Saya cukup terkesan dan lumayan kaget ketika membaca sebuah essay yang dikeluarkan oleh Redaksi Geger yang berjudul Intelektual Organik dan Kebijaksanaan karya M. Syafiq. Bagaimana tidak? Isi yang dimuat oleh penulis ternyata sempat menyebut Kurt Cobain salah satu tokoh yang saya kagumi, bahkan sampai membahas polemik dengan kekasihnya Courtney Love.
Apa yang dibicarakan oleh Syafiq dalam essaynya, pada awalnya membahas kebijaksanaan dan intelektual organik. Kemudian mencoba merefleksikannya dengan kisah kelam Kurt. Menyayangkan tuduhan Courtney, dan tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh Kurt sebagai tindakan yang tidak bijaksana.
Kisah bunuh diri Kurt mulanya berasal dari masalah yang menimpanya dengan Courtney. Karena kecemburuan Courtney terhadap Kurt, yang ternyata merupakan sebuah kesalahan—karena Kurt sama sekali tidak selingkuh—dibawah tekanan tersebut Kurt yang putus asa akhirnya mengeluarkan keputusan yang tidak bijak untuk melakukan perbuatan keji yaitu bunuh diri.
Itulah kisah yang diceritakan dan meskipun dari semua runtutan yang diceritakan oleh Syafiq terkait kematian Kurt, dan penyebabnya yang diduga berawal dari rasa kecemburuan Courtney masih bisa kita coba pertanyakan keasliannya. Karena bukti-bukti kematiannya masih dapat kita temukan di berbagai sumber dalam bentuk foto maupun teks lainnya seperti kumpulan tulisan harian Kurt yang berisi ungkapan rasa kekecewaannya terhadap dunia yang dihadapinya, foto jasad Kurt di samping senapan, hingga sepucuk surat peninggalan yang ditulis Kurt di samping jasadnya untuk teman imajinernya yang bernama Boddhah.
Namun, saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang kisah kematian dan percintaan dari pasangan musisi tersebut, karena banyak sekali versi dari kisah kematian Kurt Cobain dan memang pasangan musisi tersebut sudah memiliki setumpuk masalah dalam hubungannya. Sehingga saya tidak memiliki rasa kepercayaan yang tinggi untuk merasa bahwa versi yang saya miliki merupakan versi yang asli. Yah, lagipula persoalan bunuh diri mungkin hampir dari kita semua sepakat kalau tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak benar, bukan?
Untuk mengetahui apakah kisah dari legenda musik grunge Kurt Cobain merupakan tempat yang cocok untuk merefleksikan kembali tindakan intelektual, kiranya kita perlu melihat secara utuh sepak terjangnya di dunia musik. Sebagai salah satu orang yang menyukai dan mungkin sedikit banyak mendengarkan Seattle Sound—layaknya Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Alice In Chain, dan kelompok musisi lainnya yang berasal dari skena musik yang berkembang di Seattle, Amerika Serikat.
Saya sangat mengagumi prestasi dari skena musik tersebut yang sangat gemilang sehingga mereka mampu menciptakan sebuah karya seni musik yang dapat didengar oleh semua kalangan, termasuk kalangan masyarakat bawah karena lirik-lirik dalam lagu yang dibawakan dan segala aktifitas mereka sangat relevan dengan masalah yang terjadi di tengah masyarakat.
Barangkali jika terbuka dengan saran, saya ingin menyarankan Mas Syafiq, bersama teman-temannya, atau bahkan perkumpulan organisasinya, untuk membaca dan mendiskusikan ulang apa itu intelektual organik. Jika kita mengadopsi pemikiran Antonio Gramsci, tentunya kita harus melihat juga bahwa intelektual yang dimaksud oleh Gramsci tidak lepas dari penciptaan hegemoni, sebagai salah satu cara penguasa untuk mengontrol semua tindakan dan cara berpikir masyarakat sehingga penguasa dapat menjamin status quo mereka.
Singkatnya, proses penciptaan hegemoni tentu merupakan salah satu hasil dari fungsi yang dilaksanakan oleh kelompok intelektual, hal ini terus berlanjut hingga kebudayaan dapat kembali di reproduksi. Khususnya intelektual organik yang memiliki fungsi lebih kompleks karena pengaruh besarnya yang dekat dengan setiap kelas dalam relasi hubungan produksi. Lalu yang harus dilakukan kaum intelektual ialah dengan mengalahkan hegemoni yang secara tidak sadar telah menindas dengan membuat sebuah budaya tandingan yang berpihak kepada masyarakat.
Banyak dari kelompok musisi yang cukup berhasil untuk membangun sebuah kebudayaan baru di tengah arus budaya dominan. Selain memang kelompok musisi yang sangat terlihat nuansa ideologisnya seperti Punk, Seattle Sound juga turut mengisi barisan musisi yang pengaruhnya sangat luas sehingga dapat menciptakan sebuah kebudayaan baru tersebut.
Hal ini memang dikarenakan juga kebanyakan musisi dari Seattle Sound dipengaruhi oleh gaya bermusik Punk, terkhusus Nirvana grup band yang beranggotakan Kurt Cobain, Krist Novoselic, dan Dave Grohl. Terlihat dari setiap tindakan, aksi panggung, gaya bermusik, dan pernak-pernik atribut yang mereka gunakan. Semua itu merupakan simbol dari ketidaksepakatan mereka terhadap tindakan, gaya bermusik, dan cara berbusana yang mainstream.
Saat di panggung, Nirvana selalu memperlihatkan sebuah pertunjukan yang dianggap berbeda. Menggunakan pakaian tak layak pakai seperti ripped-jeans yang terlihat tambalan kain untuk menutupi celana robeknya yang terlihat asal-asalan, dan menggunakan kemeja belel yang jaitan dan bentuknya sudah tidak sesuai dengan apa yang kita pikiran untuk sebuah kemeja.
Aksi panggungnya yang kerap menghancurkan setiap alat musik yang mereka gunakan. Musikalitasnya yang bagi para musisi besar dan mapan pada waktu itu mungkin terkesan aneh, karena instrumennya yang berantakan dan sangat kasar sehingga cukup untuk mengganggu gendang telinga kita.
Sampai lirik-lirik dalam lagunya yang mencurahkan segala masalah yang menimpa dirinya di tengah kejamnya lingkungan yang telah memiliki standar tertentu yang telah mapan.
Gaya bermusik yang disuguhkan merupakan perlawanannya terhadap industri musik mapan yang selalu mengandalkan tingkat pengetahuan musik yang tinggi, hingga menciptakan suatu etika bermusik tertentu. Situasi industri musik tersebut sangat di tentang karena telah menindas, dan membunuh kreatifitas.
Hal tersebut dikarenakan adanya relasi antara kapitalisme dengan perkembangan seni musik dalam budaya populer. Penciptaan konsepsi struktur musik yang mapan merupakan hasil yang disebabkan oleh komodifikasi seni musik yang sangat berkaitan dengan kebutuhan kelas pemodal. Sehingga kapitalisme dapat membangun sebuah budaya yang sehat untuk dirinya dalam masyarakat.
Teriakan-teriakan Kurt merupakan amarah dari apa yang telah ia rasakan di lingkungan yang kejam. Lirik-lirik Nirvana merupakan hasil dari refleksi yang dialami oleh para personelnya, kemudian mendapatkan afirmasi secara individu maupun kelompok dari suatu kelas sosial tertentu dalam struktur sosial yang kompleks.
Mewakili permasalahan sosial seperti pendidikan, pekerjaan, hingga masalah yang berkaitan dengan gaya hidup remaja seperti narkoba, depresi, pembangkangan, yang telah mendapatkan stigma sebagai “remaja bermasalah”, tanpa melihat penyebab secara struktural atau utuh.
Nirvana, Kurt Cobain, dan seluruh pendengarnya telah berhasil menjadikan ide penolakan ini sebagai sebuah budaya dan memberikan pengaruhnya ke seluruh dunia. Dengan prestasinya karena telah berhasil menjadi musisi yang karyanya telah didengar oleh seluruh dunia, meskipun disatu sisi Kurt sangat merasa menderita karena popularitasnya yang juga menjadi salah satu penyebab ia bunuh diri.
Tapi terlepas dari itu, karena prestasi tersebut kita pada akhirnya tidak bisa menganggap remeh segala tindakan mereka, yang mungkin dapat dianggap menyimpang dari arus kebudayaan dominan. Sekalipun itu tindakan bunuh diri. Jangan-jangan, dibalik tindakan bunuh diri tersebut terdapat sebuah inisiasi yang bertendensi untuk menciptakan sebuah budaya tandingan yang melawan arus budaya dominan tersebut. Kelihatannya sangat dahsyat, dan diluar dari apa yang kita pikirkan sebelumnya, bukan?
Terakhir, mungkin saya ingin menyarankan kepada Mas Syafiq untuk mencoba lebih jauh lagi mendengarkan lagu-lagu Nirvana. Jangan hanya lagu fenomenalnya seperti “Smells Like Teen Spirit” dari album Nevermind (1991) yang sebenarnya terinspirasi dari merk deodorant “Teen Spirit” yang melekat di tubuhnya Kurt, walaupun memang sangat enak didengar.
Mungkin anda bisa juga mendengarkan lagu dalam album-album lainnya seperti Bleach (1989), atau In Utero (1993) yang banyak menceritakan Kurt menghadapi lingkungannya, atau lagu-lagunya dalam MTV Unplugged (1994) yang banyak orang menganggap kalau itu adalah upaya Kurt untuk menghilangkan label grunge yang selalu di dekatkan kepadanya. Agar apa yang kita dengar dan bicarakan tentang Nirvana tidak hanya sebatas merk deodorannya Kurt saja, tetapi makna dibalik semuanya yang kompleks.
Ilustrasi: google









