Beranda / Seni dan Sastra / Cerpen / Kambing Saridin

Kambing Saridin

Sepanjang hari esok Saridin ingin segera menyiapkan segalanya. Ia tampak begitu senang ingin membabat rumput, menganyam bilah-bilah bambu membentuk persegi panjang, lalu menancapkannya di tanah mengelilingi pohon sawo. Dan melihat di samping rumahnya, sebuah kandang kecil sederhana.

Lelaki berusia empat puluh delapan tahun itu memiliki wajah yang tegas dengan kumis lebat melintang di antara hidung dan bibir atasnya. Setitik tahi lalat besar menempel di pipinya sebelah kanan. Setiap kali orang melihat peci merah dikenakan oleh seseorang yang berjalan di kejauhan dan garis hitam melintang di wajahnya, orang-orang akan mengenali, meski samar-samar memandang, bahwa itu adalah Saridin.

Sejak semalam Saridin tak bisa tidur. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, sekelebat bayangan mengganggu pikirannya. Tapi, Sih, istri Saridin tak mau ambil pusing soal kelakuan suaminya itu. Ketika Saridin terjaga di sebelahnya, memandang langit-langit kelambu, Sih telah menjelma putri tidur yang mendengkur sangat keras. Meskipun begitu, Saridin beberapa kali memeluknya, mencoba membenamkan diri pada dengkurannya yang keras. Namun, seberapa keras Saridin mencoba untuk terlelap tidur, ia tetap tak bisa mengalihkan pikirannya dari kambing.

Menjelang pagi, seekor ayam jago berteriak membangunkan seisi rumah. Saridin masih terbengong memandang langit-langit kelambu. Sih terbangun seperti biasa, berdiri beberapa saat, lalu pergi ke dapur. Sesaat kemudian, Sih kembali ke kamarnya, tidur di samping Saridin yang masih terang menyala.

Adegan semacam itu, kemudian disusul oleh lenguhan Sih yang bergerak ke samping, membelakangi Saridin.  “Ayam kita masih ada?” tanya Saridin kemudian. Tatapan matanya masih tak teralihkan dari lubang kecil di langit-langit kelambu.

“Tersisa si Jago. Kalau mau, jatah dia hari ini,” kata Sih cetus menampik tangan Saridin yang diam-diam merambat ke pinggulnya.

“Au,” kesal Saridin. “Jangan si Jago. Besok-besok kita bisa mati suri kalau tak ada Jago. Orang-orang akan mengerumuni rumah kita, mengira kita berdua telah mati karena bangun kesiangan.”

“Itu bagus.”

“Huss…, tak boleh bicara sembarangan,” timpal Saridin.

“Siapa yang bicara sembarangan? Aku cuma melanjutkan apa katamu saja.”

Saridin diam, menerawang jauh dari celah cahaya yang menembus lubang kecil di kelambunya. Ia masih tak bisa mengalihkan pikirannya dari kambing. Kambing yang telah menjadi impiannya sejak setahun lalu. Kambing yang selalu memanggil-manggil namanya sesaat sebelum tidur, dan mencuri kantuknya. Hal ini berakibat pada mata Saridin, yang kian lama semakin menghitam. Menurut Saridin, setiap malam seekor kambing datang ke mimpinya dan mengecup kedua matanya. Kecupan kambing itu membekas menjadi lingkar mata hitam.

Suatu hari, Sih yang mendengar cerita Saridin dari tetangga, beberapa malam memilih untuk pisah ranjang dengannya. Bukan Sih yang harus berpindah kamar, tapi setiap menjelang tidur tiba, sebelum Saridin kembali dari rumah Pak Kades, Sih akan menyingkirkan bantal milik Saridin dan meletakkanya di kursi panjang di ruang yang bersebelahan dengan kamar mereka. Selembar kain jarik dan sekeping obat nyamuk menemani Saridin selama beberapa malam, sampai akhirnya ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap matanya kepada para tetangga.

Saridin tak pernah bisa tidur malam, karena kambing terus mengganggu pikirannya. Akibatnya, matanya mulai menghitam seperti mata panda. Sih mulai mengintip malu-malu, setelah tetangganya bercerita kalau Saridin tak bisa tidur tiap malam karena kurang pelukan. Dilihatnya tubuh suaminya meringkuk berselimut kain jarik. “Biar malam bertambah dingin, dan aku menjadi selimut bagimu,” rayu Sih supaya lelaki empat puluhan tahun itu kembali tidur di kamarnya.

Tapi hari ini, Sih sangat tak bahagia. Hatinya seperti sedang diganjal oleh batu besar, batu berbentuk kambing yang menyesakkan dadanya. Setiap hari, Saridin tak pernah lepas dari igauan tentang kambing, kambing, dan kambing. Sih kian risih, terlebih lagi saat Saridin lebih mempedulikan kambing ketimbang dirinya. “Apa tak semestinya kau menikah sama kambing saja? Atau, kau menikahiku karena aku jelek seperti kambing?! Atau bau seperti kambing?!”

Ocehan Sih hanya dianggap bagai angin lalu bagi Saridin. Hari ini, dia tampak begitu senang dan tak ingin kesenangannya diganggu oleh apa pun, termasuk Sih. Sih beranjak dari tempat tidur, dia berjalan mendekati lemari. Sambil berjinjit berusaha meraih sesuatu di atasnya. Karena tak sampai, dia lalu menarik kursi dari ruang tamu ke dalam kamarnya.

Saridin tampak bingung dengan apa yang dilakukan istrinya. Tapi, dia acuh dan membalikkan badan membelakangi Sih. “Aku ingin tidur sebentar, nanti siang tolong bangunkan aku. Aku harus menyiapkan segalanya,” kata Saridin memeluk guling, memejamkan mata.

Menjelang siang, Saridin terbangun dari tidur setelah bermimpi diseruduk kambing. Bukan main, Saridin terbangun setelah terjatuh dari tempat tidur. “Sepertinya kambing itu benar-benar telah menyerudukku.” kata Saridin meringis kesakitan.

Saridin beranjak dan jalan terpincang-picang.  Sih duduk di ruang tamu.

“Mengapa kau tak membangunkan aku?” tanya Saridin.

“Untuk apa? Aku mau pergi dari rumah ini.”

“Pergi ke mana? Jangan ngawur, kamu!”

“Aku mau pulang ke rumah ibuku.”

“Terus, itu apa?”

“Ini pakaianku.”

“Tak usah berbuat yang bukan-bukan. Cepat masukkan lagi baju-bajumu itu ke dalam lemari dan buatkan aku sarapan. Masak apa kau hari ini?”

“Tumben kau peduli dengan apa yang kumasak hari ini.”

“Bukannya setiap hari juga begitu?”

Sih berdiri berjalan mendekati jendela, angin berembus ketika perempuan berusia empat puluh lima tahun itu membuka daun jendela, menyibak rambutnya yang panjang terurai. Sih bisa melihat semak belukar menutupi pekarangannya yang ditumbuhi sebatang pohon sawo. Di seberang, dia dapat melihat tetangganya sedang duduk di beranda rumah bermesra-mesra dengan suaminya.

“Mau diletakkan di mana wajahku nanti kalau kau keluar dari rumah membawa tas besar itu?”

“Letakkan saja di kambing yang akan datang nanti, bukankah kau lebih senang dengan kambing itu ketimbang aku?” jelas Sih. “Bukankah yang ada dalam pikiranmu selama ini hanya kambing. Akhirnya hari ini kambing itu akan datang. Untuk apa lagi aku di sini. Tentulah kambingmu itu lebih pandai mencari dedaunan di hutan ketimbang aku. Perempuan tua ini telah tak kuasa untuk masuk lagi ke dalam hutan, memetik daun pakis atau tanaman lain. Apa pedulinya kau, kalau pagi ini tak ada sarapan,” lanjutnya penuh kekesalan.

Sih menarik napasnya dalam-dalam, berhenti sejenak. Sebelum sempat Saridin berkata apa-apa, Sih dengan cepat menimpali. “Kau sibuk bekerja membanting tulang untuk mendatangkan kambing itu ke rumah ini. Setiap hari, uang yang kau dapatkan selalu kau simpan sendiri. Kau selalu berkata-kata manis kepadaku, kau  bilang uang itu untuk membeli kambing, supaya kau bisa berkurban tahun ini. Aku kau tipu. Tapi setelah tahu apa yang kau laukan kepadaku, aku semakin yakin bahwa kau hanya terobsesi pada egomu sendiri.”

“Aku tak mau berdebat tentang hal ini lagi kepadamu. Hari ini kambing itu akan datang ke rumah ini. Harusnya kita menyambutnya dengan senang.” Jelas Saridin. “Kau tahu, alasanku mendatangkan kambing itu. Hari-hari yang kutunggu selama satu tahun, akhirnya akan tiba juga. Penantian yang selama ini kudambakan.”

“Bagus, kini biarkan kambing itu yang akan mengisi rumah ini dengan embikkannya.”

“Kemarilah, duduklah dulu. Angin mengacaukan pikiranmu,” bujuk Saridin. Namun Sih tetap berdiri memandang ke luar, kali ini dia menatap ke atas membayangkan seekor kambing turun dari langit. Sih ingin rasanya segera menarik golok dan menyabet leher kambing itu sebelum sampai ke rumahnya.

“Kau tahu, Solikin tahun lalu bisa mengurbankan seekor kambing. Padahal aku dan dia bekerja di tempat yang sama. Dia hanya memiliki seorang istri, tidak pula memiliki seorang pun anak, persis seperti aku,” jelas Saridin. “Dia mengejekku, aku dibilang super pelit untuk kehidupan setelah kematian. Setiap hari membungkuk di sawah dan ladang milik Pak Kades, tapi tak bisa mengurbankan seekor kambing pun. Solikin menertawaiku tepat di depan wajahku. Setiap hari, yang kudengar hanyalah cerita-cerita tentang kambingnya. Mimpi-mimpinya tiap malam, berjalan ke surga mengendarai seekor kambing.”

Sih memutar tubuhnya. Kali ini dia menatap Saridin, meninggalkan tetangganya bermesra-mesra di beranda rumah. “Apakah kau pernah memimpikan aku setahun belakangan ini?”

“Ya. Tentu saja aku pernah memimpikanmu. Lebih tepatnya dua hari yang lalu,  aku dan kau berjalan menuntun kambing bersama. Kambing itu mengenakan gaun yang sangat cantik.”

“Apakah kambingmu mengembik?”

“Ah. tidak. Kambing itu tak mengembik,” jelas Saridin. “Bagaimana kau tahu kalau kambing itu tak mengembik?” tanya Saridin penuh rasa heran. “Lalu musim kering datang. Hujan tak pernah turun selama setahun. Rerumputan menjadi kering dan tanah-tanah menjadi gersang,” lanjutnya.

“Kambing itu kemudian mati. Tapi kau tak pernah tahu kapan kematiannya. Aku menunjukkan kuburan kambing kepadamu di atas bukit. Kau sedih bukan main. Meronta bagai anak kecil tak dibelikan es krim. Air matamu deras mengalir ke lembah-lembah perbukitan.”

“Bagaimana kau tahu? Apa yang kau ketahui lagi?”

“Air matamu berubah menjadi sungai, pada hari pertama, sungai  itu menggenangi lembah-lembah. Terik matahari menguapkannya, di langit bergerumul awan-awan mendung. Ketika malam datang, hujan turun berasa asin. Tapi hujan tetaplah hujan, selalu membawa berkah. Jamur-jamur tumbuh menutupi tanah gersang. Kau memetiknya untukku. Aku memasaknya untukmu.”

“Benar. Jamur yang tumbuh dari hujan berasa asin yang kau masak dengan racun. Jamur yang akan membunuhku.”

“Membunuhmu, katamu?” potong Sih. “Lantas siapa yang menguburku menjelang malam tiba? Menyeret tubuhku, melemparnya ke dalam lubang. Kau berdalih. Kau membunuhku dengan jamur beracun itu. Kau tahu bahwa jamur itu beracun, sehingga kau memetiknya untukku dan memintaku memasakkannya untukmu. Kau tahu aku akan mencicipi masakanku terlebih dahulu, sebelum menghidangkannya untukmu. Kau membunuhku karena mengira aku yang telah membunuh kambing dan menguburnya di atas bukit,” jelas Sih. “Kaulah yang telah membunuh kambing itu. Membiarkannya kelaparan. Tak peduli akan rasa sakit yang dideritanya.”

Sih menatap Saridin dengan penuh kemarahan. Mata sayunya tak mampu membendung air matanya lagi. Air mata itu kemudian tumpah, mengalir menyusuri lekuk pipinya. Saridin terdiam. Terpaku menatap api di dalam mata Sih yang berair mata.

Dengan suara bergetar, Saridin berjalan perlahan mendekati Sih. Kaki-kakinya gemetar dan seperti tak ada tenaga. Dengan lirih Saridin berkata, “Anakku?”

 

 

Oleh : Muhammad S. (guru bahasa Indonesia pada salah satu sekolah swasta di lampung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *