Beranda / Resensi / Turki yang Komunis

Turki yang Komunis

Turki

Oleh: Slamet Makhsun*

Dalam dekade terakhir, Turki menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan positif dari banyak Muslim Indonesia. Hal itu karena semenjak dipimpin Erdogan, manuver politik Turki menunjukkan keberpihakannya terhadap Islam. Misalnya seperti mengecam kolonialisasi Israel di Palestina, menampung imigran asal Suriah, merubah Hagya Sophia yang semula museum menjadi masjid, membuat undang-undang yang bernafaskan Islam, memperbanyak Sekolah Imam Hatip (lembaga pengkaderan muballigh).

Sontak, hal itu menandakan panorama yang Islamis. Apalagi, dengan benang merah Turki sebagai pewaris Kekhilafahan Osmani, lengkap sudah membuat Turki dicap sebagai negara ‘Muslim’ percontohan. Tentu, narasi-narasi seperti itu terus diangkat di media sosial, sehingga sisi lain Turki yang non-Islamis luput diperlihatkan. Hal ini berbahaya. Karena narasi yang hanya melihat satu sisi, pada efeknya akan membuat pernyataan yang menyerang, yang lalu tidak adil—berat sebelah.

Buku berjudul Kitab Hitam Turki karya Bernando J. Sujibto ini, tak lain membahas Turki dari isu-isu yang jarang dikupas oleh Muslim Indonesia. Ia yang bersinggungan dengan Turki secara langsung, sedikit banyak telah paham bagaimana Turki yang ‘sebenarnya’ itu. Salah satu isu yang jarang muncul di media sosial tanah air, misalnya terkait Partai Komunis Turki (Turkiye Komunist Partisi/TKP) yang sampai saat ini masih eksis dan legal.

Komunis di Indonesia, dinarasikan sebagai partai dan gerakan yang bersifat aib. Banyak masyarakat kita, apalagi yang beragama Islam, telah tergores luka yang mendalam akibat peristiwa G30S PKI, dan yang kemudian dicap sebagai gerakan pengkhianatan terhadap negara. Berbeda, Komunis Turki mendapat tempat dan penerimaan.

Meski komunisme secara umum dianggap sebagai ‘musuh’ bagi mayoritas rakyat Turki, kebanyakan dari kelompok sekuler—yang jumlahnya cukup banyak—biasanya mendahulukan hak-hak rakyat, kebebasan berekspresi, dan komitmennya terhadap Turki yang mandiri, sehingga kemunculan gerakan seperti itu tetap mendapat ruang dan bahkan simpati.

Kehadiran komunisme di Turki tidak sekonyong-konyong muncul. Semenjak negara republik itu berumur muda, Mustafa Kemal Ataturk mulai menjajaki kerja sama dengan Bolsevikler, fraksi pecahan Partai Sosial Demokrat Rusia. Lambat laun, ideologi komunisme mulai menginfiltrasi Turki. Berkembang dan mencipta kader-kadernya.

Saat ini, Komunis Turki jika dikalkulasi secara nasioal, masih memiliki angka yang sedikit dibanding dengan kelompk lain. Kebanyakan berpusat di daerah timur dan tenggara, yang merupakan daerah rawan konflik. Seperti di kota Konya, Kayseri, Van, Igdir, Diyarbakir, Malatya, Kahramanmaras, Tunjali, Ovacik, dan Adana. Daerah-daerah yang dihuni mayoritas suku Kurdi tersebut, identik dengan gerakan resistan. Sebab, paham kiri telah mentradisi. Hal itu merupakan produk sejarah yang berkembang massif sejak dekade 1960-an hingga pasca 1990-an.

Kala itu, hanya ada dua model pendidikan. Pertama, sekolah Imam Hatip yang bernuansa Islam konservatif. Kedua, sekolah milik pemerintah, yang kurikulumnya sudah disusupi paham-paham Marxis dan Leninis. Pemuda yang memilih sekolah di lembaga pemerintah, secara tak langsung telah menjadi kader komunis. Walau sebenarnya, saat ini sudah dihilangkan, namun jejak-jejaknya masih ada. Bahkan, itu diwariskan secara kultural sehingga pemerintah tidak bisa menyentuhnya secara langsung.

Sejarah panjang seperti itu, tidak mudah dihilangkan. Yang kemudian gerakan sosial-politik di daerah Turki timur dan tenggara terus diinfiltrasi oleh ideologi kiri. Bukti puncaknya adalah dengan terpilihnya Fatih Mehmet Macoglu dari Partai Komunis Turki sebagai bupati di Ovacik, pada pemilu lokal 30 Maret 2014. Pun pada pemilu lokal selanjutnya di Tunceli, secara meyakinkan, Macoglu memenangkan perebutan kursi dengan 32,77 persen suara.

Kemenangan Macoglu dalam dua kali pemilu lokal, bisa dijadikan jalan lebar Partai Komunis Turki dalam mengepakkan sayap-sayapnya di ranah nasional. Daerah Ovacik dan Tunjeli yang telah Mocaglu pimpin, terbukti telah banyak mengalami perkembangan dan kemajuan. Sosok Mocaglu yang merakyat, telah membuat dampak yang hebat. Ia bersama rakyatnya membuat program-program terobosan secara intensif dan massif.

Sektor pertanian sebagai penghasilan terbesar rakyatnya digenjot, literasi disemarakkan, beasiswa disediakan, sistem bantuan sosial direvolusi, dan transparansi keuangan pun dipraktekkan. Itu tak lain adalah ejawantah dari ideologi Komunis yang ia pahami. Sehari-hari, Mocaglu menghadirkan dirinya sebagai sosok kawan rakyat. Alhasil, walaupun ia sebagai tokoh Komunis yang memiliki banyak musuh politik, namun warga Turki secara keseluruhan tidak mencercanya—yang berarti, banyak yang menerima dan bersimpati padanya.

 

Judul Buku      : Kitab Hitam Turki

Penulis            : Bernando J. Sujibto

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Pertama, September 2021

Tebal Buku     : 181 Halaman

ilustrasi: google

 

)* Pegiat Literasi di Garawiksa Institute Jogjakarta

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *