Beranda / News / Kawal Ruang Aman Perempuan, Mahasiswa FUPI Gagas Audiensi

Kawal Ruang Aman Perempuan, Mahasiswa FUPI Gagas Audiensi

YOGYAKARTA- Hari senin (4/12/23) Taman FUPI menjadi saksi bisu digelarnya audiensi A Rose Propaganda dengan tajuk, “Panggung Ekspresi (Noise Area)” oleh mahasiswa AFI angkatan 2023. Beberapa mahasiswa-mahasiswi terlihat membawa setangkai mawar merah sebagai simbol solidaritas.

Kegiatan solidaritas Audiensi A Rose Propaganda ini diselenggarakan sebagai pernyataan sikap atas kegagalan kampus dalam memberikan ruang aman bagi perempuan dalam lingkungan UIN Sunan Kalijaga terutama di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI). Kegiatan ini merupakan panggung ekspresi yang bersifat kolektif dan bebas yang terdiri dari lapak baca, diskusi, penampilan orasi, vokalist singer, dan pembacaan puisi dari para audiens.

Pasalnya, Audiensi A Rose Propaganda ini dilatarbelakangi oleh adanya tindakan salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga yang melakukan tindakan yang tidak semestinya di lingkungan kampus. Hal ini dibuktikan dengan adanya keluhan rasa tidak nyaman terhadap gerak-gerik dosen kepada para mahasiswi saat pembelajaran di kelas seperti tatapan mata yang sexist, ajakan-ajakan dan obrolan di kelas yang selalu mengarah kepada unsur-unsur keperempuanan dalam lingkungan fakultas. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai respon tentang sikap serta kebijakan dari kampus yang dirasa belum menyelasaikan masalah yang sudah sudah lama terjadi.

Beberapa hari sebelumnya memang telah beredar sekumpulan pamflet yang berisi informasi latar belakang adanya kegiatan audiensi ini. Dalam pamflet tersebut terpampang juga raut wajah dosen yang diduga melakukan tindakan yang tidak lumrah kepada para mahasiswi. Dosen yang dimaksud kini telah dicabut izin mengajarnya oleh Wakil Dekan III dipindah tugas ke fakultas lain

Panggung ekspresi ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dari seluruh program studi dan berbagai angkatan dari angkatan 2023 hingga angkatan 2019. Terlihat beberapa stakeholder dari himpunan mahasiswa program studi dan juga lembaga pers mahasiswa turut datang berpartisipasi serta membubuhkan tandatangan persetujuan atas terselenggarakannya panggung solidaritas ini di FUPI.

Dimotori oleh Rey dan Gilang, mahasiswa AFI kegiatan ini dimulai dengan para audiens duduk melingkar di taman. Rey mengatakan dalam pembukaan, “Dalam solidaritas ini kita tidak benar-benar meninggalkan ruang kelas, namun disinilah ruang kelas sebenarnya yang kita bentuk sebagai ruang pembelajaran”.

Hingga saat penghujung acara, Wakil Dekan III FUPI turut bergabung dan menyampaikan beberapa patah kata bahwa, “Permasalahan seperti ini merupakan tanggungjawab kita bersama. Jika terjadi lagi suatu saat nanti maka fakultas adalah yang pertama-tama harus bergerak. Tidak perlu menunggu satu fakultas, satu kelas sudah cukup.” Kegiatan ini kemudian selesai sekitar jam 11 siang.

“Mari kita refleksikan kembali pengetahuan-pengetahuan yang kita dapatkan tidak melulu hanya bersumber pada ruang akademik yang kadangkala justru menjadi bumerang untuk kita, mengenai beberapa problematika usang yang tak pernah selesai. Sejenak kita tinggalkan ruang kelas, kita ambil sepenuhnya ruang-ruang belajar-pendidikan yang seharusnya membebaskan. Berikan tanda itu, bahwa kami masih ada, api ini sejatinya tak pernah padam.” Narasi dalam pamflet yang mendorong bergerak melawan kesewenangan. (Redaksi)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *