“sayang pulang cepet ya, aku udah masakin kamu, langsung makan aja keburu dingin, aku izin keluar dulu ya Al ngajak jalan-jalan, dia nagih janji katanya tugas matematikanya dapet nilai seratus”
…
Rasa lapar membuatku terseret menuju sebuah angkringan di ujung komplek. Di Jogjakarta angkringan seperti ini bertebaran hampir di setiap penjuru kota. Selain seperti seakan-akan angkringan yang mendatangi ku dimanapun aku berada di kota ini, untuk seorang pendatang sepertiku, harga yang ditawarkan juga sangat membantu. Walau kalau sampai kelewatan tergoda akan sate yang berbagai macam varian suku dan bangsa, seringkali berujung pengikisan daging dompet.
Tidak ada yang spesial dari malam ini, lalu-lalang pengguna jalan terlihat biasa saja, juga dengan bohlam kuning yang memang sudah nampak berusia milik bapak pemilik angkringan yang tak kalah berusia nya, tak ada yang berbeda kalau saja aku tidak bertemu dengan seorang pria tampan yang nampak telah berumur kepala tiga.
Wajah nya nampak bersinar tatapan matanya juga tenang dadanya yang bidang tak mungkin mampu bersembunyi walau sudah berada di balik balutan baju rapi khas pekerja kantoran. Disini aku bertanya, berapa banyak kiranya dara yang sudah terjebak disana? Jika aku yang dua tahun lalu, maka aku akan menyangka bahwa pria ini adalah pria baik-baik yang hidup dalam kedamaian dengan previlage wajah tampan. Namun untuk saat ini aku sudah terbiasa untuk tidak menilai seseorang lewat kulit luarnya saja.
Entah sejak kapan aku mulai menaruh rasa curiga pada seluruh orang, Sebagai pria aku percaya bahwa setiap lelaki selalu menyisakan setidaknya 1% misteri dibalik senyumnya. Aku mencoba mengabaikan interpretasi yang ada di kepalaku terhadap orang-orang di sekitar ku. Sayang hal itu tak terjadi sebab perilaku sang pria tampan tampaknya menarik keras autensi kesadaranku.
Sebenarnya dia hanya mendengarkan VN (voice note) dari seorang perempuan yang sebenarnya pula tak terlalu terdengar jelas olehku. Namun entah kenapa pria tampan ini memutar nya berkali-kali, yang entah sudah kali ke berapa hingga aku mulai mendengar dan menghapal kalimatnya.
“sayang pulang cepet ya, aku udah masakin kamu, langsung makan aja keburu dingin, aku izin keluar dulu ya Al ngajak jalan-jalan, dia nagih janji katanya tugas matematikanya dapet nilai seratus”
Pertama, apakah om ini adalah pria dari negeri dongeng yang selalu jatuh cinta berulangkali pada istrinya setiap hari hingga mengulang VN nya berkali-kali?. Kedua, halo om, bukankah istrimu mengatakan dia sudah memasak untukmu?, lantas apa yang menuntunmu berada di angkringan ini?. Apa kau sedang memainkan peran pura-pura ngambek layaknya adik bungsuku di rumah?. Apa seluruh orang tampan punya selera bermain seperti ini?.
“oh, itu dari istriku” tentu saja siapa lagi “sepertinya saya lagi rindu” waduh, apakah beliau ini merupakan manifestasi dari puisi Jokpin bahwa Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.
Hingga pada akhirnya, rasa penasaran menuntun ku bertanya. Walau pria bucin sepertinya masuk dalam kategori orang-orang yang tidak ku suka, aku tidak berniat untuk mencampuri permainan rumah tangganya dengan bertanya apa yang membuatnya memilih membungkus makan disini alih-alih memenuhi panggilan istrinya.
Demi mencairkan suasana aku ingin berbasa-basi ala warga tulen Indonesia.
“pulang ngantor om?”
“Oh iya dik”
“kantornya dimana om?”
“saya reporter di sebuah media dik” seraya menunjukkan tanda pengenal yang terkalung di lehernya.
Tentu aku sangat kenal perusahaan tempat dia bekerja, media mainstream yang menjadi tujuan teman-temanku, untuk menerbitkan karya-karyanya.
“udah berapa tahun om disana”
“kurang lebih tujuh tahun lah dik”
Sebenarnya aku kurang mengerti, apakah waktu 7 tahun itu waktu yang lama atau tidak untuk sebuah reporter sepertinya.
“kira-kira selama itu, ada nggak peristiwa yang paling menarik atau om nggak bisa lupain”
Sedikit menautkan alisnya, namun alih-alih menjawab pria tampan ini mengambil ponsel pintar yang sempat tergeletak lalu mulai mencari sesuatu yang akhirnya dia tunjukkan pada ku “dua tahun lalu” tuturnya padaku.
Ku kira suatu berita besar, berhubung tujuh tahun sudah dia berada di media itu, dia menunjukkan pada ku sebuah tragedi kecelakaan beruntun yang memakan beberapa korban jiwa yang terliput di media nya. Setelah itu dia tampak diam mungkin menunggu ku selesai membaca. Saat selesai aku mengembalikan ponsel nya dan berniat mempertanyakan apa yang menarik dari peristiwa itu.
“kamu pasti bertanya apa yang membuat saya tidak melupakan kejadian itu” agaknya dia sudah membaca raut wajah kebingungan ku.
“niki sampun mas” bapak pemilik angkringan memotong pembicaraan kami.
Pria tampan ini pergi mendekati orang yang sudah memanggilnya, dia membayar semua pesanan nya pamit serta berterimakasih kepada bapak pemilik angkringan. Seraya menenteng plastik di tangan kirinya pria tampan melangkahkan kaki bersiap menuju motornya, namun tepat di langkah ke empat, dia menoleh ke arah ku “oh iya, suara perempuan yang kamu dengar adalah salah satu korban pada tragedi itu”.
Oleh : Kautsar M. Ilahy









