Judul Buku : Islam, Sains, dan Muslim
Penulis : Seyyed Hossein Nasr
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Pertama, September 2022
Tebal Buku : 226 halaman
Hari ini, krisis ekologi benar-benar mengkhawatirkan. Krisis tersebut telah mengancam eksistensi kehidupan manusia. Adanya beragam bencana alam: lapisan ozon menipis, udara semakin panas, es di kutub semakin mencair, hingga tanah-tanah yang dulunya subur berubah menjadi tandus, menyebabkan ekosistem alam tidak lagi seimbang.
Semua kerusakan lingkungan tersebut, oleh Seyyed Hossein Nasr disebut sebagai akibat dari renaisans Eropa. Masa pencerahan itu menghasilkan beragam cabang ilmu dan filsafat yang positivistik, yang pada penerapannya menolak semua hal yang dianggap bertentangan dengan nalar ilmiah. Alhasil, metodologi ini menjadikan akal manusia sebagai acuan utama.
Di saat yang sama, pengagungan terhadap rasio manusia pelan demi pelan memudarkan nilai-nilai yang agama kandung. Agama tidak dipercayai lagi karena diklaim turun dari Tuhan, yang Tuhan sendiri tidak dapat dilihat oleh manusia-manusia modern itu.
Jadilah manusia sebagai tolak ukur dari segala hal. Paradigma ini telah berhasil mengubah pandangan tentang segala sesuatu yang mulanya bersifat teomorfik beralih ke antropomorfik atau antroposentris.
Karena manusia menjadi pusat dari semesta, maka alam dinilai sebatas material yang hanya dapat diambil manfaatnya. Alam tidak lagi dipandang sebagai sesama makhluk yang wajib dihormati. Pemisahan itu kian mencerabut tugas manusia yang seharusnya menjadi penjaga alam, berubah menjadi makhluk yang menguasai serta mengeksploitasi.
Ilmu-ilmu hasil produk renaisans Eropa ingin mendominasi dan memaksa alam untuk mengungkapkan rahasia-rahasia yang dikandungnya bukan demi kemuliaan Tuhan, melainkan demi mencapai kekuasaan dan kekayaan duniawi. Jatuhnya, manusia kemudian ambisius menciptakan bermacam teknologi baru tanpa menimbang efek-efek negatif yang bakal diciptakan.
Melihat hal itu, Nasr dengan lantang mengatakan bahwa semua problem ekologi yang terjadi di abad modern ini karena manusia mengalami krisis spiritual. Manusia sudah meninggalkan ajaran-ajaran suci dari agama.
Ia lalu mencontohkan, dalam Islam misalnya, begitu banyak ajaran yang menegaskan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan yang harus dihormati—jangan dirusak. Seperti dalam Surah Al-Hasr ayat 24, Tuhan menjadikan entitas kosmos sebagai saksi, dan menegaskan bahwa mereka juga memuliakan pencipta-Nya, yusabbihu ma fissamawati wal ‘ard, yang artinya, segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuliakan Dia (Tuhan).
Jika demikian, maka melakukan perusakan terhadap alam, termasuk beragam spesies yang ada di dalamnya, sama saja telah melenyapkan lantunan tasbih kepada Tuhan yang didendangkan makhluk-makhluk itu.
Selain Al-Quran, Nabi Muhammad SAW menyuruh kepada umatnya untuk selalu menanam bibit tumbuhan meski kiamat akan datang. Pun dengan ajaran agar tidak berbuat rakus dan serakah dalam mengambil manfaat dari alam—selalu menjaga dan merawatnya.
Term-term di atas, Nasr sebut sebagai tugas manusia selaku Khalifah fi Al’Ard—Wakil Tuhan di bumi. Khalifah dalam konteks itu menjadikan manusia sebagai wakil Tuhan untuk melindungi, mengatur, menyejahterakan, serta menjaga ciptaan-Nya yang ada di bumi.
Istilah Khalifah fi Al-Ard berada dalam satu ayat (Al-Baqarah ayat 30) dengan kalimat mufsiduna fi al-ard—yang dimaknai sebagai perusak bumi. Yang terakhir itu merupakan lawan dari kata menjaga dan merawat, sehingga jika manusia tidak bisa memenuhi dalam aspek-aspek perawatan bumi, maka tidak berhak menyandang gelar Khalifah fi Al-Ard.
Atau makna lainnya, manusia mencoba untuk mengambilalih otoritas Tuhan. Padahal, yang hanya berhak berbuat kerusakan hanyalah Tuhan karena Dia sendiri yang mencipta dan memiliki alam semesta ini. Tuhan akan menghancurkan alam semesta secara keseluruhan di Yaumus Sa’ah (Hari Kehancuran/Kiamat). Wallahu a’alam.
Telah dimuat di koran Analisa.









