Nina duduk di meja kayu yang dipenuhi dengan tumpukan buku malam itu. Lampu meja memancarkan cahaya hangat, menerangi wajahnya yang serius, sementara jemarinya mengetik cepat diatas laptop. Sebagai penulis, setiap detik baginya adalah kesempatan untuk menciptakan dunia baru, menghidupkan karakter-karakter yang ada dalam imajinasinya. Namun belakangan ini, inspirasi tampak menjauh, seolah melarikan diri setiap kali dia berusaha meNgejarnya.
Dia menyandarkan kepala di tangan, merenungkan ide-ide yang berputar dalam pikirannya, tetapi semuanya terasa hampa. Beberapa minggu terakhir, dia merasa terjebak dalam labirin kata-kata yang tidak menghasilkan apa-apa. Ketika penantian akan inspirasi semakin menyiksa, Nina teringat pada neneknya yang selalu berkata, “Cinta sejati tidak hanya ditemukan, tetapi juga ditulis.” Kalimat itu mengusik pikirannya dan memicu rasa ingin tahunya. Mungkin, apa yang dia butuhkan bukan hanya imajinasi, tetapi juga jejak cinta yang tersembunyi dalam sejarah keluarganya.
Suatu hari, saat dia membersihkan kamar neneknya yang sudah tiada, Nina menemukan sebuah kotak kayu kecil berdebu yang ada di balik lemari tua. Dengan rasa ingin tahu, dia membuka kotak itu dan mendapati tumpukan surat-surat kuno yang terlipat rapi. Nina menemukan surat yang bertuliskan Ridho sebagai pengirimnya.
“Ridho?” Gumamnya heran.
Ternyata surat itu bukan surat biasa, melainkan surat cinta yang ditujukan kepada neneknya. Surat-surat itu penuh perasaan dan ditulis dengan indah. Namun, nama tersebut bukanlah nama kakeknya. Nina semakin penasaran dengan cerita cinta tersebut, dan ia mulai membaca satu-persatu surat itu dengan penuh rasa ingin tahu.
Dari surat-surat tersebut, Nina menemukan informasi tentang Ridho dan bagaimana hubungan mereka berakhir. Nina pun penasaran hingga memutuskan untuk menyelidiki kisah cinta tersebut secara langsung.
Nina menghubungi teman-teman neneknya yang masih hidup dan menanyakan semua tentang Ridho. Dia menemukan bahwa Ridho adalah seorang penyair yang terpaksa meninggalkan kota dan neneknya, dengan alasan yang tidak jelas. Dia juga mendapatkan alamat Ridho, meski alamat itu sekitar 30 tahun lalu. Nina tak mundur selangkahpun, dia bergegas menuju alamat yang telah dia dapat.
Sesampainya Nina pada alamat yang dia tuju, dia menemukan rumah yang pernah ditinggali oleh Ridho.
“Assalamu’alaikum, apa benar ini rumah kakek Ridho?”
“Wa’alaikumussalam, iya benar. Siapa?” Terdengar sahutan dari dalam rumah.
“Saya cucunya nenek Murni. Boleh saya ketemu sama kakek Ridho?” Pinta Nina.
Murni? Seperti tidak asing. Itu yang ada dalam pikiran Rahman pada saat itu.
“Saya Rahman, anak kakek Ridho. Kakek sudah meninggal 5 tahun lalu. Tapi beliau pernah berpesan, kalau ada yang mencari beliau dengan menyebut nama Murni, saya harus ngasih tahu sesuatu. Mari masuk dulu nak,” jawab Rahman.
Rahman mengulurkan sebuah buku yang tampak usang, sampulnya bertuliskan ‘Tentang Kita’ Tatapannya dalam dan penuh haru, seolah buku itu menyimpan lebih dari sekadar kata-kata. “Kakek menitipkan buku ini untuk siapapun yang berhubungan dengan Murni,” suaranya sedikit bergetar. “Dia ingin Murni membaca buku ini.” Rahman menatap Nina dengan penuh arti.
“Nenek saya meninggal 2 tahun lalu, pak. Apakah buku ini boleh saya bawa pulang?” Jawab Nina.
Rahman menghela nafas dengan rasa sedih dan kecewa. “Baiklah kalau begitu, tolong jaga buku ini baik-baik ya, nak.”
Sesampainya di rumah, Nina membuka buku itu dengan hati-hati, jari-jarinya menyentuh kertas yang sudah mulai menguning. Di halaman pertama, dia melihat foto hitam putih dua sejoli yang sedang tersenyum, cinta tampak jelas di mata mereka. Nina menahan napas, membayangkan neneknya di masa mudanya. Setiap halaman yang dibuka, semakin dalam dia tenggelam dalam kisah cinta Ridho dan neneknya, seolah merasakan setiap puisi dan kata yang tersurat membawa beban emosi bertahun-tahun.
Ternyata, mereka merupakan pasangan yang sangat mencintai satu sama lain pada masanya. Namun, suatu saat terjadi sebuah konflik antara mereka. Kedua orangtua Murni tidak setuju dengan hubungan asmara mereka. Pasalnya, Ridho bukan siapa-siapa pada masa itu, bukan orang berpendidikan tinggi, bahkan bukan orang kaya. Dia hanya menulis puisi dan bersyair setiap harinya.
Namun apalah daya, menurut mereka, restu kedua orangtua Murni yang terpenting. Ridho pun memutuskan untuk merelakan cintanya kandas begitu saja, dan merelakan Murni menjadi milik siapapun, asal mendapat restu dari kedua orangtuanya.
Sesak. Sakit. Kecewa. Semua dirasakan Ridho pada saat itu.
Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenangan manisnya bersama Murni dan memilih untuk tinggal di kota lain. Disana dia berusaha keras untuk mengikhlaskan Murni.
Sedangkan Murni? Ya, dia juga harus rela hidup dengan orang yang tak dicintainya pada masa itu. Tentunya bukan hal yang mudah bagi mereka berdua. Namun itulah takdirnya.
Setelah berpisah dengan Murni, Ridho merasa separuh jiwanya hilang. Dia meninggalkan kota tempat mereka berbagi kenangan manis,berusaha mengikhlaskan cinta yang tidak direstui itu.
Di kota barunya, Ridho berjuang keras untuk menemukan jati dirinya. Dia menulis puisi lebih banyak sebagai cara untuk mengekspresikan rasa sakit akan kerinduannya. Setiap bait yang ditulisnya adalah cerminan dari hatinya yang hancur.
Ridho bekerja sebagai buruh disana. Dia harus melanjutkan hidupnya meski dengan keadaan pahit.
Waktu semakin berlalu, Ridho menemukan seseorang yang bisa menggantikan Murni disisinya, namun tidak dihatinya. Dihati Ridho tetap hanya ada Murni seorang. Ridho dan istrinya dikaruniai 2 anak dan kini telah memiliki cucu.
Hati Nina sesak membaca perpisahan mereka, air matanya tanpa disadari menetes, mengalir bersamaan dengan bait-bait terakhir puisi yang penuh dengan rasa sakit dan pengorbanan.
“Lantas, bagaimana nenek bisa bertahan dengan orang yang tidak dicintainya?” Pikiran Nina masih berkutik tentang itu.
Setelah menutup buku itu, Nina menarik napas dalam-dalam. Kini dia tahu, cinta tak selalu berakhir dengan kebahagiaan seperti dalam cerita-cerita dongeng. Tapi cinta sejati, seperti cinta Ridho dan neneknya, bisa bertahan dalam kenangan, dalam kata-kata yang abadi di atas kertas.
Nina menatap layar laptopnya. Jemarinya mulai bergerak, menulis kalimat demi kalimat, seolah kata-kata mengalir dari masa lalu, membawa pesan yang tak sempat disampaikan. Kisah cinta itu memang tak selesai di dunia nyata, namun Nina yakin, dengan menuliskannya, dia telah memberi mereka akhir yang pantas. Di mana cinta mereka hidup, meski hanya dalam dunia yang dia ciptakan.
Penulis: Uswatun Khasanah, Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang









