Entrepreneurship atau sering disebut kewirausahaan, adalah ilmu yang mempelajari tentang kemampuan dan perilaku seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan (kehidupan, termasuk ekonomi) yang ada.
Singkatnya, ilmu tersebut menjurus bagaimana cara menemukan pola pikir yang kreatif dan inovatif yang dijadikan sebagai dasar, sumber daya, tenaga, dan proses dalam menyelesaikan persoalan kebutuhan manusia.
Di luar negeri, entrepreneurship mulai dikenalkan sejak abad ke-17, sedangkan di Indonesia baru muncul pada abad ke 20. Dalam praktiknya, entrepreneurship di Indonesia dipelajari sebatas dalam tingkatan pendidikan tertentu yang sejalan dengan perkembangan problematika ekonomi yang ada.
Seiring berjalannya waktu, entrepreneurship sangat perlu untuk ditanamkan dalam setiap generasi muda. Sebab, mindset yang terbangun dalam diri mereka jauh dari kata mandiri dan inovasi. Maksudnya, sangat banyak generasi muda Indonesia yang mengidamkan menjadi pegawai negeri (PNS/ASN), atau gabung dalam perusahaan orang lain. Sedangkan lowongan pekerjaan seperti itu sangat sedikit. Berbanding terbalik dengan jumlah orang yang mencari pekerjaanya. Lalu, bagi orang yang tidak dapat kesempatan bekerja, mereka mau apa? Ngganggur? Menambah daftar kemiskinan?
Di saat yang sama, pekerjaan seperti itu (PNS/ASN) tidak dapat memaksimalkan potensi yang ada. Negara kita sungguh kaya akan kekayaan alam maupun SDM-nya. Nah, seabrek modal utama itu tidak akan menghasilkan keuntungan bila di tidak digarap. Bagaimana mengubah kayu-kayu pepohonan yang barang kali tidak terpakai menjadi barang bernilai guna. Sampah-sampah plastik didaur ulang sehingga menghasilkan uang.
Nah, menjadikan orang untuk cermat dalam berpikir kreatif dan memanfaatkan segala sesuatu menjadi keuntungan adalah sebab utama adanya ilmu kewirausahaan atau entrepreneurship ini. Oleh sebab itu, dalam jangka panjang, entrepreneurship dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan pengangguran.
Ada beberapa tahapan dalam melakukan entrepreneurship. Langkah paling awal adalah seseorang harus memiliki niat serta kemauan untuk berkembang serta menghadapi tantangan, kemudian mengelola berbagai objek yang diperlukan untuk menjalankan usaha serta dapat mempertahankannya dari segala bentuk tantangan serta hambatan.
Jika sudah dimanajemen dengan baik, maka tinggal tahap terakhir yaitu mengembangkan usaha yang telah dirintis sebelumnya. Tentunya dalam menjalankan tahapan-tahapan tersebut perlu didasari semangat dan kerja keras agar mampu menghadapi tantangan yang ada. Pola pikir seorang entrepreneur akan lebih terasah daripada seseorang yang hanya bekerja dalam kesehariannya. Inovasi akan terus tumbuh dalam diri seseorang jika ia terus menggeluti tantangan dan hal-hal baru.
Indonesia yang tergolong negara berkembang dan pendapatan perkapita penduduknya masih rendah perlu menekankan jiwa entrepreneur dalam setiap generasi muda. Hal tersebut karena dapat menambah jumlah pengusaha serta lapangan pekerjaan yang ada, yang secara tidak langsung dapat membantu pemerintah dalam mengentaskan jumlah pengangguran dan kemiskinan.
Terlebih, di era industri 4.0 ini sangat menekankan inovasi dalam berbagai aspek mengingat banyak persaingan dari produk asing. Produk lokal karya anak bangsa harus bisa menunjukkan eksistensinya. Pemuda yang masih semangat-semangatnya belajar perlu dibina dan diarahkan untuk berwirausaha.
Tentu saja dalam praktiknya akan bertemu bejibun masalah mulai dari fase produksi hingga distribusi. Faktor-faktor pendukung seperti pemasaran, manajemen SDM, keuangan, serta perencanaan perlu diperhatikan agar dalam berjalannya suatu usaha bisa meminimalisir permasalahan dan kerugian.
Perlu adanya dukungan serta motivasi dari berbagai pihak agar pemuda-pemuda Indonesia semangat dalam berwirausaha. Banyak sisi positif yang didapat dari mendalami entrepreneurship.
Ilustrasi: google









