Pendidikan di perkuliahan memiliki metode belajar yang berbeda dengan model pendidikan yang lain. Pendidikan tinggi mengutamakan eksperimen dan empiris atau yang biasa disebut dengan ilmiah. Dalam proses belajar mengajar, pendidikan tinggi mengadopsi prinsip positivisme yang menekankan rasionalitas, observasi dan eksperimen. Prinsip ini menjadi dasar civitas akademika diajarkan untuk menggunakan metodologi ilmiah yang ketat dalam pembelajaran maupun penelitian.
Positivisme adalah bagian teori dari filsafat ilmu yang membahas bagaimana menemukan kebenaran secara empiris dan eksperimen. Positivisme membuktikan kebenaran melalui metodologi ilmiah yang dapat diamati dan selanjutnya diukur dan dirangkum menjadi hukum-hukum untuk menjadi acuan pokok dalam mencari kebenaran yang dirangkum menjadi hukum alam. Berbeda dengan metafisika yang tidak dapat diukur dan diurai melalui hukum alam, sehingga pada metafisika kebenaran bersifat abstrak.
Filsafat Positivism pertama dikenalkan oleh Comte pada abad 19 dalam karyanya “Cours de Philosophie Positive”, hingga ia terus menggunakan istilah ini di karya selanjutnya. Menurut Comte Filsafat digunakan sebagai sistem konsep-konsep umum mengenai manusia. Sedangkan positivism digunakan sebagai sistem yang digunakan dalam menyusun fakta-fakta yang telah diamati, oleh sebab itu Comte mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat melampaui fakta sehingga positivism menolak akan ajaran metafisika dan menerima apa adanya.
Selanjutnya, pada abad ke 20 muncul sebuah aliran ilmu pengetahuan yakni positivism logis milik Alfred Jules Ayer yang mengembangkan metode positivism milik Comte. Positivisme logis ini tidak lepas dari perkembangan lingkungan Eropa pada masa awal abad ke 20. Positivism logis memperkenalkan prinsip verifikasi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan hanya bermakna jika dapat diverifikasi dengan empiris dan logis. Maka dari itu positivism logis adalah cara untuk menguji kebermaknaan suatu pernyataan melalui pengalaman atau pengamatan.
Konsep verifikasi dari pemikiran logis adalah logika, matematika dan ilmu pengetahuan alam yang bersifat positif dan empiris (pengetahuan yang seluruhnya berdasarkan pengalaman yang menggunakan indra bukan akal). Cara untuk menganalisis positivism logis adalah dengan menguji pernyataan-pernyataan dan proposisi-proposisi. Proposisi melalui analitik dan sintetik, analitik dirumuskan dengan akal sedangkan sintetik dilihat melalui fakta.
Filsafat positivism dan positivism logis memiliki keterkaitan terhadap pendidikan di Indonesia. Ketika aliran filsafat sangat menekankan pada aspek empiris, maka ilmu pengetahuan yang akan didapat akan berupa empiris, serta ilmu yang dilahirkan dapat dibuktikan secara ilmiah. Pendidikan tinggi di Indonesia menegaskan hal ini dalam kurikulumnya.
Kurikulum dapat diartikan sebagai mata pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik di suatu tempat belajar. Sedangkan secara luas kurikulum dapat diartikan sebagai seluruh aktivitas peserta didik yang dapat mempengaruhi pembelajaran serta dalam tanggung jawab pengajar. Di Indonesia sendiri dalam menerapkan kurikulum tidak jauh dari pemahaman akan empiris, segala pengalaman dan pengetahuan dari dosen pengampu mata kuliah, pembimbing dan lain sebagainya.
Tampak pula pada tugas-tugas kuliah, pada umumnya dosen memberikan tugas tambahan kepada mahasiswa untuk melengkapi nilai. Positivism tidak luput dengan hal itu sebab dosen tentu mewajibkan setiap mahasiswa saat mengerjakan tugas untuk menyertakan eksperimen dan empirisnya.
Menurut Comte, peran filsafat Positivism dalam aspek metode ini dapat dibagi menjadi dua. Filsafat positivism dapat menjadi metode pengembangan dan metode pembelajaran dalam perkuliahan. Metodologi semacam ini berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan masyarakat secara terus menerus.
Dapat dilihat bahwa pendidikan di perkuliahan yang mengutamakan proses eksperimen dan empiris. Hal berbeda dengan pendidikan di bangku sekolah apalagi pendidikan di pesantren yang mengutamakan akan ketersinambungan sanad dalam berguru. Pendidikan di perkuliahan yang tidak mengutamakan akan hal itu namun sangat ketat dengan referensi pustaka.
Dalam metode teori ilmu pengetahuan Auguste Comte mengenai positivisme kita dapat memberikan argumen melalui eksperimen dan empiris. Kemudian pada abad ke 20, Alfred Jules Ayer memberikan metodenya yang menyempurnakan metode milik Comte, yaitu Positivisme Logis serta memiliki konsep verifikasi pada dua prinsip, yakni empiris dan logis yakni memberikan pernyataan melalui pengalaman dari indra dan pengetahuan. Metode ajaran Comte dan Ayer tidak luput dengan dunia Pendidikan, yang hingga saat ini menggunakan metode perkuliahan dan kurikulum dengan metode ajaran Comte dan Ayer, yakni Positivisme dan Positivisme Logis.









