Apa itu teman? Sebanyak apa yang aku tau tentang apa itu teman?
Merenung lah bersamaku atas pertanyaan ini. Rasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan tentangnya. Hal-hal menyangkut teman dan pertemanan adalah hal yang jarang dipahami secara runut dan sistematis. Banyak dari kita hanya menjalani hidup dan nyambi membuat beberapa teman dalam prosesnya. Tanpa penjelasan mengenai teman itu apa, tanpa konsep, tanpa definisi, tanpa petunjuk. Pengertian kita mengenai hal ini berkembang seiring waktu begitu saja. Setiap orang punya imajinasi yang mirip tentang apa itu teman dan pertemanan, namun di saat yang bersamaan imajinasinya itu mengandung detail yang sangat berbeda, antara satu orang dengan yang lainnya.
Imajinasiku sendiri tentang pertemanan, setelah merasakannya selama hampir dua dekade, juga masih tidak bisa dikatakan rigid dan konseptual. Bagiku teman adalah dia yang aku kenal dan bisa duduk bersamaku karena kemauannya sendiri, bukan karena terpaksa, baik oleh situasi kebetulan seperti bertemu di antrean rumah sakit atau bank, atau pun situasi terpaksa seperti duduk untuk bekerja. Jadi ukurannya adalah kesediaannya untuk duduk bersama. Cukup sederhana.
Ekstensi daripada pengertianku ini pasti ada. Beberapa dari kita mungkin akan menitikberatkan apa itu teman kepada aspek-aspek seperti “dapat dipercaya”, “cocok secara personal” atau lainnya. Namun aku memilih menjadikan aspek-aspek itu sebagai ekstensi. Bukan kriteria dasar. Teman yang dapat aku percaya atau cocok denganku dalam hal kepribadian dan obrolan berarti adalah teman baik atau sahabat. Mereka yang tidak demikian, tetap lah seorang teman.
“Rasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan tentang apa itu teman. Hal-hal menyangkut teman dan pertemanan adalah hal yang jarang dipahami secara runut dan sistematis. Banyak dari kita hanya menjalani hidup dan nyambi membuat beberapa teman dalam prosesnya.”
Aku harus menceritakan ini, karena menurutku menarik:
Satu-satunya pengalamanku mendapatkan penjelasan mengenai teman dan pertemanan adalah sewaktu aku belajar di pondok pesantren. Pesantren memiliki kurikulum pendidikan yang banyak memuat nasihat. Nasihat tentang apapun, sebut saja tentang tata perilaku terhadap diri, terhadap lingkungan, terhadap teman, terhadap guru dan lain-lain. Buku atau kitab yang secara khusus berisi nasihat-nasihat semacam ini disebut dengan kitab-kitab tasawuf atau akhlak.
Salah satu dari banyak kitab akhlak tasawuf yang kami pelajari di pesantren adalah kitab Bidayatul Hidayah. Apabila diterjemahkan judul kitab ini berarti “permulaan petunjuk”. Kitab akhlak-tasawuf karangan seorang ulama besar Islam yang tidak asing bagi kita semua, Al-Imam Muhammad Al-Ghazali. Isinya memuat banyak nasihat yang dituliskan secara runut, sehingga efektif sebagai kitab praktis untuk belajar akhlak tasawuf. Bukan untuk kebutuhan yang bersifat kajian ilmiah atau akademik tentang studi akhlak tasawuf.
Imam Al-Ghazali menuliskan 5 kriteria untuk mencari teman atau sahabat yang kompaktibel dan ideal untuk pengembaraan ilmu akhirat dan juga dunia, sebagai berikut:
- Berakal sehat, dalam arti bukan seorang dungu yang bebal. Al-Ghazali menekankan pada kemampuan akalnya untuk memilih yang baik dalam standar nalar umum manusia. Sehingga, Al-Ghazali berkata, tidak ada baiknya berteman dengan seorang dungu. Menurutnya, seorang dungu, bahkan ketika ia berniat melakukan sesuatu yang baik untuk kita, ia masih berpotensi tinggi membahayakan atau merugikan kita. Standar baik-buruknya kacau dan susah diperbaiki.
- Memiliki akhlak terpuji. Maksud Al-Ghazali atas kriteria ini adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dalam berbagai situasi, termasuk situasi yang tidak normal, seperti marah dan syahwat. Ia menuliskan larangan untuk berteman dengan orang mudah yang hilang kontrol diri di hadapan situasi ekstrem seperti kesusahan atau terlalu enak.
- Solih. Tentang kriteria ini Al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud ialah orang yang tidak terus menerus melakukan dosa besar, sehingga menampakkan keberanian kepada Allah. Al-Ghazali melarang kita berteman dengan orang yang tidak takut kepada Allah, sebab berisiko menjadikan kita terpengaruh akan hal tersebut.
- Bukan orang yang serakah terhadap materi duniawi. Tentang kriteria ini Al-Ghazali menuliskan bahwa tabiat manusia pada dasarnya mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Berteman dengan orang yang kedunyan menjadikanmu kedunyan juga. Akar dari kriteria ini adalah menjaga diri dari pengaruh negatif, bukan mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik antar teman yang disebabkan oleh urusan-urusan materiil.
- Al-Ghazali melarang kita berteman dengan seorang pembohong. Penjelasannya tentang kriteria ini adalah bahwa seorang pembohong akan menjauhkan kita dari fakta yang dekat, dan mendekatkan kita kepada fakta yang jauh. Ia memberikan keterangan yang tidak benar dan bohong.
Dari paparan tentang 5 kriteria teman yang baik versi Al-Ghazali di atas, aku membayangkan bahwa imajinasi Al-Ghazali tentang teman bertumpu berat kepada dua hal, yaitu jauh dari kemungkinan membawa celaka dan jauh dari kemungkinan memberi pengaruh buruk terhadap kita. Maka 5 kriteria itu dapat diringkas menjadi dua: tidak merugikan/membahayakan dan tidak membawa pengaruh buruk.
Catat dengan baik bahwa Al-Ghazali menulis kriteria di atas dalam urutan hierarkis. Kriteria satu lebih urgen daripada kriteria selanjutnya, dan seterusnya. Al-Ghazali mendahulukan “tidak dungu” dan “tidak tempramental” di atas membawa pengaruh kesalehan, zuhud dan terbuka alias jujur. Ia menasihati kita untuk fokus pada kriteria “tidak membawa bahaya” dan “tidak membawa pengaruh buruk” terlebih dahulu. Urusan mencari teman yang baik menjadi urusan selanjutnya.
“Ia menasihati kita untuk fokus pada kriteria “tidak membawa bahaya” dan “tidak membawa pengaruh buruk” terlebih dahulu. Urusan mencari teman yang baik menjadi urusan selanjutnya.”
Kalimat “mencari teman” memiliki nuansa yang terkesan naif bagiku. Pikiranku sejenak akan menyemburkan komentar “sejak kapan aku mencari teman?”. “Dapat teman tuh terjadi begitu saja“. “Teman sudah sepaket dengan lingkungan hidupku”. Pikiran semacam ini kukira wajar. Perlu dipahami bahwa Al-Ghazali tentu tidak akan bersusah payah menulis sesuatu yang sudah sebagaimana adanya. Ia menulis nasihat ini untuk menganjurkan kebaikan, bukan memberi afirmasi kosong terhadap hal-hal yang “sudah biasa”.
Kalimat terakhir dari paragraf di atas mengantarku kepada kesimpulan sekaligus penutup untuk tulisan ini:
“Hal baik tidak datang tanpa renungan dan pilihan-pilihan. Tidak lah aneh apabila kita terus menerus merasa kalah dan salah dalam satu hal ketika kita tidak pernah memikirkannya.”







