Paris. Kota cahaya yang tak pernah tidur, menjadi saksi bisu perpaduan seni, cinta, dan rahasia masa lalu. Di tengah hiruk pikuk pameran seni internasional, seorang pelukis bernama Ronald menjadi pusat perhatian, bukan karena ketenarannya, melainkan karena penampilannya yang sederhana, hampir menyerupai seorang pengemis. Pakaian lusuhnya kontras dengan kemegahan gedung pameran dan para tamu undangan yang berpakaian mahal.
Di antara kerumunan itu, hadir seorang pria berpengaruh bernama John Cena. Dikenal dengan kolektor seni kelas dunia sekaligus orang terkaya di kota Paris, memasuki area pameran datang menggunakan mobil mewah dengan berbagai fasilitas kelas atas.
“Sang kolektor seni kelas dunia memasuki ruangan,” ucap penjaga pameran dengan suara lantang, suasana menjadi hening dikala ramainya pameran seni internasional.
Seketika penglihatan John Cena tertuju pada Ronald, bukan pada karya seni yang dipajang paling depan, melainkan pada penampilan yang dianggap remeh. Dengan nada mengejek, John Cena berkomentar kepada rekan-rekannya, “Lihatlah pria itu, dengan pakaian seperti itu berani-beraninya ikut pameran.” Ejekan John Cena seakan menjadi bumbu penyedap bagi para tamu undangan yang lain.
“Kok bisa… orang seperti itu masuk di gedung semewah ini,” jawab pengunjung yang datang.
Si Ronald dengan tampang yang sederhana meratapi keadaan di mana sebagian besar pengunjung pameran tersebut tertuju padanya.
Mungkin mereka belum tau siapa saya, maka dari itu bicara begitu, ujar Ronald dalam hatinya sambil mengusap dada.
“Hei, kamu! Keluar dari sini!” bentak John Cena, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. Beberapa pengunjung menoleh penasaran.
Ronald terlonjak kaget. Ia menatap John Cena dengan tatapan memohon, namun John Cena tak bergeming. Dengan kasar, petugas pameran internasional menarik lengan Ronald dan menyeretnya keluar dari galeri.
“Ini pameran seni, bukan tempat untuk pengemis!” teriak Petugas pameran.
Ronald terdiam, wajahnya memerah menahan malu. Ia meringkuk di sudut jalan, matanya menatap kosong ke arah galeri yang kini menjadi mimpi buruk baginya.
***
Namun dengan hiruk pikuk waktu yang bergetar, harapan akan merekah tak lama kemudian. Suasana pun berubah drastis. Terlihat salah satu karya yang dipamerkan menjadi pusat perhatian para kolektor dunia. Lukisan abstrak dengan warna-warna berani itu mengundang decak kagum dan pujian. Seakan-akan lukisannya kalau kita amati bercerita dengan sendirinya, pengunjung yang datang membawa pengalaman dan emosi mereka sendiri ke dalam karya lukisan itu.
“Ini bukan pelukis biasa. Pasti ini pelukis kelas internasional.” ujar John Cena, dengan geleng-geleng kepala.
“Saya ingin bertemu dengan pelukisnya,” ujar John Cena kepada kurator pameran.
Dengan cepatnya panitia mencari arsip foto dan nama peserta pameran seni internasional, tak ada angin dan hujan ternyata semua arsip menghilang.
“Bagaimana ini. Aku bisa kena marah ni.” ucap panitia.
Ternyata ada salah satu arsip yang masih ada, utuh dengan foto karya dan nama pelukis. Diketahui bahwa pelukis yang dicari adalah Si Ronald, pria dengan pakaian lusuh yang sempat menjadi bahan ejekan. John Cena terkejut sekaligus penasaran.
“Kok bisa ya.. seorang pelukis biasa, karyanya dikagumi oleh kolektor-kolektor dunia,” ujar John Cena dalam hati, seketika Ia meminta Ronald untuk datang ke kediamannya.
Diantara rasa malu menjadi pilu, sementara hati berdebar menyambut tamu agung pelukis terbaik Ronald, datang dengan membawa harapan baru.
“Saya sangat mengagumi karya Anda, mohon maaf kalau tadi terjadi keributan” ujar John Cena memulai percakapan.
“Terima kasih Pak.., itu menjadi hal biasa buat saya” jawab Ronald.
John Cena terpesona oleh bakat luar biasa yang dimiliki Ronald. Ia merasa ada koneksi yang dalam antara dirinya dan lukisan-lukisan Ronald, seolah-olah karya-karya itu mampu menembus jauh ke dalam jiwanya.
Sejak saat itu, John Cena menjadi kolektor karya-karya Ronald yang paling setia. Ia bahkan mencarikan sebuah ruang khusus di rumahnya untuk memajang lukisan-lukisan tersebut. Kedekatan mereka semakin erat, hingga akhirnya John Cena merasa jatuh cinta pada bakat dan kepribadian Ronald.
“Saya ingin menawarkan Anda sebuah kerjasama yang menguntungkan, Bagaimana jika Anda menjadi menantu saya?” Ujar Pak John dengan wajah penuh keyakinan, terselip rasa yang tak bisa pudar.
Ronald terdiam.
Ia tidak menyangka tawaran sebesar itu datang tiba-tiba kepadanya. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa canggungnya.
“Saya… saya harus memikirkannya dulu,” jawab Ronald, dengan rasa takutnya.
Pak John Cena, yang awalnya meremehkan Ronald, kini terpukau. Ia ingin sekali memiliki lukisan itu dan berniat untuk menjadikan pelukisnya sebagai menantu.
Sementara itu, Elina, putri tunggal John Cena, yang dikenal sebagai gadis cantik dan cerdas, sangat penasaran dengan pelukis misterius yang karyanya begitu dikagumi ayahnya. Elina pun meminta izin untuk bertemu dengan Ronald.
“Ihh.. pakaian kayak pengemis,” ujar Elina dalam hatinya saat pandangan pertama tertuju pada Ronald.
Pertemuan Elina dan Ronald berlangsung penuh ketegangan. Semakin lama mereka berbicara, semakin kuat firasat aneh muncul di benak keduanya. Ada sesuatu yang familiar pada diri masing-masing.
“Saya merasa seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya,” ujar Elina.
Ronald hanya tersenyum tipis. Ia mencoba mengingat-ngingat, namun ingatannya tentang masa lalu sangat kabur. Setelah beberapa saat, Elina tiba-tiba memeluk Ronald erat. “Aku tahu siapa kamu!” teriaknya. Ronald terkejut. Ia membalas pelukan Elina. “Aku juga tahu siapa kamu,” jawabnya lirih.
Ternyata, Ronald dan Elina adalah kakak beradik yang terpisah sejak kecil akibat sebuah kecelakaan beruntun di suatu kota kecil, hingga Si Roland mengidap penyakit Amnesia, tak tau hilang kemana. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah kejadian itu, tapi Amnesia yang membelenggu sirna ketika memasuki remaja, memori pulih semula, hidupnya kembali berdenyut penuh makna.
Kebenaran ini mengejutkan semua orang, terutama Pak John Cena. Ia tidak menyangka bahwa pelukis yang begitu dikaguminya ternyata adalah saudara kandung dari putrinya sendiri.
Akhirnya, setelah sekian lama terpisah, Ronald dan Elina dapat bersatu kembali. Kisah mereka menjadi perbincangan hangat di kalangan sosialita Paris. Lukisan Ronald yang menjadi pemicu pertemuan mereka kini dipajang di ruang tamu kediaman Pak John Cena sebagai simbol persatuan keluarga.
Dan begitulah, sebuah lukisan tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga menjadi penghubung antara dua jiwa yang terpisah.
Penulis: Ahmad Nur Hafidh, Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang









