Oleh: Abdullah Adhim*
Ejakulasi Dini
Ruang merajut kasih menarikku kembali
Mengajakmu menuju kepasrahan paling suci
“Mari kesana, ciptakan kejadian kita” kataku mengajak
“Kau duluan saja, aku masih sibuk!” jawabmu dengan merapalkan mantra tanpa usai
Termangu-mangu didepan pintu
Dan kau masih berjalan, perlahan-lahan
Sesekali kuberi koin bergelinding untuk menyadarkan lakumu
Sesampainya, kita sama-sama mematung didepan pintu
Tanpa ada yang bersuara
Tanpa gerak
Dan bersimpuh lunglai
Pada kaki yang tak kuat lagi
Diatasnya ternyata sudah ejakulasi dini
Yogyakarta, 2020
Cerita
Dibalik cerita arok dedes
Tak ada kelas di meja belajar kita
Dibalik cerita Gusdur
Tak ada kelas diantara manusia
Dibalik cerita Pram
Kita abadi disela-sela tulisan
Dan semua cerita
Ada kita sebagai penghening cipta
Bondowoso, 2020
Kejam
Adakah yang lebih kejam dari tombakmu pada rindu sampai menggebu?
Adakah yang lebih kejam dari pisaumu pada kisahku sampai darah mengalir deras ditubuhku?
Adakah yang lebih kejam dari meremuk redamkan aku pada senja yang tergantung dipelupuk silau matamu?
Izinkan aku berkata:
“Sesungguhnya tiada rasa yang menggantung diselaksa alam dunia. Ia hanya menggantung diAtas sana!”
Yogyakarta, 2020
Perkosa
Semalam dudukmu begitu dekat sampai aku dekap dalam mimpi yang berkeliaran
Setelah itu, aku terbangun mengingat mimpiku yang tertidur
Disana, aku melihat dasi-dasi disampingmu mengikat erat, mencekik dan mematahkan setiap sendi
“Aku tak sanggup!” teriakmu
Sedangkan aku termangu-mangu bercampur rasa tiada tara dibalik dasi-dasi itu
Bagaimana aku tak terbangun, kasih?
Padahal, semua terlalu rumit kecuali diatas sajadah dan tinta yang bergairah
Dan kamu dibawa ke kamar tak terjamah untuk ritual kembali pada waktu yang terkubur dalam sejarah
Yogyakarta, 2020
Maret dan Ngopi
Bulan-bulan dalam almanak ngopi dipelataran teras maret kecuali april yang mendekam dipojok kamar
Lantaran tempo hari, meliht maret babak belur seperti ayam jagoan kalah dimedan perang
Mereka saling bercerita hari-hari yang mereka kandung;ada sesungging senyum setelah air mata
Sedang maret cuma membisu
Dipendam segala resah
Karena nasibnya tak lebih mujur dari yang lain
Bulan-bulan hanga menengadah, lalu pergi tak pernah ngopi lagi
Yogyakarta, 2020
Kuda
Dipadang sahara
Kuda-kuda berlari dengan kencang
Sedangkan kita berkencan diatas punggungnya
Minum tuwak dan mabuk berak
Diakhir lintasan ada jurang bersemak belukar
Kita sudah mengira
Tapi melanjutkan jalan cerita persis dugaan duka
Kuda-kuda terjun payung;kita berlindung diperutnya
Kuda hidup dinirwana
Kita hidup tiada guna
Yogyakarta, 2020
ilustrasi: google
)* Kader PMII Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga










Satu Komentar