Hari Mei

Wajah-wajah letih kepanasan, berteriak mengangkat kepalan tangan yang tak cukup halus untuk sekadar mengelus pipi kecil buah hati. Tepat di rabu pertama bulan Mei berbagai golongan berkumpul membentuk ombak suara yang cukup untuk meneriaki nasib yang kian hari kian tak jelas. Jalan panjang yang pada hari biasa adalah jalan wisata siang ini menampakkan wajah baru, sebenarnya tak benar-benar baru, ia adalah wajah yang keluar hanya pada saat-saat tertentu, wajah lain dari kota yang terkenal asri, ramah, dan indah.

Jika berada di antaranya kalian akan mendapati wajah ibu-ibu lusuh yang menenteng selembar poster bersebelahan dengan sekumpulan pemuda energik yang gemar sekali berteriak seraya membentangkan spanduk besar yang berisi makian. Kalian akan mendapati kakek tua berseragam merah dengan lambang lembaga kesehatan yang terlihat begitu eksentrik sedang menjadi objek gambar pemuda-pemuda bersenjata lensa, aura kakek itu seakan mengucapkan “sakit? Sini aku bantu”.

Rombongan ini mengalir menuju suatu tempat, sebuah perempatan besar yang cukup untuk diisi seribu kepala. Dalam ombak yang tidak terlalu teratur ini orang-orang saling menabrak, saling mendahului dan saling meninggalkan menyisakan orang-orang yang bingung. Siapa pun yang mencoba melawannya akan hanyut terlindas, maka hal yang paling bijak bukanlah menaklukkan ombak namun mencoba menyesuaikan diri pada alirannya, pada pola geraknya.

Saat mencoba ikut arus yang semakin dekat tempat tujuan semakin beriak, seorang pemuda menabrak bahu kiriku, pria dengan jaket hitam berambut merah gelap yang tampak tidak peduli. pria ini tampak menggandeng seorang wanita berambut sebahu yang mengenakan topi abu-abu dan slayer biru yang menutupi sebagian wajahnya, wanita ini menoleh memperlihatkan warna matanya yang merah padaku membuat tubuhku terasa kehilangan energi dan tertunduk tiba-tiba.

***

“heh bangun”

“kemana orang tadi”

“hah?”

Aku tertunduk dipinggir jalan dibawa pohon asam yang belum terlalu besar, mencoba mengumpulkan kesadaran

“jangan tidur cok, ntar lagi sampek sini”

Aku menoleh ke mana kepalanya menunjuk arah, sekitar 50 meter dariku aku melihat sebuah mobil komando yang diikuti gemuruh suara di belakangnya. Beberapa menit linglung mencoba memahami keadaan, akhirnya ada yang mengacak rambutku

“ayo masuk rombongan”

Sesaat dia terlihat membenarkan kerudung birunya, lantas meraih pergelangan tanganku dan menariknya masuk dalam barisan yang sedang mengalir.

Beberapa langkah masuk dalam arus seorang kakek berseragam lembaga kesehatan tampak sedang memerlukan lembaga tersebut, dua pemuda dengan kamera menggantung di lehernya mencoba menolong, mengangkatnya sembari berteriak agar arus segera terbelah, namun sayang arus bergeming diam dan terus mengalir.

Saat kucoba untuk ikut membantu ada sebuah tangan yang memegang bahu kiriku, tak kuhiraukan tangan itu, sesaat setelah kulirik sebentar aku mengembalikan pandanganku pada sosok kakek yang sedang butuh pertolongan tadi, tapi apa yang kudapati adalah tubuh yang sudah bergelimang darah. Merah darah yang mendidih saat jatuh diaspal panas terpanggang matahari, aku melihat tubuh itu merintih kesakitan dan mengeluarkan rintihan yang sangat menyesakkan. Belum selesai akan keterkejutanku cengkeraman pada bahuku rasanya semakin menguat dan memaksaku untuk meninggalkan perhatianku atasnya.

Rasanya aku pernah melihatnya, wanita bertopi abu-abu ber-slayer biru sedang menggeleng seakan meyakinkanku tentang sesuatu. Bulu matanya panjang lentik berayun meninggalkan kesan halus, gerak tubuhnya mengundang untuk lebih teliti melihatnya. Pandanganku beralih pada tangan kirinya yang terjulur ke belakang, aku melihat sebuah rantai besi mengekangnya, dan pada ujung rantai itu aku melihat seorang pria berjaket hitam berambut merah gelap sedang menyeringai padaku.

Merah bola matanya mulai berputar tak beraturan, jaket hitamnya perlahan menguap menjelma kelelawar yang beterbangan berputar membentuk pusaran hitam. Jumlah kelelawar itu tak kalah banyak dari jumlah rombongan, terus bertambah dari jaket hitam yang semakin lama semakin terkikis. Saat jaket itu benar-benar habis terlihat jelas tubuh kurus keringnya, tato yang sudah tidak terlihat bentuknya menyatu dengan lekukan-lekukan tulang yang tak lagi diselimuti daging.

Di tengah kepanikan aku mencoba menjangkau tangan yang sempat mengacak rambutku, namun saat kubalikkan pandanganku aku melihat sebuah kerudung biru yang terbang lantas hilang terhempas pusaran hitam yang karenanya rambut panjang yang selama ini ditutupinya terburai ke atas, seakan ada kipas angin raksasa yang berada di bawah kakinya. Rambut itu memaksanya untuk mendongak menyaksikan parade kelelawar yang berputar tanpa aturan.

Mencoba meminta penjelasan dari sekitar aku menemukan semua orang kini berperilaku sama, semuanya mendongak dengan rambut terburai menutupi masing-masing wajahnya. Tiba-tiba langit menghitam pusaran kelelawar terhenti saat telah berhasil menutupi matahari seutuhnya, waktu seakan ikut berhenti kepak sayap kelelawar dan juga gerakan rambut orang-orang sekitar berhenti sepenuhnya.

Hitam sekumpulan kelelawar kini membentuk sebuah payung besar yang menghalangi sinar matahari, tidak terjadi apa pun selama beberapa detik menyisakan aku yang tak lagi bisa berpikir apa-apa selain menyaksikan segalanya. Namun tiba terdengar suara dari mobil komando, bukannya melihat ke arah di mana suara berasal namun kini semua orang sedang melihat ke arahku, dengan tatapan kosong, sekosong-kosongnya.

“ayahku orang miskin, aku butuh uang, aku ingin terkenal, aku adalah pemuda yang akan menaklukkan dunia”

Apakah dia sedang berkata padaku? Mengapa dia menatap tajam ke arahku?

“berikan semua pujian itu padaku, ambilkan segala sanjungan itu dan cepat bawa kemarr…”

Belum sempat melanjutkan, kaki pemuda dengan jas almamater tersebut tiba-tiba ditarik seorang ibu paruh baya yang kemudian merebut mik dari tangannya.

“kami adalah manusia, kembalikan hak kami, beri kami perlakuan sama”

Tampak di wajahnya sebuah kebencian

“jangan jadikan agamamu alat untuk mengambil hak kami, jangan kau bungkam demi keuntungg…”

Ditendangnya wajah ibu paruh baya tersebut oleh pemuda yang tampak marah, memperlihatkan rambut panjang tak terurusnya dan celana jeans penuh robekan

“polisi…polisi… kalian membunuh saudaraku, kalian telah banyak meminum darah saudara-saudaraku”

Entah mengapa tiba-tiba banyak orang berseragam polisi ikut dalam barisan, aku tidak menyadarinya sebelumnya dan anehnya lagi  mereka semua sama saja masih menatap kosong ke arahku.

“berapa banyak lagi yang akan kau ambii…”

“Dorrr”

Terdengar suara tembakan yang berhasil menghentikan rengek berisik pemuda di depan, yang aku tahu tembakan itu berasal dari seseorang berseragam dengan rompi hitam yang berdiri tepat di depan mobil komando.

Suasana kembali sunyi, semua orang tampak masih memandangku dengan cara yang semakin menyeramkan. Perlahan semakin mendekat, selangkah demi selangkah. Sebelum tiba-tiba sebuah cahaya membelah sunyi dan gelap, tanpa sadar aku segera menoleh pada sumber cahaya yang ternyata bersumber dari seorang gadis di atas mobil komando.

Tidak salah lagi, gadis itu adalah gadis topi abu-abu dan slayer biru yang tadi sempat menepuk pundakku. Tanpa kusadari, semua orang sudah menghadapnya seakan siap mendengar khotbah yang akan segera ia bawakan. Tampak kini setiap wajah yang menghadap pada sang gadis menampakkan ekspresi yang berbeda-beda; senyum, sedih, marah, dan bahagia. Walau masih dengan tatapan kosongnya.

Lalu serentak semua orang mulai menunduk memberi hormat, tubuhku yang tadinya mematung dengan sendirinya bergerak mengikuti apa yang dilakukan semua orang. Tepat setelah upacara penghormatan tersebut semua tubuh di sekelilingku mulai bergetar, kakinya perlahan mulai mengambang menjauh sekitar 10 cm dari tanah, lantas wajahnya kembali mendongak dan mengeluarkan sinar halus yang perlahan semakin terang.

Satu persatu secara tidak beraturan, tubuh-tubuh ini mengeluarkan sinar yang menyobek payung hitam di atas kepala masing-masing. Semua tubuh ini berteriak seakan sedang mengeluarkan segala kekuatan yang selama ini bersembunyi di dalam dirinya, hingga cahaya yang dihasilkan membuat sekelilingku menjadi begitu terang dan aku tak mampu melihat apa pun selain cahaya yang menyilaukan. Baik kegelapan atau pun cahaya jika terlalu dominan maka hanya akan membuatmu tenggelam di dalamnya.

Selama beberapa detik yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan mata dan lagi-lagi mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Bahkan setelah memejamkan mata sekalipun cahaya ini masih terasa sangat mengganggu, ditambah pekikan teriak yang sedari tadi terus saja dilantunkan. Hingga suara berisik ini memudar, dari balik kelopak mata aku merasakan bahwa kerusuhan yang terjadi telah selesai, atau setidaknya berganti dengan yang baru.

Saat aku membuka mata, kelelawar yang tadi menutup matahari kini telah lenyap, menyisakan debu-debu hitam yang perlahan menjelma awan mendung. Tak lama setelahnya gerimis datang membuatku merasa nyaman, entah mengapa kurasa hal seperti ini setidaknya lebih menyenangkan dari apa yang telah kusaksikan beberapa waktu lalu.

Dari awan mendung yang hanya menurunkan gerimis, kemudian keluar petir yang amat besar tepat di depan wajahku hingga membuatku terhempas beberapa langkah ke belakang. Dari balik kepulan debu yang dihasilkan terlihat sesosok tubuh yang perlahan mulai terlihat, dari bentuk tubuhnya, rambutnya hingga wajahnya, tidak salah lagi dia adalah gadis topi abu-abu dan slayer hitam.

Dia datang dengan badan sedikit membungkuk memberiku salam tanpa mengucapkan apa pun, reflek aku juga membungkukkan badan walaupun masih sama-sama membisu. Kemudian dia maju selangkah menyentuh kedua pundakku dengan kedua tangannya, lalu perlahan dia mulai membuka matanya, berwarna merah darah menenggelamkanku di sana. Entah mengapa aku kehilangan seluruh energiku dan tertunduk tiba-tiba.

***

“heh bangun”

“kemana orang tadi?”

“hah?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *