Oleh: Elje Story*
Koin Terakhir
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Mazmur 23:1b(TB)
Di sudut gelap Stasiun
Aku bisikan sebaris doa
Kata penenang dari sergapan dingin
Mantra yang meyakini Tuhan Maha Menjaga; takkan kekurangan aku.
Tinggal tiga koin yang tersisa
Terganti kopi untuk hangatkan diri
Atau tiga gorengan untuk temani hari?
Ah, pilihan yang sulit!
Kumandang azan subuh sadarkan diri
Biarlah ku pinta air hangat saja
Semoga ada sisa koin sampai rumah tiba
Di sudut temaram Stasiun tua; satu koin terakhir tersisa.
Surabaya, 2021
Sepiring Nasi
Untuk setiap jiwa berkeyakinan
Hening itu simbol suci
Tuhan ada di sana
Dalam selubung kata Sang Maha
Tudung saji hari ini suguhkan sepi
Hanya nasi putih yang mengisi
Harap dan kenangan sarapan pagi
Semoga hening yang sama; Sang Maha saksikan juga
Garpu dan sendok tertelungkup
Rindu empuk daging berlemak
Kuah kaldu penuh rempah dalam ingin
Tersisa sepegal lauk syukur
Taburi sarapan pagi; sepiring nasi.
Surabaya, 2021
Medali Kehormatan
Sepeda putih di lajur kiri
Melaju tanpa deru
Tanpa risau dengan kepadatan pagi
Kaki kanan mengayuh tak henti
Peluhnya menetes ke bahu
Tidak kudapati keluh terpaut di wajah
Senyum yang lebar dan tulus terpampang jelas
Aroma tubuh menyengat; harum kejantanan.
Dalam pikir pun tak berani mengandai
Sedetik saja tak mampu di posisinya
Tubuh yang utuh saja banyak kesah
Dia lelaki sempurna
Bertahan dengan jiwa merdeka
Orang pandang itu kecacatan; mataku lihat medali kehormatan.
Surabaya, 2021
Cincin Emas
Dalam ruang doa kususun setiap kata
Namun yang ada hanya air mata
Kupegang dalam simpuh cincin di tangan kiri
Dalam doa luruskan laku penuh liku
Duka ini Engkau tahu Sang Maha Pengasih
Kugaungkan ujaran pedih
Menggenggam cicin yang dulu sepasang
Namamu terukir di lekuknya
Terpeluk erat sebagai organ vital harga diri
Kulepas perlahan dengan perih yang tak tertahan
Kepadanya yang dulu berikrar setia
Kini ingkar dengan cincin lain yang lebih mulia
Aku lepaskan pengampunan
Aku memaafkanmu wanita yang dulu tercinta
Hingga damai penuhi sukma
Aku ikhlaskan bersama warna memudar, cicin emas dari cinta tercemar.
Surabaya, 2021
Bayangan Luka
Aku masih kesulitan merangkai kata
Kekuatanku menguap
Harapan terkubur kabur bersama bayangmu
Pendar sorot mata coklat
Memikat hati; menjerat hasrat
Bahagia cinta tersulih nelangsa
Saat cumbu rayumu bergetar nada bahagia
Terpeluk erat tubuh langsat
Seharusnya yang di sana itu aku!
Kamu paling kucinta malah paling membawa lara
Sudut-sudut kota menimbulkan bayangan luka.
Surabaya, 2021
Ilustrasi: google
)* Penulis buku “Lelaki, Wanita, dan Musim Ketiga”, dan pegiat sastra di Asqa Imagination School









