Beranda / Seni dan Sastra / After Hanabi Confession – Cerpen Ajilni Diina

After Hanabi Confession – Cerpen Ajilni Diina

“….Dari penjelasan teori dekonstruksi Derrida ini, dapat kita pahami bahwa apa yang ada di dunia ini tidak semuanya memiliki pasangan maupun hierarki. Strukturalisme tidak sepenuhnya benar secara absolut. Ya kita juga tahu sendiri, yang hitam tak selalu buruk, putih tak selalu baik, dan hal-hal inilah yang menjadi fokus kajian teori sastra dekonstruksi.”

Profesor Saif mengakhiri kelasnya siang itu. “Kin, langsung pulang?” ucap Naz. “Duluan aja Sist, aku ada urusan di perpustakaan kota” sahutku sembari lari dan melambaikan tanganku padanya. Langkah terus kupercepat, aku harus segera sampai perpustakaan untuk bertemu dengan Shahin. “Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini”.

***

Kinasih adalah perempuan yang baik dan sedikit berbeda dengan teman sepantarannya. Beberapa malah menganggapnya perempuan yang lembut. Disebut dengan apapun dia, ini bukan hanya opiniku saja. Terbukti dari setiap orang yang pernah bersinggungan dengannya. Salah satunya adalah Bu Lila, seorang florist yang baru kukenal tadi pagi.

“Nak Kinasih itu baik sekali Mas Shahin, dia adalah pelanggan setia toko bunga ini dua tahun terakhir. Kadang kalau dia lagi ngga sibuk, pasti bantuin saya antar bunga ke perumahan lereng bukit. Saya sendiri juga  sampai hafal bunga yang dipesannya” tutur perempuan paruh baya itu.

“Apa itu Bu?” tanyaku seraya melihat sekeliling dan terhenti pada satu pigura foto di sudut ruangan.

“Dia itu suka beli bunga mawar merah sama daffodile, mawar merah karena itu melambangkan wanita-wanita tangguh dan mulia, katanya” jawab Bu Lila.

“Kalo yang daffodile?” sahutku lagi.

“Kalo yang daffodile, emm..sebentar,” bu Lila memicingkan sudut matanya “Waduh saya lupa mas, hehehe. Njenengan cari sendiri saja ya. Oh iya, itu waktu dia dapat nominasi pelanggan paling setia” kata Bu Lila ketika mengetahui aku memperhatikan foto itu. Aku tersenyum kecil. Bahkan hobinya tidak berubah sedikitpun, pikirku dalam hati.

Kinasih, perempuan itu adalah segelintir dari sebagian besar wallflower yang kukenal. Perempuan yang memilih menyendiri dalam keramaian, perempuan yang memilih mendengarkan daripada bercerita. Perempuan yang pada akhirnya memilih jalannya sendiri melanglang buana ke penjuru negeri dan berhenti di kota ini. Kupastikan jika kalian bercerita dengan Kinasih, kalian akan suka bagaimana cara ia menaruh perhatian padamu.

“Drrt..drrt..drtt..” telepon genggamku bergetar. “ Halo, Kin..” Yang di seberang menjawab sesuatu. Obrolanku mengakhiri panggilan, “Oke. Tunggu di taman perpustakaan ya. Aku segera sampai!” Panggilan berakhir.

“Bu, saya pesan  fancy double daffodile-nya satu buket ya, nanti tolong bawakan ke taman perpustakaan, saya ada di sana bersama Kin.” Pintaku pada wanita paruh baya itu.

“Siap Mas.” jawabnya seraya tersenyum.

Pagi ini, akhirnya aku kembali bertemu dengan Kinasih setelah badai-badai besar itu sempat meluluh lantakkan hatiku-mungkin juga kepercayaan Kinasih.

***

Tak perlu waktu lama untukku sampai di perpustakaan kota, karena seringnya aku mbolang bersama Naz, aku hampir hafal setiap detail dari kota kecil ini, termasuk berbagai jalan tikus yang bisa kami akses untuk efisiensi waktu.

“Halo Shin, aku udah di perpustakaan kota” Jawabku ketika Shahin mengangkat panggilanku. Aku segera memarkirkan sepedaku di basement perpustakaan.

“Oke. Tunggu aku di taman perpustakaan ya. Aku segera sampai!” ucapnya.

Aku memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan bagian belakang toko bunga bu Lila, ketika tiba-tiba Shahin muncul dari sisi toko yang lain.

“Lho, kamu kok muncul dari situ, kamu juga suka beli bunga? Eh sejak kapan?” cecarku padanya.

“Satu-satu nape kalo nanya” jawab Shahin.

“ Wkwk, iya deeeh, kok muncul dari situ Shin? Kukira kamu lewat Ringroad-nya Mined Avenue. ehee..”

“Yaelah Kin, jauh amat sampe ke Ringroad” gelak Shahin. “Iya, aku tadi mampir bentar ke sana, niat awal cuma mau liat-liat aja sih, tapi eh ada fotomu, kutanyalah penjualnya. Akhirnya beliau cerita tentang dirimu yang udah jadi pelanggan setia katanya, sampai-sampai dapet nominasi, lucu juga ya bu Lila. Haha!”.

Aku hanya bisa tersipu. Sejak kapan pula ia kenal bu Lila? Bukankah dia baru kembali ke negeri ini dua hari yang lalu? Ah, laki-laki memang seperti itu, susah ditebak! Batinku.

***

Pada dasarnya, ada rasa campur-aduk yang kurasakan ketika kembali bertemu dengan Kinasih. Kinasih tidak banyak berubah. Meski begitu rasa canggung tetap terlihat dari gestur tubuhnya. “Jadi, kamu udah betah di sini?” tanyaku padanya. “Kayaknya gitu deh, aku udah terlanjur jatuh cinta sama kota ini.” Sahutnya sembari menggeledah isi tas miliknya. Apa sih yang dicari?

Aku melamun, perlahan pikiranku mulai melayang pada kejadian dua tahun yang lalu. Tepat ketika Kinasih memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran kami. Kepergiannya juga bukan tanpa alasan. Selain dukungan orang tuanya untuk melanjutkan studinya, faktor lain yang membuatnya pergi justru adalah aku. Ya, aku memang. Aku yang dianggapnya baik selama ini. Aku yang menghancurkan persahabatanku dan dia.

***

(Flashback)

Hari itu, akhir tahun Shio Naga. Aku berencana untuk pergi ke acara festival kembang api di pelabuhan, tentunya bersama sahabatku, Kinasih. Saat itu, aku dan dia berada di tahun terakhir tingkat SMA.

“ Memangnya kalau mau pergi bareng harus ada dresscodenya?”

“Siapa pula sih yang menciptakan trend dresscode seperti itu, perasaan  Ai Ling tidak pernah bilang harus pake baju yang sama?” Respon Kinasih sebal ketika aku mengajaknya ikut memakai dresscode yang sama.

Ai Ling hanya diam. Ia bingung.  Ai Ling adalah teman karib Kinasih dari kecil. Sedang aku baru mengenal Kinasih ketika kita sama-sama berada di Klub Olimpiade MIPA waktu SMP.

“Yaaa sebenarnya bebas sih Kin. Cuma kayak kelihatan lebih serasi aja gitu sama yang lain. Kalo kamu keberatan ngga papa kok, Kin. Biar aku saja dan Ai Ling.” Jawabku.

“Nah, gitu dong” Ucapnya disusul tawa kecilnya. Puas.

Pelabuhan terasa cantik malam ini. Dengan bermandikan cahaya bulan dan macam-macam hiasan sedemikian rupa membuat tempat ini terasa spesial. Kembang api yang melesat ke langit mengingatkanku pada Festival Hanabi yang selalu kulihat di televisi pada pertengahan tahun. “Ah, rupanya aku tak perlu jauh-jauh ke Negeri Sakura hanya untuk melihat Hanabi, di sini ternyata lebih baik. Apalagi kalau lihatnya dengan orang spesial.” kataku dalam hati.

Apakah kalian mengira bahwa dia adalah Kinasih? Bukan teman, perempuan itu adalah Ai Ling.

Benar. Pada dasarnya, Ai Ling lah alasan yang membuatku memaksa Kinasih untuk berpura-pura tidak mau memakai baju couple.  Padahal sebenarnya itu hanya alibiku saja, sebab aku tahu kalau Kinasih tidak pernah menolak permintaanku, selagi itu bukan sebuah penyimpangan dan dia sanggup melakukannya. Aku ingin sekali di momen spesial ini memakai baju yang sama dengan Ai Ling, aku benar-benar jatuh hati.

Aku memang bersahabat dengan sangat baik dengan Kinasih. Namun aku tidak bisa bohong dengan perasaanku, aku suka pada  Ai Ling. Hingga saat di mana rasa itu tidak bisa kutahan lagi.

“Kin!” teriakku.

Hari itu gerimis turun membasahi jalanan kota di bawah bukit. Sehari sebelum Festival Kembang Api dimulai. ” Iya, gimana Shin?” Jawabnya.

“Kamukan sahabat aku yang paling baik sedunia nih, aku juga sering banget bantuin kamu. Sekarang boleh ngga gantian aku yang minta tolong?” pintaku.

“Sebut aja Shin, kalo aku bisa ya kubantu.” Ucapnya.

Di bawah gerimis itu, di bawah lampu temaram jalanan kota. Aku meminta tolong pada Kinasih untuk melancarkan rencanaku. Namun, ternyata aku salah.

“Gimana Kinasih? Kamu mau ya!” Kataku.

Kinasih bergeming. Beberapa detik berlalu. Dunia terasa lama sekali Tuhan! hanya untuk menunggu jawaban Kinasih. “Oke deh.” Ucapnya sambil berlalu.

Hah! Kinasih bersedia?! Ya Tuhaaaan, Terima kasih.

“Kinasih Danadyaksa! Terimakasih.” teriakku. Kinasih hanya membalas dengan lambaian tangan tanpa menoleh sedikitpun.

Lalu, salahku di mana? Salahku adalah ternyata aku belum memahami Kinasih sepenuhnya. Siapa sangka, perempuan yang selama ini hanya kuanggap sahabat baik menaruh rasa pula padaku. Dan parahnya, aku baru tahu itu setelah aku menyatakan perasaanku pada Ai Ling dua pekan setelah Fesival Kembang Api. Ya, Ai Linglah yang bercerita padaku.

“Kin, kenapa kamu ngga bilang dari awal sih?” ucapku merasa sangat bersalah pada Kinasih.

“Apanya Shin? Ngga ada yang harus diobrolin lho tentang itu.”

“Kinasih, aku merasa bersalah ke kamu Kin, sumpah!”

Kinasih menatapku tajam.

“Shahin! Rasa itu ngga bisa di paksain. Kalau kamu sukanya sama Ai Ling, ya sudah. Toh kamu juga udah confess ke dia kan?! Terus aku mau dianggap apa kalau aku merasa cemburu dan memaksamu untuk memutuskan dia?” Ucap Kinasih sambil menahan air matanya. “Ngga papa Shin, ngga perlu cemasin aku. Aku udah tau konsekuensi apa aja yang bakal kuterima.” ucap Kinasih.

Lalu ia menambahkan, “Simpen ini ya, semoga kelak kamu bisa lihat Hanabi ke negaranya dan sambang desa Ghibli impianmu.” lanjutnya seraya memberi keycant karakter film dari studio Ghibli.

“Jadi kamu benar-benar mau pergi Kin?” ucapku.

“Iya Shin, aku hanya minta doamu saja.” ucapnya. Kemudian ia pergi meninggalkanku.

***

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kinasih benar-benar melanglang buana ke seluruh negeri. Aku melanjutkan studi ke negara impianku. Sedangkan Ai Ling, Ai Ling tiba-tiba harus pindah ke negara orangtuanya berasal. Semenjak saat itu hubunganku dan dia menggantung. Tak ada kepastian kabar dari Ai Ling dan berakhir pada kehilangan kontak.

“Aaa, ketemu!” ucap Kinasih. “Shahin, kok malah bengong siih?” Ucapnya menyadarkan lamunanku.

“Eh, iyaa. Gimana Kin?” Aku gelagapan.

“Ini undangan dari A Ling, beberapa waktu lalu aku diamanahkan dia untuk memberikannya padamu. Awalnya mau dikirim ke Jepang, cuma dia ngga tahu alamatmu, makanya dititipkan padaku.” Ucap Kinasih seraya menyerahkan undangan yang bertuliskan  Ai Ling &  Jie Kai Liang.

***

“Banyak hal yang ingin kutanyakan padamu sebenarnya, Shin. Tentang studimu, tentang A Ling. Tapi ketika undangan ini sampai di tanganku, sepertinya aku tidak perlu menanyakannya lagi.” Demi melihat Shahin yang mematung, aku memberanikan diri untuk memulai obrolan.

“ Apakah itu berarti kamu masih peduli padaku Kin? Apakah rasa kecewa itu sudah hilang?” ucap Shahin mengangkat wajahnya. Menatapku.

“Shin, kumaafkan, iya. Tapi untuk lupa, tidak.”  Jawabku. “Maaf Shin, aku benar-benar ngga bisa kembali hanya untuk sebuah hubungan yang akan merusak arti persahabatan.” Lanjutku.

Aku tahu ini akan menjadi sangat menyakitkan bagi Shahin. Namun aku harus berterus terang. Toh kalau jodoh juga ngga bakal kemana. Pada akhirnya, memang benar kata Sang Pandyansa Jangan pernah merasa penting di kehidupan seseorang, hari ini kamu berharga mungkin esok kamu tidak akan berguna.

 

Penulis: Ajilni Diina Mar’atun Nur Chasanah, Mahasiswi semester 5 jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *