mesra, serta luka-luka
komplit seperti kaleng biskuit
Hatimu luas seperti lautan mataku; pasang dan surut selalu terjadi meski tak ada tragedi
sebab antara takdir dan nasib; kita adalah pasien yang selalu berdoa untuk sembuh dari segala sesuatu yang membikin lara
Mari bersama-sama meniup terompet tahunan
seraya berdoa untuk menjadi kekasih yang tak pernah patah dalam mata kisah
Yogyakarta, 2021
November
Sejak november bertamu
hujan menciptakan kata-kata yang ranum di mataku
rintik menjelma kekasih manakala diri sedang sunyi tanpa bunyi
Tangan getir: bilamana hujan turun tak dapat menjadi sebuah puisi
mata muram tak dapat memandangi cakrawala yang berhias pelangi
Saat hujan berjatuhan seluruh manusia menengadah dan merapal doa, agar cita-cita dan cinta dapat menjadi mulia
Sejak november bertamu
kaulah manusia terkasih dari cipta tuhan yang selalu berbakti
Yogyakarta, 2021
Pelajaran Berpuisi
Minggu pertama: guru mengajarkan menulis dan menangis
ia menerangkan bab daun-daun
yang gugur di hempas oleh angin musim pada saat tanah merindukan bau tubuh kekasih
Minggu kedua: guru mengajarkan mengasih dan mengasuh
menerangkan kasih ibu melalui rahim kisah yang bernafas dalam kandungannya
ia rela menaik-turunkan suara agar siswa bisa meluangkan waktu untuk berdoa
Minggu ketiga-seterusnya: guru menerangkan nasib dirinya; bahwa ia dibesarkan oleh puisi dan berbiak kedalam relung kata-kata
Yogyakarta, 2020
Dengan Kata Lain
Dengan kata lain
manusia yang berjuta-juta, sebab beranak-pinaknya matamu
Ia menembus kedalam kesunyian malam
mengembara dengan sepasang burung-burung yang berbasah-kuyup sebab guyur airmata
Dengan kata lain
bumi letih, serta langit yang merintih adalah cerita kelam yang kau simpan rapi dalam kotak kumuh
tenang seperti sebuah makam
Pada hari menjelang malam
dosa-dosa manusia menjadi gema dalam ruang kecil tak tembus oleh suara dedaunan, pun kedalam bumi yang memanggil-manggil saat keadaan menggigil
Dengan kata lain
Seluruh anggota tubuhku adalah susunan dari kata-kata yang kehilangan penulisnya
Yogyakarta, 2020
Peristiwa Hujan Malam
Hujan malam tengah menceritakan rintik demi rintik
jatuh menjelma mata air yang subur dan makmur
orang-orang tengah berjaga dari kantuknya, untuk merapal doa yang tiap harinya masih berlalu-lalang dalam kepala
Hujan malam adalah kata-kata mulia kepada daun yang tentram; bahwa angin telah diam-diam menjamu dan memburu
Perihal hujan malam
kita adalah kekasih yang tengah memburu rindu untuk selamat dari perjamuan gigil yang belum usai
Yogyakarta, 2021
Ilustrasi: google
)* Pegiat Literasi Komoenitas Maos Boemi (KMB)










2 Komentar