Oleh: Ahmad Zaky Solakhudin
Pernah nggak kalian berpikir, apa sih jomblo itu? Apa juga asyiknya? kan sendirian terus. Nggak punya pasangan, rata-rata hidupnya ngenes, malam minggu nggak ada yang ngajak jalan, notif Wahtsapp sepi, apalagi sering iri jika lihat muda-mudi mesra-mesraan di pinggir jalan. Selain itu, nggak pernah tuh ada yang manggil sayang, beibeh, abi umi, ayah bunda, mamah papah, atau apalah itu sebutan yang sok-sokan romantis. Padahal, jika penulis sendiri lihat dari balik layar, terkadang merasa malu dan sedikit tertawa. Misalnya saat menyaksikan orang pacaran ketika lagi berantem, kebisingannya sampai ngalah–ngalahin suara motor RX King yang sering dibuat iring-iringan kampanye partai.
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jomblo adalah keadaan di mana seseorang tidak punya pasangan atau mengalami kemalangan. Meski artinya berkonotasi menyesakkan dada, bukan berarti para jomblowers—sebutan buat khalayak jomblo—harus bersedih. Setiap keadaan yang kita alami, punya nilai positif dan negatifnya masing-masing. Sehingga untuk memilih jalan hidup, hendaklah menelisik nilainya terlebih dahulu. Meminjam istilahnya para akhi-akhi hijrah, bahwa setiap peristiwa itu ada ibrahnya. Ibrah ini yang akan mengantarkan kepada kebenaran sehingga tidak menjadi orang tersesat di kemudian hari.
Sebelumnya telah disinggung tentang beberapa dari sekian banyak kekurangan jomblo. Tapi hal tersebut tak menutup kemungkinan juga bahwa jomblo itu indah. Bahwa menjadi bagian dari khalayak jomblo bukanlah aib. Mengapa demikian?
Meski sosmed sepi bak kuburan, tapi dunia mereka lebih asik daripada anak yang pacaran. Tak ada batas pertemanan dengan siapapun. Mau berteman dengan cewek, cowok, banci kaleng, orang gila, pejabat, presiden atau siapapun takkan ada yang melarang. Bahkan solidaritas akan lebih rekat ketika bersama orang-orang yang jiwanya bebas tanpa terikat hubungan.
Penulis mengutarakan demikian bukan berarti memojokkan mereka yang berpasangan. Atau meratapi kesendirian. Tapi inilah yang terlihat dari lingkungan sekitar. Mereka lebih menikmati dunianya ketimbang sibuk mikirin perasaan anak orang. Meski saat mengikuti ujian mata kuliah misalnya; tak ada yang memberi semangat belajar, ingin tidur tak ada yang mengucapkan selamat tidur, makan atau tidak, nggak ada yang ngingetin, tapi teman mereka selalu ada disaat susah maupun senang.
Bila saja dengan pacar bisa mesra-mesraan, maka dengan teman dapat lebih bersenang-senang. Bila pacar bisa putus kapan saja, teman takkan bisa terputus meski jauh tak tentu jarak. Sebenarnya, khalayak jomblo berusaha memperbaiki dirinya sebelum Tuhan memberinya jodoh di masa mendatang. Khalayak jomblo berusaha agar terhindar dari zina dan beragam kemaksiatan. Ini memang berkorelasi dengan firman Tuhan dalam surat AL-Isra ayat 32.
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa:32)
Nah, Allah saja udah ngingetin demikian. Tuhan menjadikan seseorang jomblo, barangkali ingin menyelamatkannya agar terhindar dari zina. Sebab, zina sendiri bukan perkara yang enteng. Lebih-lebih, di masa Rasul, hukuman bagi pezina adalah dirajam sampai mati.
Maka berbahagialah wahai khalayak jomblo. Tak usah iri melihat mereka yang bergandengan tangan berdua di depan umum tanpa status yang jelas. Setidaknya kau bisa melakukannya lebih mesra dan halal, nanti. Tunggu saja, tapi jangan lupa agar selalu berdoa untuknya yang belum pernah dipertemukan. Dan juga, teruslah berusaha menjadi orang yang lebih baik. Tuhanmu kelak memberi jodoh terbaik ketika waktunya telah tiba. Jika belum datang, mungkin masih harus berbenah diri lagi. Have fun!!!
Ilustrasi: google
)* Kader PMII Rayon Pembebasan, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Jogja









