Beranda / Seni dan Sastra / Kisah Sajadah ~ Puisi Bintang Ramdhana Andyanto

Kisah Sajadah ~ Puisi Bintang Ramdhana Andyanto

kisah sajadah

Kisah Sajadah

Sering aku merasa tak enak hati kepada

Sajadah. Seringkali aku hanya mendiamkannya

di sudut rumah meskipun ia tak pernah

mendiamkanku bila aku merasa tersudut ketika

didera masalah.

 

Agar kami menjadi lebih akrab, aku berencana

mengajaknya jalan-jalan di bulan penuh

kebahagiaan ini. Siapa tahu dengan begitu

kami bisa lebih bahagia dan tak lagi sungkan

bila harus saling bertatapan.

 

Kegiatan jalan-jalan kami resmi dilangsungkan

pada sebuah malam tenteram tatkala musala

dekat rumah tak sedang berwajah muram.

Ia tampak bercahaya dan semakin menunjukkan

aura ketampanannya. Semua mata yang memandang

pasti akan terbujuk untuk menyapa

dan berlama-lama bersamanya.

 

Sajadah pun seketika jatuh hati dan mengajakku

pergi menghadap musala setiap hari. Ia katanya

ingin melakukan pendekatan dengan musala supaya

kelak di akhirat bisa hidup bahagia bersama

mereka yang dicinta.

 

Sering aku merasa tak enak hati kepada

Sajadah. Aku lantas hanya tersenyum dan berusaha

mengabulkan keinginannya yang susah-susah

mudah itu.

 

 

Bukan Orang Suci

Orang-orang suci menyebutnya lelaki malang

karena tidak berpuasa di bulan suci. Ia sendiri

justru merasa tak ada yang perlu dikasihani dari dirinya

yang kotor. Bagi orang kecil sepertinya, puasa tak

lebih dari kemalangan sehari-hari yang ditemani

niat suci di sepanjang hari.

 

Sekadar menahan lapar dan dahaga sudah

menjelma rutinitas yang tak lepas untuknya.

Tatkala kebanyakan manusia mesti menutup mata

bila ada godaan dunia datang menyapa, lelaki itu

akan acuh saja tanpa sedikit pun menelan ludah.

Dan memang tak banyak yang bisa ia telan

selain ribuan porsi doa yang tersaji di meja keheningan.

 

“Aku tak perlu berbuka puasa. Perutku sudah kenyang

selepas menyantap senyuman buah hatiku di rumah

ketika dibawakan makanan istimewa sepulang aku

bekerja,” ujarnya kepada ratusan godaan

yang menyapa di pinggir jalan.

 

Orang-orang suci menyebutnya lelaki malang

karena tidak berpuasa di bulan suci. Ia sendiri

merasa merekalah yang perlu dikasihani karena

memiliki hati yang kotor di balik tubuh yang bersih.

 

 

Surat untuk Langit

Langit, sampaikah surat-suratku kepada-Mu

selama ini? Setiap malam, kutulis mereka

dengan satu pengharapan: agar Kau dan aku

dapat menjadi dekat, atau setidaknya, tak sejauh

sekarang ini.

 

Langit, apakah Kau mendengar bisikan-bisikanku

Kepada-Mu selama ini? Setiap hari, kuucapkan

mereka dengan nada yang lirih. Maaf jika perkataanku

teramat singkat, tak sabaran, atau bahkan, terlampau

sulit untuk bisa Kau jangkau. Maafkan aku yang

selalu merengek-rengek pada-Mu ini.

 

Langit, apakah Kau masih menaruh namaku dalam

perlindungan-Mu? Setiap waktu, kulewati detik yang melaju

dengan gersang. Kumohon, turunkanlah hujan-hujanmu

kepadaku—hamba-Mu yang hanya bisa mengemis

dalam kesunyian malam ini.

 

Ilustrasi: google

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *