Ibnu Sina atau yang sering dikenal dengan nama Avicenna di dunia Barat, ialah seorang filsuf dan ilmuan yang terkenal akan kejeniusannya sejak dini. Ia merupakan filsuf satu-satunya yang telah menulis autobiografinya yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya. Ibnu Sina sendiri lahir pada tahun 370M/980 H di Afshanah, kemudian ia sering berpindah-pindah tempat sebab kondisi politik yang labil saat itu.
Ibnu Sina yang terkenal genius sejak dini, ia sudah mulai menghafal Al-Qur’an sejak usia 10 tahun. Prestasinya selanjutnya saat menginjak 18 tahun ia menguasai berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu fiqh, astronomi, dan kedokteran. Karena kejeniusannya ini, di usia 20 tahun ia sudah menjadi seorang dokter. Hal ini juga dapat dilihat bagaimana ayahnya sering mengenalkannya dengan berbagai pengetahuan seperti ajaran religious, filsafat dan ilmiah hingga doktrin sunni dan syi’ah. Akan tetapi di samping itu juga ditanami ajaran dasar-dasar logika oleh gurunya sehingga Ibnu Sina tidak mudah terdoktrin akan suatu ajaran. Hal inilah yang menyebabkan semua ajaran dan karyanya tidak pernah terpacu dengan satu madzhab sekalipun.
Dalam setiap karyanya, ia selalu memasukan ajaran Platonisme, Aristotelianisme, Neoplatonisme, Galenisme, Farabinisme dan gagasan-gagasan Yunani serta Islam. Hal inilah yang membuat karya Ibnu Sina menjadi menarik, Al-Juzjani sendiri menegaskan bahwa setiap karya Ibnu Sina tidak terpaku akan satu madzhab saja. Hal ini terkadang tidak selalu mudah, tidak terpacunya akan satu madzhab membuat ajaran Ibnu Sina cenderung banyak menuai kritik.
Menurut Ibnu Sina Filsafat dianggap sebagai penetapan realitas segala sesuatu. Ia membagi menjadi dua bagian, teoritis dan praktis. Filsafat teoritis adalah mencari pengetahuan melalui kebenaran dengan tujuan menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan semata-mata. Filsafat praktis adalah mencari pengetahuan tentang kebaikan untuk tujuan menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan tentang apa yang seharurusnya dilakukan sehingga jiwa dapat mengetahuan apa yang dia lakukan melaui pengetahuan.
Dalam pengetahuan teorits memiliki dua jenis subjek. Subjek yang dapat dilekati dengan gerak, seperti kemanusiaan dan kesatuan, serta subjek yang tidak dapat dilekati dengan gerak, seperti Tuhan dan intelek. Kemudian yang pertama dibagi dua, yaitu suatu yang bisa eksis tanpa gerak yang dikaitkan dengannya seperti kesatuan dan keragaman, kemudia suatu yang tidak bisa eksis tanpa gerak yang dikatikan dengannya, seperti kemuanusiaan dan kepersegian.
Di sisi lain filsafat praktis dibagi menjadi tiga prinsip. Prinsip-prinsip yang mendasari urusan public antara anggota Masyarakat, yakni manajemen negeri/kota yang biasa disebut dengan ilmu politik. Prinsip-prinsip yang mendasari urusan personal di dalam Masyarakat, yakni manajemen rumah tangga. Prinsip-prinsip urusan yang mendasari urusan-urusan individu, yakni manajemen individu yang disebut etika. Prinsip-prisip filsafat praktis diambil dari syari’at ilahi dan definisi-definisi lengkapnya diperjelas oleh syari’at tuhan. Dalam tiga prinsip ini juga memberikan manfaat yakni, prinsip urusan publik antara anggota masyarakat adalah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kelestarian antar ummat, prinsip individu dengan personal di dalam masyarakat adalah untuk mengikat hubungan lebih erat antara keluarga, seperti suami dan istri, anak dan orang tua dan tua dengan hamba sahaya, prinsip individu dengan urusan-uruan individu, yakni untuk pengetahuan akan kebajikan-kebajikan yang akan kita berikan kepada masyarakat dan bagaimana cara untuk memperbaiki jiwa dan mengetahui perbuatan-perbuatan jahat, serta bagaimana cara untuk mengindarinya.
Ibnu Sina menganggap logika sebagai kunci filsafat, yang pencariannya (pengetahuan) adalah kunci kebahagiaan manusia. Logika menurut Ibn Sina sendiri berfungsi untuk membantu menarik konsep-konsep penilaian yang belum diketahui sehingga menarik konsep-konsep penilaian yang sudah diketahui kemudian meningkatkan derajat pengetahuan kita (konsep adalah mental tanpa penegasan dan negasi, penilaian adalah objek dengan penegasan dan negasi). Logika melakukan hal ini dengan bertindak sebagai seperangkat aturan atau kaidah untuk membedakan anatara absah dan tidaknya frasa-frasa penjelas yang mewujudkan konsep serta intrumen yang mengerakkan dari konsep yang dikenal kepada konsep yang tidak dikenal.
Fisika berhubungan dengan studi tentang prinsip-prinsip tertentu dan tentang hal-hal yang terkait dengan benda alam. Prinsip ini pada dasarnya ada tiga, materi, bentuk, dan intelekagen. Pada dasarnya intek dianggap sebagai prinsip alam sepanjang ia menjadi sebab yang mengikat materi dan bentuk, serta menjadi sebab keberadaan benda-benda alam. Hanya karena ia memiliki hubungan dengan alam fisiklah intelekagen dibahas dalam fisika.
Pembahasan mengenai jiwa mengambil porsi besar dalam ajaran fisika Ibnu Sina, yang membeberkan bahwa fungsi jiwa terbatas pada makan, tumbuh dan reproduksi, maka ia hanya tumbuhan belaka. Jika pengindraan ditambah dengan gerak pada jiwa-jiwa di atas maka ia adalah jiwa Binatang. Jiwa manusia sendiri meliputi yang di atas, hanya saja di tambah dengan fungsi manusiawi dan rasional yang dibagi menjadi daya atau intelek praktis dan teoritis.
Metafisika adalah ilmu yang memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip filsafat teoritis. Ini dilakukan dengan cara mendemostrasikan perolehan sempurna prinsip-prinsip tersebut melalui intelek. Subjek metafisika adalah maujud, bukan karena maujud itu diterapkan pada sesuatu dan bukan karena yang partikular dilekatkan padanya, seperti dalam fisika dan matematika (seperti kualitas dan kuantitas, aksi dan reaksi, yang dikaitkan pada objek-objek fisika), akan tetapi karena maujud diterapkan pada prinsip wujud dan karena sesuatu yang universal dilekatkan padanya (seperti keesaan dan kemajemukan, potensi, universalitas dan partikularitas, kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, keniscayaan atau kemestian dan kemungkinan).









