“Kita mengira jempol kita beneran bisa membantu merubah sesuatu, padahal kemampuannya hanya sebatas ngabarin teman mutual aja. Jangan-jangan jempol ini hanya sukses menjadi payung untuk moral kita aja, tanpa benar-benar mengubah apapun.”
Mari ngobrol soal media sosial.
Tadi sore, seorang teman mampir dan bawa dua cerita yang menurutku absurd. Dua-duanya soal pengalaman dia di dunia maya.
Pertama, dia baru saja merasakan jadi “selebgram” dadakan. Satu komentar isengnya di postingan viral dapat like sampai 2.000. Angka yang gila untuk ukuran mas-mas biasa. Bayangkan kalau kamu ngomong di dunia nyata dan 2.000 orang mengangguk setuju. Itu nggak mungkin kejadian kecuali kamu artis atau ketua partai.
Kedua, di saat yang sama, dia kena semprot teman medsosnya (mutual). Dia dimaki-maki, dibilang “tak berperasaan” dan “apatis” gara-gara akunnya sepi, nggak ikut memposting soal bencana krisis iklim di Sumatera. Sungguh sebuah pencapaian yang “istimewa”.
(Sebelum lanjut ngomelnya, mari kita memanjatkan doa terbaik untuk keselamatan dan kesehatan saudara-saudara di Sumatera dan tempat lain yang juga terdampak bencana akibat krisis iklim plus cacat kelola pemerintah atas alam. Kita sepakat, desakan kepada pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini dari permukaan sampai akar: dari penyaluran hak bantuan sampai menyikat para mafia perusak lingkungan adalah mutlak harus terus dituntaskan).
Izinkan aku meneruskan.
Dua kejadian ini, menurutku, bukti bahwa batas dunia nyata dan maya semakin tidak jelas. Temanku menyebutnya Hyperreality, dia mengutip Jean Baudrillard (padahal dia, dan aku juga, belum baca bukunya). Poin kami: dunia maya makin terasa nyata, padahal isinya sering kali nggak nyambung dengan kenyataan.
Di Balik Ribuan Like “Tombol Bela Cowo”
“Algoritma merawat resep jitu berbasis adu domba ini tentu karena mendatangkan banyak enggagement dan screen time alias waktu pengguna berada di aplikasi. Kedua hal tersebut adalah pundi-pundi uang bagi penyedia layanan.“
Mari kita melihatnya di kasus 2.000 likes tadi.
Sejujurnya, aku masih tidak paham apa arti sebuah like. Apakah 2.000 likes itu tanda persetujuan intelektual? kurasa bukan. Atau apakah itu tanda postingan ditonton oleh pengguna lain? tentu tidak juga. Atau kah itu simbol apresiasi sehingga pembuat postingan merasa dihargai dan berkemungkinan mengunggah postingan lagi, bisa jadi. Intinya kegunaan like itu sebenarnya tidak jelas.
Izinkan aku menceritakan cerita di balik 2000 like itu. Konteksnya begini: Ada video viral (yang konteksnya nggak jelas) tentang pertengkaran pelatih gym dan pengunjung perempuan. Di unggahan video itu temanku, dengan santainya komen: “Tombol bela cowo” yang ternyata mengundang 2000 like dan praktis memancing kemarahan segerembolan netizen kepadanya. Berbagai cap akhirnya dikumpulkan oleh temanku ini, dari “lelaki cupu”, “patriarkis-sexist”, “tandai orang ini dan jangan biarkan perempuan mana pun menikahi laki-laki menjijikkan ini” dan sebagainya.
Sewaktu kutanya kenapa dia berkomentar seperti itu, dia menjelaskan (atau membela diri, silahkan pembaca yang memutuskan hehe): “Lha wong videonya nggak jelas kok. Masak aku komen nggak jelas juga nggak boleh? Aku nggak mbela siapa-siapa, cuma nulis gitu doang.”
Kendati mengaku tidak berniat membuat perdebatan antar kubu, temanku ini toh sudah secara de facto berhasil melakukannya. 2.000 like dan puluhan hate comment dengan intensitas kebencian yang bervariasi dari kecewa, nyumpahin sampai memboikot doi dari nikah.
Johann Hari, seorang penulis buku yang cukup laris di pasaran Indonesia, Stolen Focus, mungkin bisa menjelaskan ini: algoritma memang “lapar” dengan hal-hal provokatif. Komentar yang memancing keributan atau membelah kubu (cewek vs cowok) pasti panen interaksi. Algoritma merawat resep jitu berbasis adu domba ini tentu karena mendatangkan banyak enggagement dan screen time alias waktu pengguna berada di aplikasi. Kedua hal tersebut adalah pundi-pundi uang bagi penyedia layanan. Screen time yang kita sumbangkan adalah reklame berbayar untuk pebisnis yang ingin memasarkan produknya langsung di depan muka kita.
Tapi di luar itu semua, komentar temanku tetap santai tanpa keraguan, dia menyampaikannya sambil cengar-cengir, “Netizen aja yang serius banget.”
Si Paling Apatis dan Ilusi Merubah Dunia via Story
“Silahkan marah-marah sepuasnya di medsos, tapi urusan politik, urusan yang sebenarnya, biarin kami yang pegang.”
Kemudian soal gelar “Apatis”.
Tuduhan teman medsosnya itu membuatku dan temanku berpikir keras. Lha kita merasa sedikit nggak enak beneran cuy! Linimasa kami memang penuh postingan soal Sumatera: link donasi, doa, sampai narasi agitasi berisi kritik yang menyasar pemerintah. Tapi kami tidak paham apa maksud dari semua itu. Apa tujuan sebenarnya, tujuan jangka panjangnya? Benak kami tidak bisa dengan nyaman terima bahwa itu semua hanyalah sekumpulan kritik sporadis. Jadi kami mengajukan pertanyaan: Apa sih tujuan sebenarnya dari semua postingan itu?
Hampir semua narasi di sana ujung-ujungnya akan mengajak kita untuk share ulang. Di sini lah aku mulai merasa sebal dan skeptis. Gimana ceritanya membagikan satu postingan di story bisa bikin pemerintah tiba-tiba becus kerja?
Maka kami mencoba mengkritisi: kenapa kita nggak langsung aja menyoroti stakeholder yang punya kuasa dan tanggung jawab? Soal penyaluran bantuan, misal, kita soroti pemda setempat dan dinas atau kementerian terkait. Tapi kalau tujuannya agitasi politik atau membangun gerakan, apakah cara “asal share” ini efektif? Atau jangan-jangan, pola kita di medsos memang cuma begini: Ada berita viral, semua orang ikut teriak, seminggu kemudian tenggelam dan perlahan dilupakan.
Kami merasa pola ini seakan tidak ada ujungnya. Inginnya sih membongkar mafia di balik pemerintahan, tapi praktiknya berhenti di ajang reshare tanpa dampak terukur. Ujung-ujungnya, kami jadi curiga: jangan-jangan semua keriuhan ini memang tidak punya tujuan jangka panjang, seperti gerakan atau apa lah. Ini cuma terapi massal buat menyalurkan hasrat marah-marah spontan aja.
Lalu, ke mana ujung dari semua marah-marah ini kecuali pada semakin buyarnya fokus kita. Setiap menutup satu hari dengan marah-marah ke pemerintah di medsos, besoknya rasanya perasaan itu tidak hilang, sama seperti masalahnya. Yang benar-benar hilang, paling tidak secara perlahan, adalah kemampuan kita untuk benar-benar berbuat sesuatu. Belum lagi kelelahan psikis yang makin intens seiring banjir informasi buruk yang seakan tak ada habisnya ini.
Apabila dilihat dari sisi itu, jangan-jangan fungsi dari segala keriuhan ini memang cuma terapi massal. Kemarahan perlu disalurkan, penampungannya sengaja didesain agar tidak punya daya ledak yang bisa mengubah keadaan. “Silahkan marah-marah sepuasnya di medsos, tapi urusan politik, urusan yang sebenarnya, biarin kami yang pegang.”
Poin kami di sini bukan tidak setuju dengan empati atau kritik. Tapi dari obrolan kami, kami ragu apakah cara “asal viral” yang selama ini kita terapkan di media sosial sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan? Bahkan kami agak sungkan untuk mengatakan “tujuan yang ditetapkan”, karena jujur saja, apa emang tujuannya? kami tidak tahu. Jangan-jangan selama ini kita overestimate kekuatan jempol kita? Kita mengira jempol kita beneran bisa membantu merubah sesuatu, padahal kemampuannya hanya sebatas ngabarin teman mutual aja. Jangan-jangan jempol ini hanya sukses menjadi payung untuk moral kita aja, tanpa benar-benar mengubah apapun.
Konklusi Ngomel Kami: Kembali Menapak Dunia Nyata
“Tanpa pembicaraan yang matang soal kedudukan, posisi dan fungsi alat ini, alat ini hanya akan membawa kita ke keadaan ambivalen yang menjebak.”
Di akhir obrolan kami, kami berspekulasi tentang pola yang akan terjadi di jagad maya kita dalam waktu yang akan datang. Temanku bercerita dengan agak mengiba bahwa dia menyayangkan perubahan yang terjadi di linimasa media sosialnya. Orang satu ini ternyata adalah veteran Instagram dan Tiktok, dan adalah seorang veteran yang menikmati ekosistem hiburan di dalamnya. Dia mengaku merasa prihatin bahwa medsos kini lebih banyak memicu anxiety daripada ereksi (seperti yang aku bilang, temanku satu ini memang akrab dengan geger dan konflik. Dia adalah manusia tinggi resiko).
Saat ini media sosial sedang di fase dipenuhi dengan berita-berita politik. Seakan orang-orang sedang giat-giatnya mengevaluasi pemerintah. Berita buruk mengenai inkompetensi pejabat publik menjadi konsumsi reguler setiap waktu di fase ini. Dan penggunanya secara perlahan tapi pasti, mengalami keletihan batin dan mental di hadapan berita-berita itu.
Temanku meramal bahwa fase selanjutnya harusnya adalah fase orang-orang mulai skeptis terhadap informasi dan wacana yang bertebaran di media sosial. Mulai muncul pertanyaan, apakah berita ini berimbang dan objektif, ataukah sebenarnya intrik yang sumbernya aktor-aktor politik pula. Kendati berani meramal soal fase selanjutnya ini, teman ku tetap tidak tau akan seperti apa suasana penghuni medsos apabila fase itu terjadi sungguhan.
Obrolan tidak berbobot soal ramalan fase kehidupan dunia maya seperti yang kami lakukan ini, dalam sepengetahuan kami, adalah diskusi yang jarang terjadi. Setidaknya kami berdua merasa belum banyak mendengar diskusi kritis atas fenomena dunia maya secara umum maupun khusus. Akibatnya adalah wajar saja apabila kemampuan untuk kritis terhadap informasi yang bertebaran di media sosial belum begitu canggih. Lha gimana, bahkan apa sebenarnya media sosial ini saja jarang dibicarakan, apalagi dipahami.
Kita perlu mendudukkan (atau mendudukkan ulang) apa sebenarnya fungsi media sosial ini bagi kita. Serta bagaimana idealnya kita mempergunakannya dalam berbagai keperluan. Tanpa pembicaraan yang matang soal kedudukan, posisi dan fungsi alat ini, alat ini hanya akan membawa kita ke keadaan ambivalen yang menjebak. Ini adalah PR bagi semua yang dapat memikirkannya.
Bersamaan dengan PR yang rumit itu, kita yang tidak (atau belum) terdampak langsung oleh berbagai bencana dan marabahaya di negara ini, mungkin bisa melakukan hal lain yang lebih waras. Seperti perlahan detach dari kebiasaan bermedsos yang tidak proporsional dan melakukan peregangan atau cari udara segar supaya fresh. Atau mencoba habit baru menjadi pribadi yang bisa suportif secara proaktif di dunia nyata, supaya jika nanti kita butuh gerakan alternatif, syarat-syarat dan pondasinya sudah setengah lunas. Dan tentu saja kembali fokus mengejar impian personal. Yakinlah bahwa banjir berita buruk ini akan sama aja kini atau nanti. Jadi karena toh sama aja, yaudah lanjut jalan aja. Kita nggak boleh berhenti.








Satu Komentar
Way cool! Some very valid points! I appreciate you penning this write-up plus the rest of the site is really
good.