Di sebuah ruangan beraroma kertas tua dan tinta basah, Zul duduk di meja kerjanya yang dipenuhi buku-buku tebal dari berbagai bahasa dan disiplin ilmu. Di dinding, terpampang karya-karya kaligrafi Islam hasil tangannya sendiri, mengukir ayat-ayat Al-Qur’an dengan goresan yang presisi dan indah. Lampu kecil di meja itu menyala temaram, memantulkan bayangannya di permukaan buku filsafat yang terbuka di hadapannya. Namun, meskipun di sekitarnya penuh dengan benda-benda yang mencerminkan keahliannya, ada sesuatu yang terasa hampa di dalam dirinya.
Zul bukanlah pemuda biasa. Di usia dua puluh tiga tahun, ia telah menguasai berbagai bidang yang beragam: seorang kaligrafer yang terampil, hafizh Al-Qur’an, menguasai ragam bahasa, serta sangat paham ilmu logika dan filsafat. Dia juga dikenal sebagai pembicara publik yang handal, dan tubuhnya yang ideal adalah hasil akumulasi dari konsistensinya beratih di gym selama bertahun-tahun. Dia bahkan ahli dalam ilmu gizi dan anatomi , memahami betul cara menjaga tubuh dan asupan makanan. Orang-orang sering memujinya, menyebutnya sebagai “ensiklopedia berjalan” atau “manusia multitalenta”. Tetapi, di tengah segala kemampuan yang ia miliki, Zul merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tak bisa ia pahami.
Sore itu, setelah latihan di gym, Zul pulang dengan tubuh yang lelah namun pikiran yang terus bergejolak. Ia menatap cermin di kamar tempat tinggalnya, melihat pantulan dirinya yang ideal secara fisik, namun di balik semua itu, ia merasakan kehampaan yang semakin lama semakin tak tertahankan. Di benaknya, ia bertanya-tanya: Mengapa dengan segala pencapaianku, aku merasa kosong? Mengapa semakin banyak yang kupelajari, semakin aku merasa jauh dari makna hidup?
Hari-hari Zul dipenuhi dengan aktivitas yang berbeda-beda. Pagi hari, ia akan bangun dan mengulang hafalan Al-Qur’an. Kemudian, ia akan mempelajari banyak hal di kampus. Sore harinya, ia berlatih di gym, kemudian di malam hari ia akan berlatih kaligrafi dilanjutkan dengan mempelajari ragam literatur dari berbagai bahasa. Hidupnya tampak produktif dan penuh variasi, namun di balik itu semua, Zul merasa tidak benar-benar terhubung dengan apa pun yang ia lakukan.
Suatu hari, di tengah kebingungan yang semakin menyesakkan, Zul bertemu dengan Adam, seorang teman lama yang kini menjadi dosen filsafat di universitas setempat. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil, dan setelah mengobrol ringan tentang kehidupan masing-masing, Adam mulai menanyakan hal-hal yang lebih dalam.
“Kamu luar biasa, Zul. Kamu bisa melakukan banyak hal yang orang lain mungkin hanya bisa impikan. Tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” kata Adam, sambil meneguk minumannya.
Zul mengangkat alis. “Apa itu?”
“Apakah kamu benar-benar merasa puas dengan semua yang kamu lakukan? Maksudku, dengan segala bakatmu, apakah kamu merasa utuh?”
Zul terdiam sejenak, menimbang pertanyaan itu. Dia merasakan ada dorongan untuk menjawab dengan cepat, mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan bahwa dia bangga dengan semua yang telah dia capai. Namun, kata-kata itu terasa kosong di lidahnya. Alih-alih menjawab, dia malah mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan.
“Aku… tidak tahu,” jawab Zul akhirnya, dengan nada yang tak biasa. “Aku merasa seperti aku bisa melakukan banyak hal, tapi aku tidak benar-benar terhubung dengan salah satunya. Seolah-olah aku sedang berlari ke banyak arah, tapi tidak pernah sampai di tujuan.”
Adam menatap Zul dengan tatapan penuh pengertian. “Itu adalah perasaan yang wajar, terutama bagi seseorang seperti kamu. Kamu mengejar banyak hal, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar kamu dalami.”
“Apa maksudmu?” tanya Zul, sedikit tersinggung. “Aku telah menguasai semua bidang yang aku pelajari. Aku tahu filsafat, aku hafal Al-Qur’an, aku bisa berbicara dalam ragam bahsa. Apakah itu tidak cukup?”
Adam tersenyum tipis. “Kamu memang menguasai banyak hal, tapi menguasai sesuatu tidak selalu berarti memahaminya sepenuh hati. Aku teringat kutipan dari William Shakespeare, ‘Jack of all trades is a master of none.’ Seseorang yang tahu banyak hal hanya menggores permukaan dari setiap bidang yang dia kuasai, tanpa ada kedalaman di sana. Kamu mungkin telah menjadi ahli dalam banyak hal, tapi belum tentu menjadi tuan atas dirimu sendiri.”
Kata-kata itu menghantam Zul seperti batu besar yang jatuh dari tebing. Dia terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan Adam. Apakah mungkin ini alasan mengapa ia merasa begitu kosong? Apakah selama ini, dalam usahanya untuk menguasai banyak hal, dia lupa untuk benar-benar memfokuskan diri pada satu tujuan, satu makna?
“Apa yang harus aku lakukan, Adam?” tanya Zul, akhirnya menyerah pada kebingungan yang menghantuinya.
Adam menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Kamu lebih tau tentang apa yang terbaik untuk mu, Zul. Mungkin saja Kamu harus memilih, Apakah pada akhirnya kamu akan memilih satu hal yang benar-benar kamu cintai? Atau Kamu mencari sesuatu yang menghubungkan jiwamu dengan dunia ini? Kamu bisa menguasai seribu bidang, tapi jika tidak ada satu pun yang benar-benar membuatmu merasa hidup, semuanya hanya akan menjadi ilusi kesuksesan. Mungkin saja, fokus pada satu hal akan membuatmu merasa utuh, Siapa yang tahu?.”
Zul terdiam, merenungkan kata-kata Adam. Di satu sisi, dia merasa tak ingin meninggalkan semua yang telah ia capai. Tapi di sisi lain, dia tahu apa yang disampaikan Adam itu benar. Di balik semua keahliannya, tidak ada satu pun yang benar-benar memberi makna dalam hidupnya.
Malam itu, Zul pulang dengan hati yang berat namun terbuka. Dia duduk di kamarnya, mengamati karya-karya kaligrafinya yang tergantung di dinding, buku-buku tebal yang berjejer rapi, dan tubuh kekarnya yang terlihat di cermin. Semua itu adalah hasil dari kerja keras dan dedikasinya selama bertahun-tahun, tapi di dalam, dia tahu bahwa itu semua hanya menjadi lapisan luar yang tidak pernah menembus kedalamannya sendiri.
Zul memejamkan mata, mengambil napas panjang, dan dalam keheningan itu, dia mulai bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang benar-benar membuatku merasa hidup?
Untuk pertama kalinya, Zul tidak mencari jawaban dari buku atau dari bidang ilmu yang ia kuasai. Dia mencari jawaban di dalam dirinya sendiri, dan di sanalah, dalam kerumitan keahlian yang selama ini ia banggakan, ia menemukan kebenaran sederhana: Bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kuasai, tapi seberapa dalam kita mencintai apa yang kita lakukan.
Dan dengan itu, Zul mulai melepaskan. Satu per satu, dia membiarkan keahliannya menjadi bagian dari dirinya yang lebih besar, bukan lagi identitas yang harus dia buktikan kepada dunia. Dia tidak lagi terbebani oleh pencapaian yang terlihat luar biasa di mata orang lain. Dia akhirnya menemukan kedamaian dalam kesederhanaan yang selama ini ia abaikan dan untuk pertama kalinya, Zul merasa utuh.
Oleh: Zaqhlul Ammar, Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim









