Beranda / Esai / Opini / Menjembatani Dialog Antaragama Melalui Komunitas Simpul Iman

Menjembatani Dialog Antaragama Melalui Komunitas Simpul Iman

Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang penuh dengan keragaman budaya, suku bangsa, ras, etnis, agama, maupun bahasa daerah. Kemajemukan itu terjalin dalam satu ikatan bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat, sesuai dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dalam hal agama, negara ini memiliki berbagai agama besar dunia yang menyebar luas ke seluruh nusantara, diantaranya Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Konghucu, dan masih banyak lagi agama lokal serta kepercayaan-kepercayaan yang masih melekat dengan tradisi dan budaya masing-masing. Keragaman ini yang akan menguatkan toleransi dan rasa cinta antar sesama, serta menunjukkan persatuan dan kesatuan di dalam Negara Indonesia.

Komunikasi menjadi bagian terpenting dalam kehidupan, karena dengan adanya komunikasi dapat membangun hubungan yang baik antar sesama. Oleh karena itu, perlunya menciptakan dialog antar umat beragama. Kesadaran bersama atas pentingnya toleransi dalam menjaga kerukunan antar agama, bahwa manusia perlu memiliki sikap terbuka dan berjiwa sosial. Simpul Iman Community hadir menjadi penghubung antar umat beragama di ranah mahasiswa. Berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda,  komunitas lintas iman yang didirikan pada tahun 2005 ini tergabung oleh tiga fakultas yaitu Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, dan Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. Sebagai organisasi yang berasal dari, oleh, dan untuk mahasiswa, organisasi ini terbentuk sebagai wadah dialog interreligius dan ruang belajar bagi mahasiswa dalam menjaga toleransi dan ajaran kasih sayang dari setiap agama.

Memahami arti kata dialog tidak hanya berupa obrolan biasa tanpa makna antara satu orang dengan orang lain. Dialog berasal dari kata “dialeghe” yang berarti berdiskusi dan memperdebatkan semua sisi dari suatu permasalahan. Sedangkan secara terminologis, dialog memiliki arti komunikasi dua arah antara orang-orang yang berbeda pandangan terhadap suatu topik, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman lebih dalam mengenai kebenaran topik lain. Dialog menjadi ruang refleksi bersama melalui komunikasi antar umat beragama sebagai jalan mencari kebenaran dan kerja sama menuju kebaikan bersama. Sebagai negara pluralis, pentingnya dialog keagamaan sebagai pondasi antar umat beragama untuk tetap berkomitmen dalam menjaga kerukunan tanpa menghalangi penyiaran agama lain, saling menebar cinta dan kasih, serta tidak memandang sebelah mata dan mencampuri wilayah internal agama lain, sehingga mampu tercipta kedamaian dengan sikap saling menghargai dan saling menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Agama menjadi tempat pencarian, petunjuk, dan pedoman hidup bagi umat manusia. Manusia akan senantiasa mencari kebenaran atas kepercayaannya terhadap agama, oleh karenanya dialog teologis antar umat beragama memberikan keteguhan iman atas kebenaran agama yang dianutnya, tanpa memandang agama lain salah. Dialog teologis antaragama menjadi komunikasi bagi orang-orang yang percaya atas agama, membahas mengenai aspek keTuhanan, ritual keagamaan, sejarah agama, keotentikan kitab suci, keabsahan para nabi atau rasul, dan masalah-masalah lain yang bersifat teologis. Selain itu, menurut A. Mukti Ali terdapat dialog kehidupan yang mana berupaya untuk hidup saling terbuka dan hidup berdampingan dengan baik, merasakan suka dan duka, serta berusaha menyelesaikan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi bersama. Kemudian adanya dialog perbuatan dengan pengalaman agama yang dimiliki, yaitu dialog antar pemeluk agama yang berbeda dalam bentuk kerjasama untuk pembangunan umat dan pembebasan atas penderitaan, dengan berupaya membangun negara dan bersama-sama menghadapi berbagai ancaman.

Simpul Iman Community (SIM-C) menjawab tantangan bersama dalam membina persaudaraan di antara mahasiswa lintas agama, dengan membuka wawasan teologis agama lain melalui dialog dan diskusi antaragama. Diantaranya yaitu pertemuan rutin bulanan (intra universitas atau antar universitas), dialog antaragama dengan SIM-C (UIN Sunan Kalijaga – Universitas Kristen Duta Wacana – Universitas Sanata Dharma), kunjungan ke tempat ibadah, seminar mahasiswa, serta aksi damai berbagi takjil yang dilengkapi dengan buka bersama dan scriptual reasoning. Melalui berbagai program kerja yang dibentuk, menjadikan praktik-praktik dialog antaragama sebagai peningkatan pemahaman antaragama sekaligus membangun jaringan solidaritas lintas iman. SIM-C menjadi ruang bagi mahasiswa dalam mempelajari dan memahami atas wacana dan aksi lintas iman, bahwa ilmu tidak cukup sekedar teori di dalam ruang kelas saja, melainkan perlu aksi nyata dalam mengimplementasikan pengetahuan.

Sebagai wadah gerakan perubahan sosial, mereka yang bergabung dalam organisasi SIM-C yang notabennya berbeda latar belakang agama, suku, dan bahasa, lambat laun menjadi terbiasa ketika berkumpul dalam forum, kelompok diskusi, maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Suasana kegiatan-kegiatan tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran akan dialog kehidupan, seperti pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga kerukunan. Dengan membahas berbagai persoalan dari sudut pandang masing-masing agama, sehingga menemukan titik terangnya. Pada saat itu pula, pandangan atas agama semakin luas, bahkan semakin kuatnya keteguhan iman dan kesadaran dalam beragama semakin tumbuh. Dengan begitu, Simpul Iman Community memberikan aksi nyata atas pentingnya hubungan antaragama sebagai modal masa depan dalam melanggengkan kedamaian dan menjaga kerukunan hidup umat manusia.

oleh : Khoirotul Mahmudah

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *