Wallahu a’lam Kamuflase
seorang bertanya padaku
- kemana bunga-bunga berlari
kepada lelaki tua yang membenci perempuan
- ucapku
kehilir dihulur samudera
dibibir wanita dan selengkangan kambing
hingga ke ujung warna gincu
- kuning biru
Wallahu a’lam
seketika haluan menjejali arah
pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah mereka pertanyakan
sibuk memilah kulit anjing hanya tuk hangati tubuh masing-masing
dan diwaktu-waktu
“kita dalam zona pencuri, arogan, dan tak memiliki kesadaran”
- pungkasNya sehabis meneriaki maling
Wallahu a’lam
apa pentingnya?
seolah dirinya adalah bentuk dalam gelisah
selalu mencari kupu-kupu
sedang sesaat ada ulat dia dibunuh
- banci
Wallahu a’lam
tentang bangkai pada ucapan-ucapan
lampu yang tiba-tiba suram
dermaga dan pelukan-pelukan
janji ombak terhadap ikan-ikan
dusta para bajingan
- hingga engkau yang membaca
terlupa mengenakan kontarasepsi
dan mengandungi segumpal teori-teori basi
Yogyakarta 22.
Aku Ingin Perempuan Pulang
jauh sebelum malaikat-malaikat menyangkal
Adam sudah manantinya setelah lama di tempa jarak
meski mata Hawa rabun sebelah
sumur-sumur ikut kering
dan perempuan telanjang diri
tinggalkan tuala
sementara:
Adam bergegas gagah menyunting cobek
mengambil kemiri di buatnya baju-baju serupa godaan
kemana pisau itu terkubur
sedang perempuan tidak mau pulang
kasta apa lagi?
-tanya Adam
ataukah mereka merobek payudaranya sendiri
dan menghilangkan pita suaranya
– disiplin masing-masing
Yogyakarta 22.
Jilbab Eiríni Berwarna Abu-abu
suara perempuan memutar di balik waktu
pengeras suara Masjidpun bisu melintup yang diambin
– kebenaran
aku kira mata hitam itu
melepaskan nudzum putaran sebelanga cinta
pembenaran –
kepada pencipta Hawa dan udara
aku bersaksi antara saksi yang disaksikan
hanyalah derayan hijab Eiríni itulah lukusan langit dapat murung
Yogyakarta 2022 M.
Provo, Kota dan Kata Musyafir
sebelum waktu berdiam dibalik tebing Salt Lake City
banyak dinding berdebu, bertabur sedih dan kesenduhan batu-batu
sekumpulan tanah berlarian mengejar arah tubuh-tubuh
padahal agitasi bayang-bayang sudah sirna
sisakan abu pada kerling hp perempuan pagi
kuda itu berlari mencari jejak sang tuan
hingga tertindih timah dan api kota
bertemulah ia pada sang majikan
sebelum menelanjangi wanita-wanita
- kala itu
sang musyafir sangat menikmatinya
walaupun syair bianglala sudah putus dikaki langit
provo baginya adalah pundak segalah curah beban
biar manapun suaranya tak sanggup berinstinjak dari kota-kota terapung
Yogyakarta 22.
Pengumuman Pagi
/hari tampak bugar
burung-burungpun bersiul segar
suara keheningan bercampur sajak
alangkah ceria orang yang berdendang
Akan ada ujung di atas bukit pendusta
Seamsal pendaki tua jejak sang langit
/waktu tidak dapat disengeja
setelah sekian haru
menyaksikan air mata orang-orang
Pengumuman :
“akhiran dari bumi ini
apabila ada longsor dan gempa
yang memang disengaja atau karena manusia
bersedia diterima
inlah irama waktu
dan sungguh bedosa bila kita berdoa”
/takdir bersempat diri
meminum kopi para jalang
sedangkan puisi telah mati
Yogyakarta 23.
Oleh : MH. D. Hermanto. Mahasiswa Filsafat Islam UIN SUKA. Suka bercanda dengan aksara dan selalu disibukan oleh kopi. Kini sedang malakoni wayang di R. Pembebasan dan NISCHA.









