Kisah Sajadah
Sering aku merasa tak enak hati kepada
Sajadah. Seringkali aku hanya mendiamkannya
di sudut rumah meskipun ia tak pernah
mendiamkanku bila aku merasa tersudut ketika
didera masalah.
Agar kami menjadi lebih akrab, aku berencana
mengajaknya jalan-jalan di bulan penuh
kebahagiaan ini. Siapa tahu dengan begitu
kami bisa lebih bahagia dan tak lagi sungkan
bila harus saling bertatapan.
Kegiatan jalan-jalan kami resmi dilangsungkan
pada sebuah malam tenteram tatkala musala
dekat rumah tak sedang berwajah muram.
Ia tampak bercahaya dan semakin menunjukkan
aura ketampanannya. Semua mata yang memandang
pasti akan terbujuk untuk menyapa
dan berlama-lama bersamanya.
Sajadah pun seketika jatuh hati dan mengajakku
pergi menghadap musala setiap hari. Ia katanya
ingin melakukan pendekatan dengan musala supaya
kelak di akhirat bisa hidup bahagia bersama
mereka yang dicinta.
Sering aku merasa tak enak hati kepada
Sajadah. Aku lantas hanya tersenyum dan berusaha
mengabulkan keinginannya yang susah-susah
mudah itu.
Bukan Orang Suci
Orang-orang suci menyebutnya lelaki malang
karena tidak berpuasa di bulan suci. Ia sendiri
justru merasa tak ada yang perlu dikasihani dari dirinya
yang kotor. Bagi orang kecil sepertinya, puasa tak
lebih dari kemalangan sehari-hari yang ditemani
niat suci di sepanjang hari.
Sekadar menahan lapar dan dahaga sudah
menjelma rutinitas yang tak lepas untuknya.
Tatkala kebanyakan manusia mesti menutup mata
bila ada godaan dunia datang menyapa, lelaki itu
akan acuh saja tanpa sedikit pun menelan ludah.
Dan memang tak banyak yang bisa ia telan
selain ribuan porsi doa yang tersaji di meja keheningan.
“Aku tak perlu berbuka puasa. Perutku sudah kenyang
selepas menyantap senyuman buah hatiku di rumah
ketika dibawakan makanan istimewa sepulang aku
bekerja,” ujarnya kepada ratusan godaan
yang menyapa di pinggir jalan.
Orang-orang suci menyebutnya lelaki malang
karena tidak berpuasa di bulan suci. Ia sendiri
merasa merekalah yang perlu dikasihani karena
memiliki hati yang kotor di balik tubuh yang bersih.
Surat untuk Langit
Langit, sampaikah surat-suratku kepada-Mu
selama ini? Setiap malam, kutulis mereka
dengan satu pengharapan: agar Kau dan aku
dapat menjadi dekat, atau setidaknya, tak sejauh
sekarang ini.
Langit, apakah Kau mendengar bisikan-bisikanku
Kepada-Mu selama ini? Setiap hari, kuucapkan
mereka dengan nada yang lirih. Maaf jika perkataanku
teramat singkat, tak sabaran, atau bahkan, terlampau
sulit untuk bisa Kau jangkau. Maafkan aku yang
selalu merengek-rengek pada-Mu ini.
Langit, apakah Kau masih menaruh namaku dalam
perlindungan-Mu? Setiap waktu, kulewati detik yang melaju
dengan gersang. Kumohon, turunkanlah hujan-hujanmu
kepadaku—hamba-Mu yang hanya bisa mengemis
dalam kesunyian malam ini.
Ilustrasi: google









