(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Sindo rubrik resensi edisi 9 April 2022)
Dalam banyak hal, terlebih bagi umat Islam, seringkali pembahasan mengenai filsafat dianggap tabu. Pasalnya, jika yang dibahas mengenai ketuhanan, dikhawatirkan akan keluar dari koridor tauhid yang akan menjerumuskan kepada kekafiran. Di lain sisi, jika filsafat tidak dibahas, maka dakwah Islam tidak bisa sampai kepada kalangan yang mengandalkan rasio seperti halnya para filsuf dan akademisi.
Oleh karena itu, lalu para ulama sepakat bahwa boleh membahas perihal Dzat Tuhan, tetapi hanya pada kalangan tertentu, yakni orang-orang yang sudah memiliki basics pemahaman tauhid yang kuat sehingga tidak akan terjerumus kepada kesirikan.
Hal ini ketara sekali, misal ketika mengamati sistem pembelajaran di pondok pesantren, kitab babon yang membahas filsafat dan ilmu ketuhanan seperti Ummul Barahin, Mantiq, Tahafut Al-Falasifah, Bidayatul Mujtahid, dll, hanya diajarkan kepada para santri senior yang sudah menjajaki kelas atas.
Filsafat menduduki tataran penting dalam keilmuan Islam. Tanpa filsafat, bangunan megah kejayaan Islam di abad pertengahan sama sekali tidak akan bisa tercapai. Satu diantara tokoh yang konsen di bidang filsafat Islam adalah Sadruddin bin Ibrahim yang akrab dipanggil Mullah Sadra. Ia lahir di Shiraz (Iran) pada 1571 Masehi.
Sadra menjalani pendidikannya di Ishafan, di bawah bimbingan ulama kenamaan pada masanya, seperti Bahauddin ‘Amili, Mir Abul Qasim, dan Mir Damad. Selain itu, Sadra juga mewarisi keilmuan filsuf Islam sebelum-sebelumnya seperti Ibnu ‘Arabi, Suhrawardi, Ibnu Sina, At-Tusi, dan Al-Farabi.
Salah satu karya Sadra yang lalu dianggap sebagai magnum opus-nya oleh para cendekiawan adalah kitab Al-Hikmah Al-Muta’aliyah fi Al-Asfara Al-Arba’ah Al-‘Aqliyah (Kebijaksanaan Tertinggi dalam Empat Perjalanan Rasional). Kitab ini lahir dari pemikiran matang Sadra yang isinya pembahasan kritis mengenai filsafat post-Avicennian (filsafat di era setelah Ibnu Sina).
Apa yang ditulis Sadra menjadi menarik bila disandingkan dengan argumen-argumen tentang peniadaan Tuhan. Orang ateis dengan gagah berkoar bahwa manusia terlepas dari Tuhan. Apa yang selama ini manusia capai, termasuk peristiwa yang terjadi di alam semesta, dianggap bukan karena kuasa Tuhan. Kalau memang Tuhan andil dalam persoalan tersebut, mana bukti bahwa Tuhan ada? Apakah Tuhan nampak dan terlihat? Begitulah kira-kira ungkapan yang sering dibual orang ateis.
Jelas, pemahaman seperti diatas fallacy. Sadra mengatakan bahwa ‘adanya’ sesuatu karena ada sebab yang menjadikannya ‘ada’. Subjek utama yang menjadikannya ‘ada’ adalah kausa prima, yang oleh Sadra disebut Wujud Murni (Al-Wujudus Sirf). Wujud Murni ini tak lain ialah Tuhan yang hanya bergantung kepada diri-Nya sendiri dan bersifat abadi.
Sebaliknya, Sadra mendefinisikan makhluk ciptaan Tuhan sebagai “wujud mungkin” dengan alasan bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menyangkut adanya “wujud mungkin”, memiliki keterikatan yang mutlak dengan “Wujud Murni”. Pada tataran selanjutnya, “Wujud Murni” memiliki pengaruh atau kuasa yang absolut terhadap “Wujud Mungkin” yang telah diciptanya.
Ibaratnya, seorang koki sudah selesai membuat roti. Adanya roti tersebut karena si koki sudah membuatnya. Jelas bahwa roti itu memiliki ketergantungan dengan si koki. Jika koki tidak membuat roti, apakah wujud roti akan ada? Sebaliknya, ada tidaknya roti tidak memiliki kaitan dengan adanya koki. Si koki tetap ada walaupun ia tidak membuat roti.
Perihal hubungan manusia dengan Tuhan, Sadra mengamini bahwa setelah manusia dilahirkan di dunia, ia diberi kebebasan untuk menentukan dirinya. Hanya saja, Tuhan sudah menyiapkan seperangkat aturan yang dapat menyelamatkan manusia yang terangkum dalam ajaran agama.
Sadra menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga modalitas utama yang menyusunnya: badan (pola potensial), jiwa atau ruh (pola diversitas), dan pikiran atau nafs (pola kesatuan). Di tahap yang paling akhir, misalnya ‘pikiran’, semua bentuk yang paling rendah dari jiwa ditransendensikan kedalam Ada/Wujud yang sederhana. Pada level ini, pikiran manusia menyatukan dirinya sendiri dengan Akal Aktif (Al-Aqlul Fa’al).
Oleh sebab itu, pada tingkat kesatuan ada tiga bagian peting, yakni Tuhan sebagai Wujud Murni, Akal Transendental (pikiran/kuasa Tuhan), dan manusia. Jika manusia mampu mencapai level demikian, maka ia akan menjadi Insan Kamil (manusia sempurna).
Insan Kamil merupakan maqam tertinggi yang telah dicapai oleh para nabi, rasul, dan wali. Oleh karena itu, manusia yang termasuk kategori tersebut benar-benar mencerminkan laku ketuhanan. Hal ini bisa manusia raih jika mampu menyerap dan mempraktikkan apa yang agama kandung. Sebab, agama sendiri merupakan ejawantah dari sifat-sifatNya.
Di titik itulah Insan Kamil memiliki korelasi dengan Khalifah fi Al-Ard (Khalifah di bumi). Dalam Al-Quran, Tuhan menyebut manusia sebagai Khalifah fil Al-Ard yang memiliki tugas menjadi wakil-Nya untuk memakmurkan bumi. Tidak bisa tidak, manusia harus menurut dengan perintah Tuhan, termasuk bagaimana cara mengatur bumi ini.
Pemilihan diksi khalifah menandaskan bahwa makhluk yang menyandang status tersebut harus menuruti perintah dari subjek yang mewakilkannya (Tuhan). Sementara itu, segala aturan dan perintah Tuhan terangkum dalam Al-Quran. Sehingga, mengkaji dan mempraktikkan Al-Quran dengan sungguh-sungguh menjadi kunci dalam menggapai predikat Insan Kamil dan sebenar-benarnya Khalifah fi Al-Ard.
Judul Buku : Being and Existence: Ada dan Eksistensi dalam Pandangan Sadra dan Heidegger
Penulis : Alparslan Acikgenc
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Pertama, Januari 2021
Tebal Buku : 278 halaman









