Jogja—Azisurrohman selaku Ketua Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) UIN Suka (Sunan Kalijaga) Yogyakarta, mengajak generasi muda untuk terus menggali dan meneladani perjuangan para pahlawan. Baginya, dengan meneladani para pahlawan, generasi muda dapat meneruskan semangat juang yang telah mereka lakukan.
“Saat ini, generasi muda cenderung kehilangan arah. Adanya gelombang digitalisasi yang bertubi-tubi membuat mereka terbawa arus. Mereka kehilangan jati dirinya. Padahal, jika generasi muda tidak punya arah dan tujuan yang jelas, mereka tidak akan bisa secara maksimal dalam mengelola bangsa ini ke depannya. Oleh sebabnya, dengan menggali substansi hari pahlawan, generasi muda diharap mampu meneruskan api perjuangan dari para pahlawan yang telah berkorban demi bangsa dan negara ini,” ucap Aziz saat di konfirmasi pada Rabu (10/11/2021).
Walaupun begitu, generasi muda harus bisa menafsirkan kata ‘pahlawan’ sesuai dengan eranya. Jika dulu para pahlawan ialah mereka yang berperang mati-matian melawan penjajah, barangkali di era sekarang kata pahlawan dapat diartikan bagi siapa saja yang berbuat kebaikan demi bangsa dan negara ini. Misal berprofesi menjadi guru, maka sebisa mungkin mengajarkan anak didiknya dengan dedikasi yang maksimal. Misal berprofesi sebagai petani, maka sebaik mungkin dalam bertani agar dapat panen dengan maksimal. Begitu pula dengan pekerjaan lain seterusnya.
Selain itu, Azis turut menyampikan bahwa sebagai generasi muda, harus melek politik.
“Generasi muda harus melek politik. Di era seperti ini, banyak para pejabat yang dengan enteng membuat kebijakan sehingga menyengsarakan rakyat. Mentang-mentang memiliki kuasa, sehingga semena-mena dengan rakyat. Di negara demokrasi ini, rakyatlah yang berkuasa. Oleh sebabnya, generasi muda dengan semangat apinya, seharusnya bisa mengontrol kebijakan negara agar sesuai dan tidak menyengsarakan rakyat,” ujarnya.
Problematika negara kita hari ini, nampak dari perilaku pemerintah yang masih menghambat kebebasan sipil, represif, kurang mendengarkan aspirasi rakyat, bahkan misal ada rakyat yang mengkritik misalnya, malah dituduh melecehkan negara.
“Jika kita amati, dengan UU ITE yang belum lama disahkan ini, rakyat-rakyat yang menyuarakan pendapat malah ditangkap oleh aparat negara. Mereka dianggap melecehkan lambang negara,” papar Aziz.









