Kampus berupaya untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif. Namun guiding block atau blok pemandu untuk tunanetra di area kampus dan sekitar parkiran justru terblokir. Kendaraan bermotor diparkir sembarangan di atas jalur blok pemandu.
Blok pemandu ini seharusnya menjadi panduan penting bagi para tunanetra untuk bergerak lebih aman dan mandiri. Namun nyatanya banyak kendaraan, terutama motor, sering diparkir di atas blok ini tanpa mpertimbangkan kegunaannya. Fungsi sebagai panduan bagi tunanetra otomatis berhenti. Hal ini menjadi ironi dan mencoreng komitmen inklusivitas di kampus dan ruang aman bagi penyandang disabilitas.
Ketidakpedulian ini berpotensi menimbulkan bahaya bagi tunanetra yang mengandalkan blok pemandu untuk navigasi dan memaksa mereka mencari jalan alternatif yang lebih baik. Persoalan ini mencerminkan kurangnya kesadaran akan pentingnya fasilitas aksesibilitas.
Guiding block merupakan fasilitas yang krusial bagi penyandang disabilitas untuk merasakan kebebasan dan kenyamanan di lingkungan kampus. Aksi parkir sembarangan ini tidak hanya menghilangkan akses, tapi juga secara langsung mendiskriminasi tunanetra yang seharusnya mendapatkan hak yang sama dalam menggunakan ruang publik.
Sejauh ini, tidak ada pengawasan ketat atau rambu yang memadai untuk menjaga agar area ini tidak terhalang. Kendaraan bebas parkir di atas blok pengemudi tanpa teguran, menunjukkan seolah-olah fasilitas ini bisa diabaikan begitu saja. Padahal, tindakan sederhana seperti memasang tanda atau memberi sanksi tegas akan sangat membantu menjaga jalur ini tetap berfungsi.
Peran aktif pihak kampus dalam melindungi blok pemandu ini harus diperkuat. Tanpa langkah nyata untuk memberikan edukasi dan pengawasan, blok pemandu hanya akan menjadi simbol kosong tanpa arti. Pihak kampus seharusnya segera menyelesaikan permasalahan ini dengan solusi konkret, seperti penataan ulang parkiran, pengawasan yang lebih ketat, dan peningkatan kesadaran di kalangan mahasiswa.
Pada akhirnya, blok pemandu yang terhalang bukan sekadar masalah teknis, tapi masalah mendasar terkait hak akses yang setara di kampus. Kewajiban untuk menghargai fasilitas ini adalah tanggung jawab semua pihak, baik mahasiswa, staf, dosen, maupun pengunjung kampus. Keberhasilan menciptakan kampus inklusif yang sesungguhnya hanya bisa terwujud jika setiap elemen peduli terkait hal ini.
Kampus inklusif adalah visi yang membutuhkan keseriusan, bukan sekedar slogan. Sebagai universitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sudah sepantasnya kampus berkomitmen penuh pada inklusivitas. Mengembalikan fungsi guide block sebagai jalur pemandu tunanetra adalah hal serius.









