Beranda / Esai / Opini / Karena PMII, Aku Tahu

Karena PMII, Aku Tahu

Background pendidikan keluarga yang tradisional dengan kultur pedesaan ala NU, menjadikan saya dekat dengan kalangan santri dan pendidikan tarekat, yang kesemuanya itu berakumulasi menjadi rincian hakikat hidup, bahwa tujuan dalam perjalanan di dunia ini adalah untuk memenuhi kewajiban Tuhan.

Elaborasi dengan IPNU di fase SMA, memperkenalkan dengan harakah NU secara struktural. Pacutan untuk berorganisasi pun tumbuh, bahwa bagian utama tidak hanya dalam manajemen organisasi, lebih dari itu, ada perjuangan nilai Aswaja yang mesti terus dipupuk dan dirawat.

Menginjak fase kuliah, saya langsung tertuju dengan organisasi ekstra kampus, yang memasang lapak dan bendera di kampus, dengan warna dominan kuning dan biru yang di tengahnya ada bintang sembilan. Melihat itu, langsung saya dekati dan berkata, “Mbak, saya mau daftar PMII.” Inilah titik pertemuan dengan organisasi ekstra kampus yang mengusung Aswaja, yang sedari kecil sudah saya gandrungi.

Mengikuti PKD, ditampakkan dengan berbagai pendidikan secara mental dan materi, begitu membekas-menghujam, bahwa, apa yang harus saya perbuat ke depannya adalah untuk berjuang membela orang-orang yang tertindas. Tuturan-tuturan dari para pemateri ini sangat sesuai dengan kegelisahan saya, dengan apa yang didawuhkan oleh kyai dan guru-guru saya. Di titik inilah, saya begitu mencintai PMII. Ikut berbagai acara, diskusi, harakah, ketemu dengan berbagai warga, hingga berjejaring dengan lintas gerakan.

Saya pun tertegun, ketika menginjak semester tiga, mendapat banyak informasi-musyawarah, yang kesemuanya ini saling sikut, saling rebut untuk menduduki jabatan kampus, di level HMPS, SEMA, dan DEMA. Gambaran awal bahwa PMII adalah mesin organisasi yang memperjuangkan nilai-nilai Aswaja, buyar seketika. Orang-orang yang berebut jabatan itu hanya mementingkan diri sendiri, untuk menambah CV, untuk memperoleh privilege.

Lagi-lagi, citra PMII yang didapat bukan memperjuangkan orang-orang yang lemah, tetapi untuk memperjuangkan nafsu syahwat dan egoisme diri. Modul PKD yang dianggap buku suci waktu PKD, barangkali dalam konteks seperti ini, seharusnya di buang saja. Tidak berguna, atau bahkan dibakar saja.

Banyak kok di antara orang-orang yang ingin menduduki jabatan demi nafsu syahwat itu, menjadi panitia dan fasilitator PKD. Mereka secara serius mempelajari modul itu, untuk kemudian diajarkan kepada para peserta, tentang bagaimana Aswaja itu, tentang memperjuangkan nilai bersama, tentang apa itu keluarga, kesolidan. Namun ketika ada fase Pemilwa, saling sikutnya minta ampun.

Tidak salah untuk ikut menduduki LKM, bahkan harus. Tapi, lagi-lagi titik berangkatnya bukan egois nafsu syahwat nafsu setan, melainkan untuk belajar sekaligus memperjuangkan nilai PMII di wilayah kampus.

Pengurus rayon pun juga sama. Saya pernah dengar dari senior yang cukup tua, pernah ia menggagas dan menawarkan kerja sama ke salah satu divisi di rayon, lalu pengurus itu bertanya, “Butuh berapa massa, mas?” Senior yang cukup tua menampakkan mimik muka marah. Ia tak menyangka, bahwa pikiran pengurus hanya cari duit saja. Padahal, dirinya dengan tulus dan ikhlas, menawarkan kerja sama itu agar kader-kader macam saya ini bisa mendapat ilmu sekaligus berjejaring.

Walau demikian, dari semua itu, saya masih menemukan kader-kader dan warga-warga yang memberikan dedikasi yang tinggi untuk kader. Mereka bertanggung jawab dan mau mendidik. Memberi contoh bagaimana sebuah nilai itu diperjuangkan bersama. Nilai-nilai Aswaja itu disampaikan dan digerakkan lewat LKM, lewat aktivisme pinggiran, lewat forum-forum diskusi dan advokasi.

Saya ucapkan terima kasih kepada mereka semua yang telah memberi jalan untuk belajar, ber-PMII secara kaffah, serta masih mau menampung dan memberi wadah bagi saya yang masih kader berumur jagung ini. Salam Pergerakan!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *