Beranda / Esai / Opini / Kyai Penjaga Hutan

Kyai Penjaga Hutan

Kyai

“Semua yang ada di langit dan bumi membaca tasbih kepada Allah… Lha sama-sama baca tasbih kok tidak mau saling merawat.”

Djianc*k, NU sekarang sudah tidak kayak dulu lagi. Dulu, NU ngopeni santri, ngopeni masyarakat, sekarang malah rebutan proyeknya pemerintah. Opo meneh, banyak gus-gusan seng kemaki, ora iso ngaji, tapi wes tampil nang panggung gedhe, njilat rono-rene. Terus, masyarakat mung dijejali dogma-dogma berkah, barkui dimanfaatke. Terus, akeh kyai karo gus-gusan seng sang*an, ngelecehke santri, padahal mereka-mereka kui seng ngajari agama: ndalil rono-rene perkara halal-haram. Masalahe urung rampung, malah melu-melu ngurusi tambang. Padahal, NU kui lambange bumi, haruse njaga bumi, harus vokal karo gerakan-gerakan njaga alam. Duh, py tho kih,” keluhan seorang teman Jawa perkotaan kepada saya.

Dia begitu kecewa dengan NU, dengan kyai. Wajar saja. Sebab, kurang lebih setahun terakhir ini, dan sangat ramai diperbincangkan di media sosial, NU kerap blunder, bahkan dihujat, karena persoalan menerima konsesi tambang dari pemerintah hingga “politik kotor kyai” ketika pemilu, termasuk oknum-oknum dari mereka yang melakukan korupsi—sangat tidak mencerminkan labelling mereka sebagai orang yang dianggap dekat dengan Tuhan, dekat dengan Al-Quran, yang kerap diposisikan sebagai rule model bagi umat. Mungkin, di bagian ini, saya cenderung menghakimi sih. Sebab, jangan-jangan, saya yang terlalu berharap kepada mereka sebagai “manusia setengah dewa” yang cenderung bisa meminimalisir dosa. Padahal, mereka juga punya nafsu—normal-normal saja sebagaimana manusia lainnya.

Namun, tebakan saya, dan mungkin juga orang-orang lainnya, kemarahan saya dan orang-orang lain itu muncul ketika kyai dan gus-gusan menggunakan instrumen agama—yang memang benar-benar bersifat suci dan sakral, dan menjadi milik bersama para pemeluk agama itu—yang digunakan untuk kepentingan egoisme pribadi.

Analoginya, mungkin saya tidak akan terlalu marah ketika ada orang bejat amoral yang mencuri barang orang lain (meski demikian, hukum harus tetap berjalan). Namun, saya akan sangat marah, misalnya, ketika ada kyai atau gus-gusan, atau ustadz-ustadz seleb yang kerap “mengisi pengajian melulu soal cinta”, dengan dalih amal jariah dan untuk kebutuhan dakwah, lalu meminta sumbangan infak kepada umat, namun justru uang tersebut digunakan untuk membeli mobil Pajero atau Civic Turbo. Rasa-rasanya, hati nian terhentak ketika “Yang Sakral” digunakan secara amoral untuk “yang profan”.

Kemudian, nada-nada negatif kaum pesantren itu juga semakin tebal ketika ada beberapa kader NU yang “berjejaring” ke Israel. Juga, dengan ditangkapnya kyai-kyai yang terbukti melakukan pelecehan seksual. Juga, dengan gus-gus muda yang membuka pengajian, dengan dihadiri ribuan jamaah karena viral di Tiktok, namun secara kapasitas keilmuan dan tata adab, dianggap jauh dari pantas untuk mendapatkan label penghormatan sebagai “pemuka agama Islam”.

Atas dasar ini pula, santri-santri NU dianggap sebagai budak feodalisme, karena mereka mau-mau saja menjadi “pelayan kyai/gus”, hanya karena alasan berkah. Sebaliknya, kata banyak netizen, atas dasar ketawadhuan itu, justru para santri banyak yang “dimanfaatkan semena-mena” oleh orang-orang yang mereka anggap sebagai “guru rohani” itu.

Masih belum usai, kenegatifan kaum Islam tradisional ini diramaikan pula dengan robohnya salah satu pesantren di Jawa Timur hingga puluhan santri menjadi korban dan wafat. Namun, lagi-lagi, respons kyainya begitu fatalistik—seakan-akan bahwa semua itu karena takdir Tuhan, bukan karena kelalaian dalam arsitektur gedung yang asal-asalan. Ini sangat kontras dengan pandangan ilmiah. Pantas saja, banyak netizen menghujatnya.

Saya pribadi membenarkan demikian. Banyak kyai-kyai dan gus-gus, meski ini opini pribadi saja, sudah lepas dari ciri khas nubuat. Benar, ulama adalah pewaris Nabi. Tentunya, minimalnya, ulama mesti cenderung mengusahakan untuk menuju empat sifat Nabi Saw., yakni jujur, amanah, cerdas, dan menyampaikan (kebenaran).

Yang paling ingin saya soroti, yakni perihal sifat cerdas. Jelas sudah, ini berkaitan dengan ilmu. Teruntuk ini, saya melihat banyak kyai, gus, dan pesantren-pesantrennya yang terjebak dengan ortodoksi fiqh lewat “pengultusan kitab kuning”. Ini tidak salah. Namun, jika yang digunakan hanya satu domain referensi, maka hanya menghadirkan ketidakberimbangan ilmu, bahkan mungkin dianggap tidak rasional. Makanya wajar, jika para santri (salaf) kerap terdiam jika diajak membahas politik, filsafat, demokrasi, kebudayaan, lebih-lebih perkara sains.

Jadi, imaji-imaji saya perihal bangkitnya masa keemasan Islam di Indonesia, pada akhirnya, sudah saya kubur dalam-dalam. Rasa-rasanya, tidak mungkin itu bisa tercipta—dengan melihat kondisi santri (yang menjadi motorik utama pembentukan peradaban Islam) yang hanya terkungkung dalam ortodoksi kitab kuning saja. Apalagi, beberapa dari mereka (atau bahkan banyak) mengharamkan filsafat. Padahal, filsafat menempati peran sentral dalam menghadirkan pola pikir logis sistematis—kunci dalam memahami berbagai sumber ilmu.

Kembali ke bahasan awal, saya dan teman saya akhirnya diskusi panjang. Lalu, akhirnya, sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat NU ini beragam, dan bahkan begitu banyak jenisnya. Sehingga, dengan menggeneralisir beberapa kasus untuk menetapkan keburukan kepada semua anggota jam’iyah adalah suatu sikap yang kurang bijak dan fallacy secara logika.

Kekecewaan teman saya itu akhirnya sedikit berkurang setelah saya ceritakan kunjungan yang pernah saya lakukan ke salah satu kyai yang memiliki gerakan ekologi dan mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Setidaknya, walau sedikit, masih ada tokoh-tokoh pesantren yang masih “memancarkan” aura nubuat kenabian.

Dan, walau hanya sekali bertemu, saya pribadi tetap kagum dan takjub, dan menjadi pengalaman “rohani” yang tak akan pernah terlupakan. Dan, hingga hari ini, pesan-pesan yang dulu beliau sampaikan, saya berusaha untuk terus pegang. Kepada beliau, semoga Allah Swt. selalu merahmati dan memberkahi, semoga pancaran berkahnya bisa meluber ke santri-santri dan masyarakat.

Saya tidak memiliki ingatan yang tajam. Dan, audio rekaman saya yang digunakan saat kunjungan itu juga tidak cukup jelas. Namun, paparan berikut ini kurang lebih akan menggambarkan obrolan saya dengan kyai sepuh nan adiluhung itu. Saya mohon maklum apabila ada hal-hal yang kurang jelas.

“Bahwa tujuan merawat dan menyejahterakan bumi ini tidak hanya merawat ekosistem alam saja, lebih dari itu, adalah juga wajib menyejahterakan manusia-manusianya.”

Berikut ceritanya. Simak baik-baik!!!

***

*(Disclaimer: saya sengaja tidak memberikan data-data ilmiah perihal ekologi dan pengetahuan tentang peristiwa alam berikut fungsi-fungsi hutan. Data yang ada dalam cerita berikut ini merupakan penjelasan dari Sang Kyai yang coba saya bahasakan ulang.)

Suatu hari di pertengahan tahun 2023, kami (saya dan dua rekan kampus saya) melakukan kunjungan ke beberapa pesantren. Usai melawat ke pesantren di Lumajang, kami pun mengarah ke barat menuju Kota Bumi Wali: Tuban. Sampai di penginapan sore hari, setelah beristirahat dua jam, bergegaslah kami untuk ziarah ke makam wali yang ada di daerah itu. Baru pada esoknya, kami berangkat menuju pesantren yang hendak dikunjungi, yang konon memiliki gerakan ekologi yang hebat. Semula berada di pusat Kota Tuban, kami lalu bergerak ke arah selatan, sekira butuh satu jam untuk sampai ke pesantren tujuan utama kunjungan ini.

Setelah keluar dari jalan utama dan menjajaki jalanan yang cukup sempit dengan mobil, kami lalu menaiki tebing yang cukup tinggi, meski akses jalannya sudah mulus. Sekira pukul 9 pagi, sampailah di puncak bukit dengan rumah-rumah berdiri kokoh, ada yang bertembok bata dan ada pula yang menggunakan kayu-kayu keras yang berdesain rapi. Tampak pula di kanan-kiri rumah-rumah itu ternak-ternak: ada sapi, ayam, hingga unggas-unggas lain. Memerhatikan rupa fisik pemukimannya, jelas bahwa itu merupakan kampung pedesaan agraris.

Akhirnya, kami sampai di tengah-tengah pemukiman dengan menampak bangunan megah dengan campuran tembok bata dan kayu jati yang lebar-lebar. Ya, ini adalah Pondok Pesantren Walisongo, tujuan utama kami. Pesantren dengan bangunan bernuansa joglo itu beralamat lengkap di Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kec. Singgahan, Kab. Tuban. Semilir angin yang kami rasakan ketika duduk di bangunan samping pesantren, sembari menatap daratan bawah dari ketinggian bukit, memperlihatkan bahwa pesantren ini dikelilingi oleh hutan jati. Memang, tekstur tanah yang kering nan berkapur di Tuban ini menjadi lahan subur bagi pohon jati.

Usai melihat-lihat aula pesantren dengan sederet bangku berbahan kayu jati tebal dan lebar, dengan tembok-tembok bergambarkan lambang NU dan lukisan kyai-kyai tersohor Jawa, kami menuju masjid pesantren yang juga difungsikan sebagai masjid masyarakat. Kami terheran. Sebab, di tengah bangunan masjid, ada kayu jati yang menjadi penyangga utama, dengan diameter lebih dari satu meter, berdiri tegak-kukuh, yang rasa-rasanya tidak mungkin bisa diberdirikan tanpa alat berat modern. Padahal, masjid itu didirikan tahun 80-an, yang waktu itu tidak ada alat berat yang bisa masuk ke Gomang—akses jalannya belum memadai.

Melihat keseluruhan bangunan pesantren yang tidak berpagar dan menyatu dengan pemukiman penduduk, kami yakin, Pesantren Walisongo ini guyub rukun tanpa sekat dengan masyarakat—berbeda dengan beberapa pesantren yang berpagar tinggi, yang semakin eksklusif dari masyarakat sekitar.

Tak selang lama, ada salah satu warga yang menemui kami, menyapa dan bertanya, “Kulo nuwun, mau bertemu dengan siapa njeh?” “Pengasuh Pesantren Walisongo,” jawab saya. “Oh, Kyai Noer Nasroh to. Mari-mari, saya antarkan ke ndalem salah satu putra beliau.”

Setelah berbincang agak lama dengan putra beliau, KH Noer Nasroh pun menghampiri kami. Ia mengajak berbicara di ruang kerjanya yang penuh buku-buku, kitab-kitab, dan koleksi-koleksi keris beserta pusaka-pusaka khas Keraton Jawa lainnya yang dimiliki. Juga, ada beberapa lukisan mengenai tokoh-tokoh keraton. Kami juga memandang salah satu foto beliau bertulis profesor—menandakan bahwa beliau merupakan akademisi ulung, dan beliau mendapatkan gelar profesor dalam bidang manajemen pendidikan—serta gelar “Kanjeng Pangeran Patih” dan “hadiningrat”, yang kemudian mengafirmasi bahwa beliau berdarah Keraton Surakarta. Ini sekaligus menjawab bahwa KH Noer Nasroh memang datang dan berdakwah di Gomang, sementara rumah asalnya ada di Surakarta.

Dan, sebagaimana tradisi kyai-kyai dulu, pemilihan tempat dakwah seorang santri atas dasar perintah dari guru. Demikian, kira-kira pada tahun 1977, KH Noer Nasroh disuruh oleh gurunya, Kyai Sarbini, untuk berdakwah di Gomang yang waktu itu dihuni oleh masyarakat yang memeluk kepercayaan lokal.

“Alam semesta diperlakukan sebagai sesama makhluk Tuhan, sehingga ia memiliki hak-hak yang mesti manusia penuhi.”

Ibadah Menjaga Hutan

Salah satu tujuan kunjungan kami ialah ingin mengulik soal gerakan ekologi pesantren yang dilakukan KH Noer Nasroh. Dengan suara yang lembut dan karismatik, beliau fasih menjelaskan ekosistem alam di Tuban, bahwa daerah yang ditinggalinya ini berada di pinggir laut dengan tanah kapur yang bersifat kering. Menurutnya, geografis tersebut sangat tepat untuk ditumbuhi pohon jati: dengan karakter pohon jati yang tidak mudah mati dan cocok di lahan kering dan bebatuan kapur.

Adanya hutan jati di pesisir Tuban ini, kata KH Noer Nasroh, mampu menghalau dan memecah arus besar angin dari laut sehingga tidak menimbulkan bencana. Bahwa pepohonan itu mampu meredam gelombang petir sehingga tidak merusak alat-alat elektronik yang dimiliki masyarakat. Bahwa pepohonan itu mampu menyimpan kandungan air yang banyak. Pepohonan itu juga menjaga struktur tanah agar tidak mudah longsor. Bahwa pepohonan itu mampu menyaring virus-virus yang dibawa angin laut sehingga tidak menjangkiti manusia.

KH Noer Nasroh juga merinci, kayu jati dengan usia 15 tahun kurang lebih akan tumbuh dengan diameter batangnya mencapai 28 cm, dan kurang lebih menghasilkan kayu dengan volume 0,5 m3. Sementara, tanah satu hektar bisa ditanami 800 pohon jati dan menghasilkan kurang lebih 400 m3. Sehingga, jika satu kubiknya berharga 2 juta (harga ini bisa lebih tinggi lagi), maka, selama 15 tahun, satu hektar hutan jati bisa menghasilkan uang 800 juta. Lain hal dari pemanenan kayu jati, di sela-sela pohon mahal itu ditanami berbagai jenis tanaman kebun, seperti jagung, kedelai, hingga tanaman buah seperti nanas, jeruk, mangga, dan lain-lain. Ini menandakan pengolahan hutan jati yang produktif, efisien, dan menghasilkan manfaat ekonomi tanpa merusak alam.

“Ah!” gumam saya, “saya mulai paham, mengapa di garasi pesantren ini tampak mobil-mobil dengan merk mahal, tampak pula HP sang kyai dengan merk mahal pula, dan logis pula bahwa pesantren ini mampu membantu santri-santri dari kalangan ekonomi bawah untuk terus bisa menempuh pendidikan formal dan non-formal yang layak.” Dikonfirmasi, rupanya, KH Noer Nasroh memiliki hutan jati lebih dari 80 hektar.

Di tanya alasan mengapa menjaga hutan, selain menjawab bahwa itu semua untuk menjaga ekosistem, KH Noer Nasroh mengatakan, “Bumi rusak atau tidaknya ini ya karena ulah manusianya sendiri. Kalau manusianya baik, tingkah lakunya baik, maka alam akan baik.” Ia lalu mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

“Semua yang ada di langit dan bumi,” lanjut KH Noer Nasroh, “membaca tasbih kepada Allah. Semua makhluk, manusia, hewan, tumbuhan, tanah, batu, air: semuanya itu membaca tasbih. Lha sama-sama baca tasbih kok tidak mau saling merawat. Ibaratnya, orang yang bersaudara kok mau memutus silaturahmi. Kita merawat alam ini ya sama halnya dengan menyambung persaudaraan dengan saudara kita, sesama makhluknya Gusti Allah.”

“Kanjeng Nabi dawuh, ‘Dunia itu hijau dan indah’. Maka, lambang NU itu hijau dan ada buminya. Yang artinya, NU itu ditugaskan untuk merawat bumi. Hijau juga menjadi warna kesukaan Kanjeng Nabi. Maka, menjaga hutan itu termasuk usaha nyenengke dan nderekke dawuhe Kanjeng Nabi. Hijau itu sumber kemakmuran, maka Allah menjadikan manusia sebagai khalifah yang tugasnya membuat dunia ini agar tetap hijau. Kalau betul manusia ini seorang khalifah, maka harus bisa membuat bumi itu hijau. Kalau sampai tidak bisa membuat bumi itu hijau, maka tidak usah jadi khalifah.”

KH Noer Nasroh kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 30, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

Ide-ide dan praksis yang dilakukan ini membuat kami menyimpulkan bahwa KH Noer Nasroh menerapkan laku suluk atau tradisi rohani dari para wali di Jawa, terutama Walisongo, sebagaimana yang dijelaskan oleh Irfan Afifi dalam bukunya “Saya, Jawa, dan Islam”, bahwa para wali itu mengajarkan kepada penduduk Jawa model Islam yang sufistik, yang melihat semesta sebagai tajalli-tajalli Tuhan. Walhasil, alam semesta diperlakukan sebagai sesama makhluk Tuhan, sehingga ia memiliki hak-hak yang mesti manusia penuhi, tidak hanya manusia saja yang mengambil manfaat darinya.

Meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr, dalam bukunya “An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines”, barangkali corak keislaman dari Walisongo itu termasuk scientia sacra (sains atau pengetahuan yang suci), pengetahuan yang memandang semesta alam sebagai ayat-ayat Tuhan dan menempatkan tujuannya untuk mengenal Allah, sehingga semakin tumbuhlah “rasa” iman dan ketundukan kepada-Nya. Alam kemudian tidak dipandang sebagai entitas yang didominasi dan dieksploitasi, melainkan manusia disuruh oleh Tuhan untuk membuatnya sejahtera: terjaga, terawat, dan tidak rusak. Dan, di balik semesta itu, manusia akan menemukan keagungan Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya.

Inilah pengetahuan yang tidak hanya mengatur hubungan antar manusia saja, tapi juga akhlak manusia terhadap alam: menjadi pagar egoisme manusia agar tidak berbuat zalim kepada alam.

Demikian, KH Noer Nasroh mengidentifikasi diri sebagai Khalifah fil Ard (Wakil Tuhan di bumi). Ia memandang bahwa merawat alam adalah bagian dari kewajiban yang dititahkan Tuhan. Meneruskan tradisi rohani dari guru-guru dan leluhur, ia menjadi penggerak utama dalam pelestarian tradisi suci di masyarakat, seperti sedekah bumi, nyadran, merti dusun, sedekah laut, dan lain-lain, yang menjadi adat-ritual untuk “menyahabatkan” manusia dengan alam di bawah naungan Ilahiah.

Sedekah bumi ini, misalnya, ya sebagai bentuk akhlak kita kepada alam. Ngaturke matur suwun! Kita mengucapkan terima kasih kepada alam karena telah menjadi perantaranya Allah dalam menyediakan kebutuhan hidup kita. Kita memanjatkan rasa syukur kepada Allah karena dianugerahkan alam yang sedemikian baik,” tutur KH Noer Nasroh.

Ide-ide suluk itu tidak hanya dipahami secara dogmatis, namun dikorelasikan dengan pengetahuan tentang ilmu alam. Misalnya, sekali lagi, beliau sangat jeli dan paham bagaimana fungsi ekosistem itu sangat penting dalam kehidupan.

Katanya, “Hutan itu banyak fungsinya. Ia memberikan oksigen. Dari pohon diameter 10 cm, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan oksigen dalam seharinya bagi dua orang. Kalau kita memotong pohon berdiameter 10 cm, maka sama halnya dengan membunuh dua orang. Bahkan, misal ada pohon dengan ranting yang panjangnya 40 cm, maka sudah bisa menyimpan cadangan air 40 liter. Dan, kalau satu hektar ada 800 pohon, maka sudah bisa menyimpan 32.000 liter air. Ini membuat kita tidak mengalami kekeringan. Saya dan orang-orang di sini menjaga pohon itu juga sebagai sedekah sirri.”

Ya…sedekah sirri. Adalah keywords yang juga harus digarisbawahi—sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh KH Noer Nasruh, gerak-gerak perawatan alam ini—karena mengantarkan kebaikan bagi kehidupan yang sedemikian banyaknya, dan juga secara mekanisme alam memiliki butterfly effect yang sangat dahsyat hingga kita akan kesulitan menghitung sedemikian banyaknya kebaikan dan kebergunaan itu—sampai-sampai kita tidak akan menyangka, ternyata efek gerak perawatan alam yang dilakukan itu begitu besar manfaatnya. Dan, pahala ini akan deras mengalir, sampai-sampai orang lain tidak akan tahu kalau kita melakukan amal baik itu, sehingga kemudian disebut sedekah secara sembunyi-sembunyi.

“Kepedulian terhadap hutan tidak serta-merta apatis terhadap kebutuhan masyarakat.”

Membangun Ekonomi Masyarakat

Adalah kegelisahan utama KH Noer Nasroh, ketika awal-awal tinggal di Gomang, melihat bahwa hutan-hutan jati di daerahnya itu akan terus berkurang, entah oleh alih fungsi lahan atau penebangan liar. Parahnya lagi, mungkin karena keterbatasan lapangan kerja, maka sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk mencari uang dengan melakukan penebangan liar dan mencuri kayu-kayu jati. Kata beliau, dulu sering terjadi pembalakan dalam jumlah banyak, kadang sekelompok orang bisa membawa ber-truk-truk kayu jati dalam satu pembalakan. Sudah jelas, mereka hanya menebang saja, tidak mungkin melakukan penanaman ulang, toh itu juga bukan lahan mereka.

Kepedulian terhadap hutan tidak serta-merta apatis terhadap kebutuhan masyarakat. Itulah nalar-nalar khas kyai pembawa pendar-pendar nubuat. Jangan sampai pelarangan terhadap suatu hal bisa menimbulkan dampak serius dan penting dalam hal lainnya. Maka, pembelian 80 hektar lebih hutan jati yang dilakukan KH Noer Nasroh itu adalah taktik jitu agar dirinya bisa leluasa dan memiliki legitimasi hukum yang sah untuk mempertahankan hutan. Sebab, dalam negara yang kocar-kacir hukumnya ini, hutan-hutan adat dan hutan lindung milik negara dengan mudahnya dirubah statusnya dan diberikan hak gunanya ke segelintir elite, entah itu untuk pertambangan, pembukaan sawit, hingga kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan alam dan rakyat. Lalu, bagaimana nasib ekonomi dari masyarakat pembalak liar kayu jati?

Identitas Khalifah fil Ard tidak hanya mengajarkan untuk merawat alam saja, melainkan juga untuk membangun peradaban manusia yang adiluhung nan sejahtera. “Bahwa tujuan merawat dan menyejahterakan bumi ini tidak hanya merawat ekosistem alam saja, lebih dari itu, adalah juga wajib menyejahterakan manusia-manusianya. Sehingga, kalimat tersebut juga bermakna untuk memimpin, mengarahkan, membimbing, hingga membentuk peradaban manusia yang bisa saling menyejahterakan, tidak saling merusak, termasuk terhadap alam. Sebab, dimensi sosial dan dimensi alam ini sama-sama pentingnya dalam kehidupan,” ujar KH Noer Nasroh.

Di tahap ini, pada tahun 82, KH Noer Nasroh membentuk Kelompok Petani Hutan (KPH) yang mayoritas merupakan pembalak liar kayu jati. Mereka diajari cara-cara mengelola dan berkebun yang baik di tanah-tanah milik KH Noer Nasroh. Per satu hektarnya digarap oleh empat orang. Banyak komoditas yang ditanam di sela-sela pohon jati, misalnya pohon jeruk, mangga, nanas, jagung, tanaman perkebunan, dan komoditas lainnya, yang kemudian dijual ke perusahaan, agen, atau mitra-mitra. Mereka juga diajari membuat kerajinan, furniture, dan lain-lainnya yang bernilai ekonomis dari bahan-bahan yang disediakan alam. Dengan ini, kebutuhan ekonomi masyarakat bisa terakomodir tanpa merusak hutan.

Banyak masyarakat yang tergabung dalam KPH ini telah menaik taraf ekonominya, bahkan banyak pula yang sudah mampu berangkat umrah—suatu hal yang cukup mewah bagi Muslim-Muslim pedesaan.

KH Noer Nasroh juga mengajak masyarakat luar untuk mencintai alam dan kepedulian sosial dengan cara-cara yang kreatif. Misalnya, pecinta alam dan pecinta motor maupun mobil offroad, selain melakukan atraksi dan penjelajahan di hutan jati milik beliau, juga diajak melakukan bakti sosial, yakni dengan mengumpulkan uang atau sembako yang dibagikan kepada masyarakat miskin sekitar, serta diajak untuk mencintai alam dengan lebih serius dan konkret.

“Kurikulum Pesantren Walisongo tidak hanya belajar basis etik dan tafaqquh fi ad-din saja, melainkan dikomparasikan dengan pendidikan ekonomi praktis dan aksi nyata merawat hutan.”

Sekolah Kehutanan

“Mengajari dan mendidik orang tua untuk peduli lingkungan itu agak sulit. Maka, saya membentuk lembaga pendidikan, dan di tingkat pendidikan atas, saya membentuk SMK Kehutanan. SMK ini berdiri pada tahun 2006 dengan memadukan kurikulum dari Kementerian Kehutanan dan Perum Perhutani. Ini menjadi wadah bagi santri dan anak-anak daerah sini untuk belajar mengelola hutan dengan baik dan menjadi kader penjaga hutan. Kalau generasi muda sudah digerakkan, maka yang tua-tua dengan sendirinya akan nurut dan tergerak,” tutur KH Noer Nasroh.

SMK Kehutanan adalah bentuk formal dari pendidikan ekonomi yang ekologis. Juga, menjadi wadah pencetak kader-kader penjaga hutan. Sementara, di ranah non-formal, santri-santri juga dilibatkan dalam pengelolaan hutan. Alias, bahwa kurikulum Pesantren Walisongo tidak hanya belajar basis etik dan tafaqquh fi ad-din saja, melainkan dikomparasikan dengan pendidikan ekonomi praktis dan aksi nyata merawat hutan.

Pada akhirnya, yang dapat kami simpulkan, di tengah-tengah zaman edan yang penuh egoisme, apatisme, serta kegilaan politik dan jual agama, Tuhan masih mengirimkan insan-insan yang dengan tulus mengajari iman dengan rasa-rasa yang menenteramkan. Insan-insan ini membawa mata air ilahi yang menyegarkan di tengah-tengah kering kerontang jiwa. Dan, kami merasa, KH Noer Nasroh adalah salah satu insan utusan Tuhan itu. Ia membentuk peradaban umat beriman yang peduli kasih, saling menyejahterakan, dan berperilaku baik kepada alam.

Kami merasa sungkan jika berlama-lama di hadapan kyai sepuh yang penuh kesantunan ini. Kami tahu dari putra beliau, bahwa sebelum menemui kami, KH Noer Nasroh baru saja pulang dari lahan jati miliknya. Ini sudah menjadi rutinitas. Usai mengajar santri dari bakda subuh hingga menjelang jam tujuh, beliau akan ke ladang, ke hutan jati, merawat dan memastikan agar hutan berikut perkebunannya tetap tumbuh kembang dengan baik. Kami juga tahu, usai menemui kami dan menjalankan Salat Dzuhur, beliau masih akan mengajar santri-santri hingga menjelang asar, disusul dengan jadwal berikutnya hingga malam hari.

Maka, pamit undur diri adalah keputusan terbaik—memberi waktu istirahat kepada beliau dan tidak mengganggu jam pendidikan para santri. Sekira pukul 12 lebih sedikit, kami pamit sembari meminta doa agar diberi kebaikan dan keberkahan hidup. Lalu, salah satu santri mengarahkan kami ke ruang makan. Menu cumi kuah dan sambel terasi pedas adalah salah satu hal yang juga tidak terlupakan dari kunjungan kami itu!!!

“Tuhan masih mengirimkan insan-insan yang dengan tulus mengajari iman dengan rasa-rasa yang menenteramkan.”

Tag:

Satu Komentar

  • My spouse and I stumbled over here different website
    and thought I should check things out. I like what I
    see so i am just following you. Look forward to looking into your web page repeatedly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *