Beranda / Seni dan Sastra / Amarah Lampu

Amarah Lampu

Lampu itu selalu menyala setiap malam, bahkan ketika Dara tidak menginginkannya. Cahaya kekuningannya memantul lemah ke dinding kamar, menampilkan bayang-bayang yang bergerak seperti sedang bernafas.

Lampu itu adalah benda biasa, murah, dan hampir mati. Tetapi bagi Dara, lampu itu adalah kutukan saksi bisu dari sesuatu yang tidak pernah sanggup ia maafkan.

Lampu itu adalah warisan terakhir dari Lira. Adik yang ia cintai, adik yang ia lindungi… dan adik yang tak sempat ia selamatkan.

Sejak Lira pergi, lampu itu tidak pernah benar-benar mati. Bohlamnya meredup, berkedip, tetapi tidak pernah putus. Dan setiap malam ketika Dara hendak tidur, lampu itu akan menyala lebih terang dari biasanya, seakan menuntut untuk dilihat.

Dara benci melihatnya. Ia benci cahaya itu, benci suara dengung kecilnya, benci caranya membuat ruangan tidak pernah benar-benar gelap.

Karena gelap adalah satu-satunya tempat dia bisa lupa.

Lira selalu mencintai cahaya. Ia percaya bahwa lampu bukan sekadar benda. Menurutnya, lampu adalah pengingat bahwa bahkan kegelapan pun ingin diterangi, meski hanya sedikit.

“Cahaya itu bukan untuk mengusir gelap,” kata Lira suatu malam, ketika keduanya masih merebah di lantai kamar sambil membaca buku-buku usang.

“Cahaya itu biar kita ingat bahwa kita bisa memilih untuk tidak tenggelam.”

Namun Lira adalah gadis yang terlalu terang untuk dunia yang terlalu gelap.

Hingga suatu malam, dunia itu merenggutnya.

Ucapan terakhir Lira sebelum pergi memenuhi kepala Dara setiap kali lampu itu menyala. Kata yang sangat sederhana, sangat biasa, tetapi kini menjadi pisau.

“Kak… jangan pergi dulu, ya.”

Dara pergi. Hanya lima menit. Keluar rumah untuk membeli roti. Lima menit yang menghancurkan segalanya.

Ketika ia kembali, Lira sudah tidak bernapas.

Dan sejak saat itu, Dara percaya satu hal Lira mati karena ia meninggalkan cahaya itu sendirian.

 

Malam itu, lampu kembali berkedip. Dara menatapnya dengan wajah kusut dan mata yang menghitam karena kurang tidur. “Berhenti,” gumamnya.

“Tolong berhenti.”

Lampu tidak memedulikannya.

Goyangan kecil dari cahaya itu membuat bayangan Lira muncul samar di dinding ram-but lutungnya, tubuh kecilnya yang dulu suka melompat-lompat, dan sorot matanya yang selalu tampak bahagia meski dunia tidak pernah bersikap lembut padanya.

Bayangan itu membuat napas Dara tercekat.

“Lira…” suaranya bergetar.

Ia tahu itu bukan Lira. Ia tahu itu hanya pantulan kebodohan otaknya yang dipenuhi trauma. Tetapi apa pun itu, ia tidak sanggup memalingkan wajah.

Cahaya lampu meredup. Ruangan seolah menghela napas panjang. Lalu, perlahan, cahaya itu mulai membentuk siluet yang lebih jelas. Lira kecil, duduk di sudut kamar, memeluk lutut, menatapnya.

Dara menutup mata kuat-kuat, memaksa dirinya untuk tidak melihat. Tetapi cahaya semakin terang.

Seperti Lira sedang memanggilnya pulang.

Semenjak Lira pergi, Dara kehilangan arah. Ia berhenti kuliah. Berhenti berbicara dengan teman-temannya. Berhenti membuka jendela kamar. Tidak ada ruang bagi dunia luar semua yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang menempel seperti noda tua.

Ia menghabiskan hari-hari dengan tidur, menatap dinding, atau menangisi hal-hal kecil yang dulu tidak punya arti. Dan setiap malam, lampu itu akan menemaninya entah sebagai pelindung, atau sebagai kutukan.

Kadang, lampu itu berkedip dengan pola tertentu, seolah berbicara. Kadang, lampu itu bersinar begitu terang hingga menyakitkan, memaksa Dara untuk membuka mata. Kadang, lampu itu meredup seperti napas terakhir seseorang.

Dara membiarkannya.

Mungkin karena di dalam hatinya, ia tahu lampu itu satu-satunya hal yang ia punya.

 

Suatu malam yang sunyi, lampu tiba-tiba mati.

Dara terbangun dari tidurnya, panik. Tenggorokannya kering. Dadanya sesak. Ia menatap ke langit-langit, berharap sedikit cahaya akan muncul. Namun tidak ada apa-apa.

Gelap total.

Dalam gelap itulah suara kecil terdengar. Suara yang hampir ia lupakan, tetapi turun dari ingatan seperti hujan yang menimpa tanah kering.

“Kak…”

Dara membeku. Tidak, itu tidak mungkin.

“Kak… kamu dengar aku?”

Suara itu seperti berasal dari dalam kepalanya. Tapi jernih. Terlalu jernih.

“Lira?” bisiknya.

Gelap tidak menjawab.

Namun tiba-tiba, lampu itu menyala kembali bukan dengan kedipan kecil, melainkan terang, menyilaukan, penuh amarah. Cahaya itu menghantam dinding, lantai, wajah Dara, membanjiri ruangan dengan keputusasaan yang memantul-mantul.

Dara menjerit.

Lampu itu terus menyala, lebih terang, lebih menyakitkan. Retakan samar muncul di sekitar bohlam, seperti urat pada kulit makhluk hidup.

Cahaya itu akhirnya redup perlahan, menyisakan kesejukan aneh. Dan pada saat itu, Dara melihatnya.

Lira berdiri di bawah lampu. Wajahnya tidak seputih dulu. Ada warna kelabu di pipinya, seperti bayangan. Tetapi senyum yang sangat ia kenal terukir di wajah kecilnya.

“Kakak kira aku pergi jauh?” tanya Lira pelan.

Dara lemas. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Aku… aku minta maaf,” katanya.

“Lira… aku minta maaf karena meninggalkanmu.”

Lira menggeleng.

“Kakak Cuma manusia. Manusia tidak bisa selalu ada. Bukan itu yang membuatku pergi.”

Dara menghirup napas berat. Kata-kata itu menusuk sekaligus menyembuhkan.

“Kalau begitu… kenapa lampu ini tidak pernah mati?” tanya Dara lirih.

Lira mendekat. Tangannya yang kecil terulur ke lampu, tetapi tidak menyentuhnya.

“Karena kakak belum melepaskanku.”

Cahaya lampu meredup hingga menjadi hanya sebuah titik kecil.

“Lira… bagaimana aku melepaskanmu?” Dara bertanya dengan suara pecah.

“Kakak harus berhenti menyalahkan diri sendiri,” jawab Lira.

“Aku tidak pernah marah. Tidak pernah salahkan Kakak. Aku Cuma… ingin Kakak hidup.”

Dara menatap lampu itu, untuk pertama kalinya bukan dengan marah, tapi dengan sedih yang hangat.

Cahaya kecil di dalam bohlam bergetar pelan, seperti detak jantung yang akan berhenti.

“Kalo aku pergi,” kata Lira sambil tersenyum lirih, “lampunya juga akan ikut.”

Dara menutup wajahnya. Tubuhnya gemetar. “Jangan pergi…”

“Aku tidak benar-benar pergi, Kak. Aku Cuma berhenti menjadi beban.”

Cahaya itu menyala sekali, singkat, lembut lalu padam sepenuhnya.

Dan bersamaan dengan itu, Lira menghilang.

 

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Dara merasakan gelap yang tidak menakutkan. Gelap yang bukan hukuman. Gelap yang akhirnya memberi ruang untuk bernafas.

Ia memeluk dirinya sendiri, menatap bohlam yang kini mati. Lampu itu bukan lagi amarah. Kini ia hanya benda mati. Benda yang sedang beristirahat.

Seperti Lira.

Dan Dara tahu, meski cahaya itu padam, Lira tidak akan kembali menjadi bayangan yang menyakitkan.

Ia akhirnya bebas.

 

Oleh : Firma Rahma Putri Amalia. Lebih jauh bisa kunjungi @firma.amalia_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *