Beranda / Esai / Opini / ISLAM NUSANTARA BUKAN HANYA DUNIA PESANTREN SAJA

ISLAM NUSANTARA BUKAN HANYA DUNIA PESANTREN SAJA

Islam Nusantara yang pastinya tidak terlepas dari khazanah-khazanah tradisi-kebudayaan Nusantara yang direkontruksi oleh para wali zaman dulu terutama para Walisongo. Seperti halnya tahlilan, selamatan, sedekah bumi, wayang dll, yang disitu direkontruksi para wali yang bernafaskan/nilai-nilai ke-Islam.

Pastinya tidak luput pula daerah Melayu yang mempunyai tradisi kebudayaan yang mempunyai corak islamisasi sendiri. akan tetapi Ulil abshar Abdalla sapaan akrabnya Gus Ulil dalam status Facebooknya mempertanyakan “kenapa gagasan Islam Nusantara tidak terlalu diterima di Kawasan Melayu?. Justru yang saya rasakan malah lebih Islam Nusantara diidentikkan pada Islam-Jawa.

Gagasan Islam Nusantara yang dianggap lebih condong berkembang pada dunia pesantren semata (bahkan merujuk organisasi Islam tertentu) yang pada akhirnya sibuk mencari warisan teks-teks pesantren masa lalu, itu hanya saja sebatas pegon-jawi yang akhirnya terlupakan warisan huruf ca-ra-ka Jawa.

Sebenarnya banyak karya-karya para wali yang bertuliskan ca-ra-ka Jawa yang manuskrip-manuskripnya tersimpan di Leiden. Seperti G.W.J Drewes mendata 14 karya Sunan Bonang yang semuanya ditulis deng ca-ra-ka Jawa, kumpulan kidung-kidung Sunan Kalijaga yang dibukukan di dalam kitab Primbon pada masa Kesunanan Surakarta.

Tembang-tembang yang ditulis dalam bentuk serat maupun babad yang berisikan suluk (perjalanan hidup/lelaku menuju sang khalik yang disebut tasawuf) ini yang dinamakan kesusastraan Jawa dan menjadi corak khas keilmuan sufi Jawa. Karena massa awal Islam masuk Nusantara dengan pendekatan sufisme atau tasawuf yang diasimilasikan oleh para sufi dulu.

Kemudian suluk-suluk tersebut mulai berkembang sampai masa kerajaan Pajang, Ceribon, Banten, Mataram, dan berlanjut Yogyakarta dan Surakarta yang berakhir setidaknya pada perang Jawa (1825-1830) ditandai pula Pujangga terakhir Jawa dari Surakarta raden Ngabehi Ronggowarsito yang sampai sini vorstenlanden tunduk pada kolonial Belanda.

Jadi saya sepakat dengan pernyataannya mas Irfan Afifi “Islam Nusantara tidak bisa disematkan dan dilacak dalam dunia Pesantrean saja, melainkan perlu diluaskan pelacakan teks-teks keraton beserta manifestasi kebudayaannya yang telah manifes dan tersebar merata di masyarakat”. Karena kalo dapat kita lacak antara pesantren dan keraton mempunyai kedekatan emosional.

Diperkenalkannya tanam paksa oleh Gubernur Jendral J. Nam den Bosch di Hindia. Memunculkan kebijakan baru bahwasannya pegawai Belanda mengharuskan lebih dekat dengan bumi putra yang kemudian Belanda mendirikan Instituut voor het Javaanche Taal (lembaga bahasa Jawa) di Surakarta.

Lembaga ini kemudian menjadi Javanologi yang mengkaji bahasa, kesusastraan, budaya, dan lainnya yang berkaitan dengan Jawa yang belakangan lembaga ini jadi cikal bakal Universitas Leiden. Lembaga ini lah yang nantinya melegitimasi ke-intelektualan khazanah-khazanah Jawa dan berusaha merekontruksi kejawaan esensial yang ingin melepaskan unsur Islam, kemudian diperuntukkan kaum bangsawan Jawa (priyayi) yang telah tunduk pada Belanda. Mulai titik ini berakhirnya pujangga Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito karya masyhurnya Serat Wirid Hidayat Jati.

Dari pasca perang Jawa/Diponegoro (1825-1830) dimulainya adanya tanam paksa ketika Belanda sudah menduduki birokrasi penuh diatas vorstenlanden yang nantinya terintegrasi secara alamiah penggolongan, starta, hirarki sosial. Seperti priyayi, petani, pedagang. Yang nanti muncul teori baru (Clifford Geertz) santri, abangan, dan priyayi dari tiga hirarki sosial ini nanti terdapat klasifikasi tertentu yang mencoba ingin melepaskan antara budaya dan Islam.

Kelompok priyayi ini yang nantinya menjadi boneka atau sebagai tangan panjang kolonial Belanda untuk merauk keuntungan yang berlebihan, menarik panjang seenaknya dari petani. Kelompok petani atau kaum alit sebagai subjek penindasan yang masih kental dengan Islam-jawanya. Kelompok pedagang yang terbebas dari sistem tanam paksa yang lebih berperan penyedia cash-money atas sistem pembayaran dan sistem denda politik tanam.

Jadi sampai sini dapat dipahami bahwasannya kenapa mata rantai sanad keilmuan para wali dulu yang bersifat arif setelah akhir abad-19 sebagian besar terputus. Yassir Arafat dosen UINSUKA menyatakan “adanya klasifikasi santri dan abangan merupakan kategori yang menyesatkan. Apalagi Cliffort Geertz, abangan diidentikkan dengan selamatan, kenduri dll sebagai uapacara utamanya. Padahal selamatan merupakan acara keagamaan (Islam). justru ini yang akan menghilangkan jejak-jejak para wali.

Tradisi Jawa-Islam para wali dulu memuncak dan ditradisikan secara kompleks pada masa Sultan Agung Mataram Islam. Sultan Agung juga memperkenalkan penanggalan Jawa yang memadukan antara tanggalan Hijriyah dengan Saka.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *